Heboh Kampus Udayana Bali, Mahasiswa Bunuh Diri Malah Terima Bullying Kematian dari Rekannya

Universitas Udayana mengalami duka mendalam, seorang mahasiswa Fakultas Sosiologi TAS (22) ditemukan terbaring di halaman depan Gedung FISIP.

Devira Prastiwi
Oleh Devira Prastiwi - Reporter
Heboh Kampus Udayana Bali, Mahasiswa Bunuh Diri Malah Terima Bullying Kematian dari Rekannya
Ilustrasi jenazah. (© 2025 Liputan6.com)

Universitas Udayana (Unud) mengalami kehilangan besar setelah seorang mahasiswa Fakultas Sosiologi, yang dikenal dengan inisial TAS (22), ditemukan terjatuh di halaman depan Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) pada Rabu, 15 Oktober 2025

. Mahasiswa yang berasal dari Cimahi, Jawa Barat ini sempat dilarikan ke RSUP Prof Ngoerah Denpasar, Bali, namun sayangnya nyawanya tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 13.03 Wita.

Kepala Humas Polresta Denpasar, Kompol I Ketut Sukadi, menjelaskan bahwa insiden ini terjadi sekitar pukul 09.00 Wita di halaman depan koridor FISIP salah satu universitas di Denpasar.

"Benar, korban seorang mahasiswa Unud jatuh dari lantai empat Gedung FISIP. Korban sempat dibawa ke RSUP Prof. Ngoerah, namun kemudian dinyatakan meninggal dunia," ungkap Sukadi pada Kamis, 16 Oktober 2025.

Ia juga menambahkan bahwa menurut keterangan saksi, almarhum terlihat berada di lantai empat sebelum terjatuh.

Salah satu saksi, NKGA, mengungkapkan bahwa TAS terlihat datang dari arah lift dengan ekspresi panik, lalu duduk di kursi panjang dekat ruang kelas. Tak lama setelah itu, ia tidak terlihat lagi di tempat semula.

"Saksi mengaku sempat melihat sepatu korban tertinggal di tempat duduk, dan beberapa saat kemudian diketahui ada seseorang jatuh di halaman kampus," jelas Sukadi.

Beberapa hari setelah kejadian tersebut, tangkapan layar percakapan grup mahasiswa Unud beredar luas di media sosial, di mana beberapa mahasiswa menuliskan komentar yang dianggap tidak pantas dan menunjukkan kurangnya empati terhadap korban.

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Perencanaan serta Plt Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Informasi FISIP Unud, I Made Anom Wiranata, memberikan tanggapan terkait situasi ini. Ia menyatakan bahwa fakultas telah mengambil langkah untuk memberikan sanksi akademik kepada mahasiswa yang diduga terlibat dalam komentar tersebut.

"Tadi saya sudah sampaikan kepada kaprodi. Saya akan menulis surat kepada yang bersangkutan agar diberikan sanksi pengurangan nilai softskill dan itu hanya terbatas pada satu semester," kata Anom. Dalam rangka mengenang kepergian TAS, Himpunan Mahasiswa (HIMA) Sosiologi Unud Bali juga mengadakan renungan malam pada Jumat, 17 Oktober 2025, di depan Gedung FISIP Sudirman, Denpasar.

Berikut adalah beberapa fakta terkait mahasiswa Universitas Udayana Bali yang meninggal dunia, yang dihimpun oleh Tim News Liputan6.com:

7 Fakta Terkait Mahasiswa Universitas Udayana Tewas Usai Jatuh dari Gedung FISIP
Ilustrasi jenazah. © 2025 Liputan6.com

Kasi Humas Polresta Denpasar, Kompol I Ketut Sukadi, mengungkapkan bahwa seorang mahasiswa fakultas sosiologi yang berinisial TAS (22) ditemukan tergeletak di halaman depan Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) pada pukul 09.00 Wita, Rabu, 15 Oktober 2025.

"Benar, korban seorang mahasiswa Unud jatuh dari lantai empat Gedung FISIP. Korban sempat dibawa ke RSUP Prof. Ngoerah, namun kemudian dinyatakan meninggal dunia," jelas Sukadi.

Menurut keterangan para saksi, almarhum terlihat berada di lantai empat sebelum terjatuh. Salah satu saksi, NKGA, menceritakan bahwa TAS datang dari arah lift dengan ekspresi panik dan kemudian duduk di kursi panjang dekat ruang kelas. Tidak lama setelah itu, ia tidak lagi terlihat di tempatnya semula.

"Saksi mengaku sempat melihat sepatu korban tertinggal di tempat duduk, dan beberapa saat kemudian diketahui ada seseorang jatuh di halaman kampus," tambah Sukadi.

Saksi lain, I MAW, yang merupakan staf kampus, menyatakan bahwa ia mendengar suara keras dari arah halaman depan. Ia bersama mahasiswa lain dan petugas keamanan segera mengevakuasi TAS menggunakan kendaraan dinas kampus menuju rumah sakit.

Dari hasil pemeriksaan dokter di IGD RSUP Prof. Ngoerah, TAS mengalami luka serius di beberapa bagian tubuh. "Korban mengalami patah pada tulang pinggul kiri dan kanan, patah tulang lengan bagian atas, serta pendarahan organ dalam. Saat tiba di rumah sakit, korban masih sadar, tetapi kondisinya terus menurun hingga dinyatakan meninggal dunia," ungkap Sukadi.

Pihak kepolisian saat ini masih menyelidiki penyebab pasti jatuhnya mahasiswa tersebut, apakah itu murni kecelakaan atau ada unsur lain yang terlibat. Namun, keluarga korban menyatakan telah mengikhlaskan kepergian TAS dan tidak berniat untuk melaporkan kejadian ini secara hukum.

"Keluarga sudah membuat surat pernyataan resmi untuk mengikhlaskan kepergian korban. Dari keterangan ibu korban, beberapa bulan terakhir memang ada perubahan perilaku pada anaknya," tutup Sukadi.

7 Fakta Terkait Mahasiswa Universitas Udayana Tewas Usai Jatuh dari Gedung FISIP
Ilustrasi jenazah. © 2025 Liputan6.com

Universitas Udayana (Unud) diliputi suasana duka setelah seorang mahasiswa Fakultas Sosiologi berinisial TAS (22) ditemukan tergeletak di halaman depan Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) pada Rabu, 15 Oktober 2025. Mahasiswa yang berasal dari Cimahi, Jawa Barat, itu sempat dilarikan ke RSUP Prof Ngoerah Denpasar, tetapi nyawanya tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 13.03 Wita.

Beberapa hari setelah kejadian tragis ini, percakapan grup mahasiswa Unud yang berisi tangkapan layar mulai beredar luas di media sosial. Dalam tangkapan layar tersebut, tampak beberapa mahasiswa menuliskan komentar yang dianggap tidak pantas serta menunjukkan kurangnya empati terhadap korban.

I Made Anom Wiranata, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Perencanaan sekaligus Plt Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Informasi FISIP Unud, menyatakan bahwa fakultas telah mengambil langkah dengan memberikan sanksi akademik kepada mahasiswa yang diduga terlibat.

“Tadi saya sudah sampaikan kepada kaprodi. Saya akan menulis surat kepada yang bersangkutan agar diberikan sanksi pengurangan nilai softskill dan itu hanya terbatas pada satu semester,” ungkap Anom pada Kamis (16/10).

Ia juga menambahkan bahwa sanksi tersebut disertai kewajiban untuk membuat surat pernyataan dan video klarifikasi permintaan maaf. “Membuat surat pernyataan, mengakui itu. Karena buktinya terlalu otentik ada screenshot-nya. Untuk memperbaiki situasi,” jelas Anom lebih lanjut.

Menurut Anom, sanksi ini merupakan langkah pembinaan agar mahasiswa lebih memahami etika komunikasi di ruang publik.

“Sanksi ini bukanlah ekspresi kebencian kami sebagai seorang pimpinan. Kami ini seorang guru, tugasnya mendidik,” tegasnya. Dalam kesempatan yang sama, Anom juga mengungkapkan bahwa almarhum TAS memiliki riwayat gangguan kesehatan mental sejak SMP dan telah mendapatkan penanganan psikologis.

“Menurut penuturan ibunya, almarhum TAS memiliki masalah kesehatan mental sejak SMP dan sudah mendapatkan penanganan psikologis dari konselor, ada terapinya,” kata Anom.

“Lanjut sampai dengan SMA, hanya saja yang bersangkutan (TAS) menolak untuk mendapat terapi lanjutan, karena tidak mengetahui penyebabnya, tapi itu yang terjadi,” jelasnya.

7 Fakta Terkait Mahasiswa Universitas Udayana Tewas Usai Jatuh dari Gedung FISIP
Ilustrasi jenazah. © 2025 Liputan6.com

Beberapa video muncul yang menampilkan sejumlah mahasiswa Universitas Udayana yang meminta maaf setelah memberikan komentar sinis mengenai kematian mahasiswa Sosiologi bernama TAS (22) di aplikasi percakapan. TAS ditemukan meninggal dunia setelah terjatuh dari lantai dua Gedung Fisip.

Keenam mahasiswa yang terlibat dalam insiden ini adalah Leonardo Jonathan Handika Putra (Wakil Ketua BEM Fakultas Kelautan dan Perikanan Unud 2022), Maria Victoria Viyata Mayos (Kepala Departemen Eksternal Himapol FISIP Unud), Muhammad Riyadh Alvitto Satriyaji Pratama (Kepala Departemen Kajian, Aksi, Strategis, dan Pendidikan Himapol FISIP), Anak Agung Ngurah Nanda Budiadnyana (Wakil Kepala Departemen Minat dan Bakat Himapol FISIP Unud 2025), Vito Simanungkalit (Wakil Kepala Departemen Eksternal Himapol FISIP Unud 2025), dan Putu Ryan Abel Perdana Tirta (Ketua Komisi II DPM FISIP Unud).

Dalam pernyataan mereka, keenam mahasiswa tersebut mengakui kesalahan dan menyatakan penyesalan atas tindakan yang dianggap melukai perasaan keluarga korban serta masyarakat.

Mereka juga berkomitmen untuk memperbaiki sikap dan menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran berharga. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana memastikan bahwa keenam mahasiswa telah menerima sanksi akademik, termasuk pengurangan nilai soft skill dan kewajiban untuk membuat surat pernyataan tertulis.

I Made Anom Wiranata, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Perencanaan serta Plt. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Informasi FISIP Unud, menjelaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk pembinaan, bukan sekadar hukuman.

“Membuat surat pernyataan, mengakui itu. Karena buktinya terlalu otentik ada screenshot-nya. Untuk memperbaiki situasi,” ujarnya dalam siaran langsung Instagram @dpmfisipunud, Kamis (16/10/2025).

Keluarga Besar DPM FISIP Universitas Udayana juga mengeluarkan pernyataan sikap terkait kasus ini. Dalam unggahan di akun Instagram @dpmfisipunud, dinyatakan bahwa mahasiswa yang bersangkutan diberhentikan secara tidak hormat.

“Dan tidak lagi memiliki keterikatan maupun hak apa pun dengan DPM FISIP dan menyangkut pautkan DPM FISIP UDAYANA dalam bentuk apapun,” tulis pernyataan tersebut. Sejalan dengan DPM FISIP Unud, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) Universitas Udayana juga mencabut status keanggotaan mahasiswa tersebut sebagai Wakil Ketua BEM FKP Universitas Udayana Kabinet Sinergi Cita Udayana Tahun 2025.

“Sebab Saudara telah melakukan pelanggaran berat berupa pelanggaran Kode Etik Mahasiswa. Untuk itu, Saudara kami berhentikan tidak dengan Ekseku Mahasiswa Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana Kabinet Sinergi Cita Udayana Tahun 2025. BEM FKP Universitas Udayana tentunya menjunjung profesionalitas dalam menjalankan masa bhakti,” tulis pernyataan di akun Instagram @bemfkp_unud.

Setelah video permintaan maaf menjadi viral, pihak Universitas Udayana segera mengadakan rapat koordinasi yang melibatkan pimpinan universitas, dekanat, serta Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) untuk membahas sanksi lebih lanjut.

Ketua Unit Komunikasi Publik Unud, Dr. Dewi Pascarani, menyatakan bahwa fakultas telah merekomendasikan agar keenam mahasiswa tersebut mendapatkan nilai D atau tidak lulus di semua mata kuliah semester berjalan. “Dari fakultas kemarin telah merekomendasi prodi untuk memberikan nilai D (tidak lulus) pada semua mata kuliah semester berjalan, karena soft skill merupakan salah satu komponen penilaian dalam perkuliahan,” ujarnya, Jumat 17 Oktober 2025.

Ia juga menambahkan bahwa proses penyelidikan lanjutan akan dilakukan oleh Satgas PPKS Unud sesuai dengan amanat Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024. “Adalah tugas dan wewenang Satgas PPK-Unud, dan mekanismenya dilakukan secara tertutup,” jelas Dewi.

7 Fakta Terkait Mahasiswa Universitas Udayana Tewas Usai Jatuh dari Gedung FISIP
Ilustrasi jenazah. © 2025 Liputan6.com

Rektor Universitas Udayana, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D., mengungkapkan rasa duka yang mendalam atas kepergian TAS dan menegaskan bahwa pihak kampus tidak akan mentolerir segala bentuk perundungan di lingkungan akademik. "Universitas akan menindak tegas setiap pelanggaran yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan kehormatan akademik," ujarnya dengan tegas.

Sampai dengan Sabtu (18/10/2025), pihak universitas masih menunggu hasil dari rapat lanjutan dengan Satgas PPKS untuk memutuskan sanksi akhir terhadap pelaku perundungan.

"Mohon ditunggu, kami sedang rapat koordinasi pimpinan, prodi, dan satgas," ungkap Dewi saat dihubungi melalui pesan singkat. Sebelumnya, seorang mahasiswa fakultas sosiologi berinisial TAS (22) ditemukan tergeletak di halaman depan Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) pada Rabu (15/10/2025). Mahasiswa yang berasal dari Cimahi, Jawa Barat, tersebut sempat dilarikan ke RSUP Prof Ngoerah Denpasar, namun sayangnya nyawanya tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 13.03 Wita.

7 Fakta Terkait Mahasiswa Universitas Udayana Tewas Usai Jatuh dari Gedung FISIP
Ilustrasi jenazah. © 2025 Liputan6.com

Himpunan Mahasiswa (HIMA) Sosiologi Universitas Udayana (Unud) di Bali mengadakan sebuah acara renungan malam untuk mengenang kepergian TAS (22), seorang mahasiswa dari jurusan Sosiologi angkatan 2022.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat, 17 Oktober 2025, di depan Gedung FISIP Sudirman, Denpasar. Acara tersebut dihadiri oleh keluarga almarhum, termasuk ibunya, staf kampus, serta mahasiswa dari berbagai jurusan yang datang untuk memberikan doa dan dukungan. Suasana malam itu dipenuhi dengan haru, diwarnai oleh isak tangis dari keluarga dan teman-teman dekat TAS.

Dalam suasana malam yang tenang, ibunda TAS mengenang kenangan indah bersama anaknya dan menyampaikan rasa syukurnya atas sosok anak yang telah dibesarkannya.

Saya bilang, 'Ibu terima kasih, saya sangat bersyukur karena saya punya Anda sebagai anak saya,' dan dengan manisnya Timmy (panggilan akrab TAS) menjawab, 'Iya mami, saya juga bersyukur punya Anda sebagai ibu. You are a good mom'," ungkapnya dengan nada haru. Ia menceritakan bahwa saat SMA, TAS memilih jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), namun memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di jurusan Sosiologi. "Saya berkali-kali bertanya padanya, 'gimana kamu menikmati nggak kuliah di Sosiologi?', karena dia sebenarnya anak IPA," jelasnya.

Menurut ibunda, TAS sangat menikmati bidang yang dipilihnya. "Dia benar-benar sangat suka mempelajari fenomena sosial. Dia selalu penasaran tentang mengapa sesuatu terjadi dan sangat menikmati proses belajar itu," ujarnya, yang juga merupakan mantan dosen di sebuah universitas.

Selain itu, ibunda TAS juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman, dosen, serta staf di Unud yang selalu bersedia menjadi teman diskusi bagi anaknya. "Sebagai maminya, saya sering bertanya, 'ini kapan kamu harus registrasi lagi?' karena sebelum saya resign, saya sudah 15 tahun menjadi dosen dan sering melihat mahasiswa yang terlambat.

Saya tidak ingin Timmy mengalami hal yang sama," tambahnya. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada rumah sakit, pihak konseling, serta seluruh jajaran fakultas dan universitas yang telah mendampingi proses hingga kremasi TAS.

7 Fakta Terkait Mahasiswa Universitas Udayana Tewas Usai Jatuh dari Gedung FISIP
Ilustrasi jenazah. © 2025 Liputan6.com

Deon, sahabat dekat TAS sejak awal perkuliahan, mengenang almarhum sebagai sosok yang hangat dan penuh perhatian. "Dia adalah orang yang sangat menghargai orang lain, sangat peduli terhadap sesama, dan dicintai oleh banyak orang. Bahkan menjelang perpisahan, dia tetap tersenyum," ungkap Deon.

Selain dikenal di kampus, TAS juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Fira, seorang relawan yang pernah beraksi bersama TAS dalam demonstrasi pada bulan Agustus lalu, mengingat kebaikan serta kepeduliannya terhadap isu-isu sosial. "Sebagai informasi, sehari sebelum orasi, almarhum mendaftar sebagai relawan untuk pencegahan kekerasan seksual terhadap wanita yang akan bertugas di lapangan keesokan harinya," jelasnya.

Fira juga menambahkan bahwa TAS adalah orang pertama yang tiba di titik kumpul dan segera mulai membagikan selebaran yang menjelaskan cara memperagakan kode tangan SOA. "Kesanku pada saat itu adalah kagum terhadap beliau; tanpa memandang gender, ia sangat peka terhadap pentingnya mengenali tanda bahaya di kerumunan," lanjutnya. Menurutnya, TAS juga turut serta bersama massa untuk menyampaikan aspirasi mereka.

7 Fakta Terkait Mahasiswa Universitas Udayana Tewas Usai Jatuh dari Gedung FISIP
Ilustrasi jenazah. © 2025 Liputan6.com

Setelah acara selesai, Dr. I Made Anom Wiranata, yang menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik dan Perencanaan serta Plt. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Informasi FISIP Unud, memberikan penjelasan mengenai kasus meninggalnya TAS.

Ia menyatakan bahwa pihak kampus telah melakukan penyelidikan dan wawancara dengan beberapa orang terkait. Sebagai saksi mata, Anom mengaku melihat langsung kejadian jatuhnya TAS. "Dan itu kemungkinan besar bukan karena ketidaksengajaan gitu ya. Jadi sementara itu yang kita bisa duga ya, jatuh, karena jatuh setelah melompat," jelasnya.

Anom menegaskan bahwa secara akademis, TAS adalah mahasiswa berprestasi dengan IPK 3,91 dan dikenal sangat membantu teman-temannya dalam belajar menjelang ujian.

"Dia begitu dicintai seperti yang kita lihat sekarang ini. Banyak sekali datang lintas prodi. Bahkan dari prodi Sosiologi, dari angkatan pertama sampai sekarang itu datang. Jadi itu yang kita bisa sampaikan, ada support dari teman-temannya. Di prodi baik-baik saja," ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa TAS memiliki sifat rapi dan teratur. "Saya lihat, saat ada hal yang berantakan seperti kursi tidak rapi atau lainnya, dia segera merapikannya," tambahnya.

Menanggapi spekulasi mengenai penyebab kematian TAS, Anom menegaskan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan adanya perundungan atau bullying di kampus.

"Bahwa memang kami mengakui ada percakapan internal di salah satu prodi, percakapan internal yang tidak ditujukkan untuk keluar. Percakapan internal ya, grup satu angkatan itu memang ada sesuatu ungkapan yang saya sebut nirempati," terangnya. Ia menegaskan bahwa percakapan tersebut terjadi setelah insiden jatuhnya TAS. "Tetapi ujaran itu diutarakan setelah peristiwa. Jadi kan tidak mungkin kita mengatakan itu sebagai penyebab, karena setelah peristiwa," imbuhnya.

Anom menjelaskan bahwa hingga saat ini, motif di balik tindakan TAS belum dapat dipastikan. Dari aspek akademik, hubungan sosial, hingga interaksi dengan dosen dan pegawai fakultas, semuanya berjalan dengan baik.

"TAS juga sedang melakukan bimbingan skripsi dengan dua dosen pembimbing yang sangat kooperatif," tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa Unud menyediakan layanan konseling bagi mahasiswa yang memerlukan dukungan psikologis atau menghadapi masalah perundungan. "Bahkan saya sebagai WD III sering menyampaikan ke teman-teman mahasiswa, HP saya itu bisa dikirimi pesan 24 jam, 7 hari. Kami selalu merespon apapun keluhan dari mahasiswa. Sebegitu kita maksimal sudah memberikan akses, membuka diri, menyediakan jalur, itu yang maksimal yang kita lakukan," kata Anom.

Di akhir pernyataannya, Anom mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong dan kekerabatan yang merupakan ciri khas masyarakat Timur.

"Jikapun terjadi kerenggangan, kita menyediakan tempat untuk orang bisa mendengar, saling mendengarkan keluhan, memberikan saran dan inklusi. Mengajak semua sebagai bagian dari keluarga ini. Apapun yang terjadi, mari kita diskusikan, semua ada solusinya," tutupnya.

Infografis mahasiswa Surabaya peretas website
Infografis mahasiswa Surabaya peretas website
Rekomendasi