Memasuki musim giling di sejumlah pabrik gula, belum membuat para petani tebu di Kediri Jawa Timur gembira, karena harga tebu masih jauh di bawah normal. Padahal musim panen tahun lalu para petani mengalami kerugian cukup besar. Kondisi ini diperparah dengan beredarnya gula rafinasi di pasaran dan rencana impor gula yang akan dilakukan oleh pemerintah secara besar-besaran.Untuk menolong petani pabrik gula hanya bisa dilakukan upaya peningkatan rendemen dan mendesak pemerintah mengkaji ulang rencana impor gula yang besar-besaran itu.General Manager Pabrik Gula Pesantren Baru Kediri Arifin, mengakui harga patokan sementara tebu sekitar Rp 8.250 per kilogram. "Harga tersebut sangat minim dan tidak sebanding dengan biaya operasional yang sudah dikeluarkan petani. Keresahan para petani tebu diperparah dengan beredarnya gula rafinasi di pasaran, serta kebijakan pemerintah mengimpor gula hingga 350 ribu ton dalam waktu dekat ini," ujar Arifin di Kediri, Selasa (03/06).Arifin menambahkan, pabrik gula tidak dapat mengendalikan harga tebu yang merosot. Namun, hanya mampu melakukan upaya peningkatan rendemen gula."Upaya kami menerjunkan para tenaga teknis ke lapangan untuk membantu petani dalam memilah tebu muda atau sogol serta membersihkan tebu dari daduk yang dapat menurunkan rendeman," tambahnya.Dodik Agus Darwamawan, Asisten Muda, PG Pesantren Baru Kota Kediri menjelaskan saat ini stok gula di PTPN X sekitar 128 ribu ton, sedangkan di gudang pabrik Pesantren Baru sebesar 135 ribu kwintal."Jumlah pengeluaran setiap hari mencapai 1.500 kwintal. Sehingga dalam waktu 65 hari pabrik akan kehabisan stok gula di gudang," ungkapnya.
Harga tebu merosot, petani di Kediri terancam gulung tikar
Harga patokan sementara tebu sekitar Rp 8.250 per kilogram.
Rekomendasi