Gubernur Pramono Koreksi Laporan PBB Soal Jakarta Dinobatkan Kota Terpadat di Dunia

Data tersebut tidak akurat karena Jakarta sebenarnya berada pada peringkat ke-30.

Winda Nelfira
Oleh Winda Nelfira - Reporter
Gubernur Pramono Koreksi Laporan PBB Soal Jakarta Dinobatkan Kota Terpadat di Dunia
Gubernur Pramono Koreksi Laporan PBB Soal Jakarta Dinobatkan Kota Terpadat di Dunia (Merdeka.com)

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menepis laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang sebelumnya menyebut Jakarta sebagai kota terpadat di dunia dengan jumlah 42 juta jiwa. 

Ia menegaskan, data tersebut tidak akurat karena Jakarta sebenarnya berada pada peringkat ke-30 dalam kategori kota dengan kepadatan penduduk tertinggi.

Menurutnya, kesalahan itu muncul karena penggunaan data aglomerasi yang menggabungkan Jakarta dengan wilayah penyangga.

“Menurut saya sebenarnya kalau disampaikan Jakarta kota terpadat salah, karena Jakarta dalam kepadatan adalah kota kepadatan nomor 30 sebenarnya,” kata Pramono di Jakarta, Selasa (2/12). 

Ia menjelaskan, perbandingan yang menyamakan Jakarta dengan kota besar dunia seperti Dhaka, New Delhi, atau Tokyo juga menjadi tidak relevan karena metodologi data yang digunakan pun berbeda.

Pasalnya, kata Pramono Aglomerasi yang diperhitungkan justru menempatkan Jakarta seolah telah melampaui kota-kota tersebut dalam jumlah penduduk.

Oleh karena itu, dia menilai data kependudukan tetap menjadi referensi penting bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan.

Sehingga terkait hal ini, dia menegaskan bahwa narasi mengenai Jakarta sebagai kota terpadat tidak mencerminkan kondisi terkini.

“Tetapi bagi saya itu merupakan referensi untuk kita semakin giat membangun memperbaiki Jakarta,” ujarnya.

Sebelumnya, Jakarta dinobatkan sebagai ibu kota terpadat di dunia. Dengan 42 juta penduduk. Demikian laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Minggu (23/11).

Laporan itu menggambarkan dunia mengalami urbanisasi yang pesat. Dari laporan Prospek Urbanisasi Dunia 2025 dari Departemen Ekonomi dan Sosial PBB, kota-kota di dunia kini menampung 45 persen dari populasi global yang berjumlah 8,2 miliar jiwa.

Sejak 1950, ketika hanya 20 persen dari 2,5 miliar penduduk dunia tinggal di kota, populasi perkotaan telah meningkat lebih dari dua kali lipat. Pada 2050, diproyeksikan dua pertiga pertumbuhan populasi global akan terjadi di kota-kota, dengan sepertiga sisanya di kota kecil.

Pada 1975, jumlah megacity, kawasan perkotaan dengan 10 juta penduduk atau lebih tercatat sebanyak delapan. Pada 2025, meningkat empat kali lipat menjadi 33. Dari jumlah itu, sebanyak 19 megacity berada di Asia.

Laporan itu sekaligus menobatkan Jakarta kini menjadi kota terpadat di dunia, dengan hampir 42 juta penduduk. Diikuti oleh ibu kota Bangladesh, Dhaka, dengan hampir 40 juta penduduk, dan ibu kota Jepang, Tokyo, dengan 33 juta penduduk.

Rekomendasi