Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, secara aktif melibatkan seluruh pelajar SMA dan SMK di wilayahnya dalam sebuah inisiatif penting. Keterlibatan ini merupakan bagian dari Gerakan Penghijauan Rejang Lebong yang berfokus pada penanaman pohon di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) kritis. Langkah ini diambil sebagai upaya antisipasi dini terhadap potensi bencana alam yang mungkin terjadi di masa mendatang.
Bupati Rejang Lebong, Muhammad Fikri, menegaskan bahwa pelibatan pelajar, khususnya yang tergabung dalam kelompok Sispala (Siswa Pecinta Alam), sangat krusial. Mereka diharapkan menjadi garda terdepan dalam mendukung konservasi lingkungan melalui kegiatan penanaman pohon. Rapat koordinasi terkait gerakan ini telah dilaksanakan di Pemkab Rejang Lebong pada Selasa, 6 Januari 2026, untuk mematangkan strategi pelaksanaannya.
Gerakan bersama ini bertujuan untuk mengantisipasi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor yang kerap melanda wilayah tersebut. Dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk generasi muda, diharapkan upaya penghijauan ini dapat berkelanjutan dan memberikan dampak positif jangka panjang bagi kelestarian lingkungan di Rejang Lebong.
Advertisement
Advertisement
Pelibatan pelajar SMA/SMK melalui Sispala merupakan strategi utama dalam Gerakan Penghijauan Rejang Lebong. Muhammad Fikri menekankan bahwa siswa memiliki peran vital dalam kegiatan konservasi lingkungan, termasuk penanaman pohon di DAS kritis. Kawasan Lembak menjadi salah satu fokus utama lokasi penanaman ini, mengingat kondisi DAS yang memerlukan perhatian serius.
Selain penanaman pohon, siswa juga diharapkan dapat berpartisipasi dalam kegiatan kemah bersama yang berorientasi lingkungan. Ini tidak hanya menumbuhkan kecintaan terhadap alam, tetapi juga membangun kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga ekosistem. Inisiatif ini menjadi pendidikan praktis bagi generasi muda tentang tanggung jawab lingkungan.
Melalui partisipasi aktif ini, diharapkan para pelajar dapat menjadi agen perubahan. Mereka dapat menyebarkan kesadaran tentang pentingnya Gerakan Penghijauan Rejang Lebong kepada keluarga dan komunitas mereka. Hal ini akan menciptakan efek domino positif dalam upaya pelestarian lingkungan secara lebih luas.
Advertisement
Advertisement
Kerusakan DAS telah terbukti menjadi penyebab utama terjadinya bencana banjir di Rejang Lebong. Salah satu contoh nyata adalah banjir yang melanda Desa Lubuk Belimbing II di Kecamatan Sindang Beliti Ilir (SBI) pada akhir tahun 2025, yang bahkan sempat menimbulkan korban jiwa. Kejadian ini menjadi pengingat akan urgensi Gerakan Penghijauan Rejang Lebong.
Penanaman pohon di DAS kritis ini merupakan inisiatif yang digagas oleh Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan. Peluncuran penanaman secara serentak telah dilakukan pada 30 Desember 2025, menandai dimulainya gerakan besar ini. Dukungan dari pemerintah provinsi menunjukkan komitmen serius dalam mengatasi masalah lingkungan.
Gerakan ini membutuhkan dukungan penuh dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu. Tujuannya jelas, yaitu mengantisipasi kemungkinan bencana alam yang diakibatkan oleh hutan gundul. Manfaat dari penanaman pohon ini diperkirakan akan dirasakan dalam kurun waktu 15 hingga 20 tahun ke depan, menunjukkan visi jangka panjang dari program ini.
Advertisement
Advertisement
Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Rejang Lebong menyatakan kesiapannya untuk mendukung penuh Gerakan Penghijauan Rejang Lebong. Kepala Distankan, Suradi Ripai, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menyiapkan 5.000 bibit pohon. Bibit-bibit ini terdiri dari berbagai jenis seperti durian, petai, bambang lanang, dan kayu bawang.
Ribuan bibit pohon tersebut akan disalurkan untuk kegiatan penghijauan di DAS, lahan kritis, dan lokasi eks tambang. Pemilihan jenis pohon ini juga mempertimbangkan aspek ekologis dan ekonomis, sehingga selain berfungsi sebagai penahan erosi, juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di kemudian hari.
Sebelumnya, pada peluncuran gerakan penanaman pohon tanggal 30 Desember 2025, Pemkab Rejang Lebong telah berkolaborasi dengan berbagai pihak. Pelaku usaha, mahasiswa IAIN, komunitas pecinta alam, serta masyarakat umum turut serta menanam sebanyak 500 batang pohon di Desa Kayu Manis dan Desa Cawang Lama, Kecamatan Selupu Rejang. Kolaborasi multisektor ini menunjukkan semangat kebersamaan dalam menjaga lingkungan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews