Firasat Keluarga dan Pesan Terakhir Mochamad Apriyana, Salah Satu Korban Kebakaran Ruko Terra Drone Kemayoran

Mochamad Apriyana, menjadi salah satu korban meninggal kebakaran ruko Terra Drone Kemayoran.

Ady Anugrahadi
Oleh Ady Anugrahadi - Reporter
Firasat Keluarga dan Pesan Terakhir Mochamad Apriyana, Salah Satu Korban Kebakaran Ruko Terra Drone Kemayoran
Firasat Keluarga dan Pesan Terakhir Mochamad Apriyana, Salah Satu Korban Kebakaran Ruko Terra Drone Kemayoran (Merdeka.com)

Isak tangis mewarnai halaman rumah duka Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Rabu (10/12). Kala itu, keluarga Mochamad Apriyana (40) menjemput jenazahnya.

Ira Daniyati, adik perempuan korban, tak mampu berdiri tegak saat peti jenazah adiknya digeser menuju ambulans. Air matanya tak putus mengalir, tubuhnya goyah, hingga seorang psikolog Polri ikut turun tangan menenangkan.

Ari, Burhan, dan Maulana yang merupakan saudara kandung turut memeluk dan menahan tubuh Ira yang beberapa kali hampir jatuh. Namun mereka sendiri tak sanggup menyembunyikan kesedihan ketika nama Mochamad Apriyana, satu dari 22 korban jiwa kebakaran ruko Terra Drone, disebut petugas.

Jenazah korban kebakaran Terra Drone Kemayoran
Jenazah korban kebakaran Terra Drone Kemayoran Ady/Liputan6.com

Ira memeluk erat satu map hijau berisi berkas identitas sang kakak. Matanya tak pernah lepas dari tulisan 'Mochamad Apriyana' di depan map itu.

Ketika ambulans berhenti persis di depannya untuk proses serah terima, Ira terseret langkah goyah memasuki mobil. Begitu keluar, tangisnya pecah semakin kencang, berubah menjadi histeris. Seorang Polwan buru-buru memeluknya sebelum Ira akhirnya pingsan dan dibopong ke ruang perawatan.

Jenazah korban kebakaran Terra Drone Kemayoran
Jenazah korban kebakaran Terra Drone Kemayoran Ady/Liputan6.com

Tak lama kemudian, peti berisi jenazah Mochamad Apriyana digotong menuju ambulans. Ira yang baru tersadar langsung mencari-cari. “Mana… mana…,” teriaknya sambil meronta.

Begitu pintu ambulans dibuka, dia menerjang mendekat, memeluk peti kayu cokelat itu sambil tersedu-sedu.

Di luar ruang jenazah, Ahmad Maulana, adik bungsu korban, berusaha bicara tenang. Namun suaranya serak ketika mengenang percakapan terakhir dengan sang kakak.

Dia bercerita sebelum kebakaran terjadi. Pada pagi hari, ia sempat mengirim pesan menanyakan kabar. Ahmad Maulana saat itu sedang bekerja di kawasan Pondok Pinang, Jaksel.

"Hanya nanya kabar aja sih. Itu jam 8 kalau enggak salah. Karena malamnya habis teleponan juga kan. Cuma enggak selesai aja posisinya," kata Ahmad Maulana saat ditemui, Rabu (10/12).

"Saya yang belum sempat balas malah," imbuhnya lagi.

Saat ia kembali ponsel untuk membuka WhatsApp sore hari, centang pesan sudah berubah menjadi satu.

"Pas saya balas, udah ceklis satu, itu posisi udah kejadian siang," ujar dia.

Jenazah korban kebakaran Terra Drone Kemayoran
Jenazah korban kebakaran Terra Drone Kemayoran Ady/Liputan6.com

Maulana adalah anggota keluarga pertama yang tiba di RS Polri. Sementara saudara lain masih terjebak perjalanan dari Bogor dan Serang. Ia mengaku langsung merapat begitu melihat kiriman video gedung Terra Drone terbakar di grup keluarga.

"Dari kakak, dari media sih dia kirim di grup. Kakak yang kedua cari informasi. Karena kan saya jalan ke sini. Nyampe sini langsung dapat list nama, ya udah," ujar dia.

Maulana ingat sekali Mochamad Apriyana kakak yang selalu menengahi urusan keluarga, paling banyak memberi nasihat, dan tak pernah membuat masalah.

"Katanya penting semuanya tetap akur aja kita keluarga, itu aja. Karena dia posisi anak ketiga ya, di tengah. Dia nengahin kita semua," kata dia.

Kakaknya yang lain, Burhan mengaku terakhir kali berkomunikasi sepekan lalu lewat telepon. Namun, ia melihat ada sesuatu yang tak biasa.

"Saya sih enggak nangkap ya. Cuma memang adik saya ini kan sebenarnya biasanya dia agak emosian gitulah. Tapi beberapa kali telepon itu berubah. Saya enggak ngerti, jadi kalem, jadi soft, jadi nenangin. Ya mungkin saya pikir ya Alhamdulillah lah. Cuma enggak pernah kepikiran apa-apa. Perubahan itu aja sih memang. Lebih tenang, lebih santai," kata Burhan.

Menurut Burhan, Apriyana baru enam bulan bekerja di Terra Drone sebagai manajer. Ia tinggal di kawasan Cisauk, BSD, dan sehari-hari pulang-pergi dari rumah.

"Belum setahun. Statusnya manajer di perusahaan," ujar dia.

Jenazah Apriyana rencananya dimakamkan di TPU kawasan Cisauk, dekat kediamannya. "Dekat perumahan yang memang sudah jatah warga," tandas dia.

Rekomendasi