PALANGKA RAYA – Festival Anak Sebangau (FAS) 2025 telah sukses digelar di Objek Wisata Air Hitam, Kereng Bangkirai, kawasan Sungai Sabangau, Palangka Raya. Acara yang diinisiasi oleh Yayasan Borneo Nature Indonesia (YBNI) ini berlangsung pada Minggu, 16 November, dengan fokus utama pada edukasi lingkungan. Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya peran setiap individu dalam menjaga kelestarian alam, khususnya di wilayah Sebangau.
Inisiatif ini disambut baik oleh berbagai pihak, termasuk Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Disbudparpora Kota Palangka Raya, Cecilia Kristina Myra. Beliau menyatakan apresiasinya terhadap upaya YBNI dalam meningkatkan kepedulian anak-anak terhadap pengelolaan lingkungan. Melalui festival ini, diharapkan nilai-nilai positif mengenai keterlibatan aktif dalam pelestarian lingkungan dapat tertanam kuat pada generasi muda.
Festival Anak Sebangau tidak hanya menjadi ajang rekreasi, tetapi juga platform edukasi yang inspiratif bagi anak-anak. Berbagai kegiatan interaktif dirancang untuk memperkenalkan mereka pada kekayaan alam dan tantangan lingkungan yang ada. Dengan demikian, diharapkan akan tumbuh kesadaran yang mendalam mengenai pentingnya mengelola dan melestarikan lingkungan untuk masa depan yang berkelanjutan.
Advertisement
Advertisement
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Disbudparpora Kota Palangka Raya, Cecilia Kristina Myra, mengapresiasi tinggi penyelenggaraan Festival Anak Sebangau. "Festival Anak Sebangau yang dilaksanakan BNF Indonesia sangat baik sebagai upaya meningkatkan kepedulian anak dalam pengelolaan lingkungan," katanya saat pembukaan FAS 2025. Edukasi sejak dini dianggap krusial untuk membentuk karakter peduli lingkungan pada anak-anak.
Pihaknya berharap agar nilai-nilai positif terkait pelestarian lingkungan dapat tertanam kuat pada setiap peserta. Hal ini bertujuan agar nantinya kesadaran akan pentingnya mengelola dan melestarikan lingkungan akan semakin tumbuh. Keterbatasan jangkauan edukasi yang dimiliki pemerintah kota juga menjadi alasan kuat untuk mendukung kegiatan semacam ini.
Cecilia menambahkan, "Harapannya, ke depan kegiatan ini akan terus terlaksana karena kami juga memiliki keterbatasan dalam menjangkau dan mengedukasi anak." Dukungan terhadap keberlanjutan Festival Anak Sebangau menunjukkan komitmen bersama dalam menciptakan generasi yang bertanggung jawab terhadap alam. Edukasi yang berkelanjutan akan memastikan pesan pelestarian lingkungan terus disampaikan.
Advertisement
Advertisement
CEO YBNI, Anton Nurcahyo, menjelaskan bahwa tema Festival Anak Sebangau tahun ini adalah “Kalawa Bara Himba”. Tema ini terinspirasi dari peristiwa kebakaran lahan gambut yang sangat parah satu dekade lalu, yang melahap area seluas 196.986 hektare lahan gambut dan 133.876 hektare lahan non-gambut. Peristiwa tragis tersebut menjadi pengingat betapa rentannya ekosistem hutan kita.
Anton Nurcahyo menegaskan, "Ini menjadi pengingat betapa rentannya ekosistem hutan serta pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga dan melindungi hutan." Oleh karena itu, YBNI melalui Festival Anak Sebangau terus menggelorakan semangat pelestarian lingkungan. Kegiatan ini sekaligus mengenang kembali bencana kebakaran tersebut melalui cara yang bersifat edukatif dan inspiratif.
Festival Anak Sebangau juga merupakan bentuk tanggung jawab BNF dalam mengelola dan melestarikan lingkungan secara berkelanjutan. Upaya pengelolaan dan pelestarian lingkungan ini harus ada yang meneruskan di masa depan. "Maka, tanggung jawab pengelolaan lingkungan menjadi tanggung jawab kita dan semangat itu harus kita teruskan kepada anak-anak kita, selaku generasi penerus masa depan," pungkas Anton.
Advertisement
Advertisement
Koordinator Edukasi BNF Indonesia, Agus Damanik, menerangkan filosofi mendalam di balik tema “Kalawa Bara Himba”. Tema ini merekonstruksikan makna “Cahaya”, di mana cahaya api kebakaran bertransformasi menjadi cahaya harapan. Cahaya ini terpancar dari semangat anak-anak, pemuda, serta pemudi dari seluruh peserta edukasi yang terlibat dalam Festival Anak Sebangau.
Cahaya tersebut melambangkan harapan, pengetahuan, dan keberlanjutan yang tumbuh dari generasi muda Sebangau untuk masa depan hutan yang lebih lestari. Pada FAS 2025, sekitar 60 anak binaan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan. Festival Anak Sebangau sendiri telah dilaksanakan sejak tahun 2016, menunjukkan konsistensi dalam upaya edukasi lingkungan.
Para peserta menampilkan beragam aktivitas menarik dan edukatif, seperti tarian giring-giring yang memukau, sesi temu wicara, pameran foto dokumentasi yang inspiratif, serta pojok bermain anak. Selain itu, mereka juga berkreasi membuat kriya, menari manasai, melakukan pembubuhan cap tangan sebagai simbol komitmen, dan menampilkan drama anak bertema lingkungan yang sarat pesan moral.
Advertisement
Sumber: AntaraNews