Wali Kota Bandung Muhammad Farhan berencana menjadikan Kota Bandung sebagai living laboratory atau laboratorium hidup untuk pengembangan infrastruktur berkelanjutan. Upaya ini dilakukan agar setiap pembangunan di Kota Bandung memiliki sistem yang berkesinambungan.
Menurutnya, upaya tersebut mesti dilakukan secara struktural. Nantinya, progres yang tercapai akan dijadikan tolok ukur dalam pengelolaan infrastruktur kota, alih-alih konsensus semata dan meski pemimpin wali kotanya berganti.
Untuk itu, ia pun mengajak akademisi, lewat Wali Kota Bandung Muhammad Farhan berencana menjadikan Kota Bandung sebagai living laboratory atau laboratorium hidup untuk pengembangan infrastruktur berkelanjutan. Upaya ini dilakukan agar setiap pembangunan di Kota Bandung memiliki sistem yang berkesinambungan.
Advertisement
Menurutnya, upaya tersebut mesti dilakukan secara struktural. Nantinya, progres yang tercapai akan dijadikan tolok ukur dalam pengelolaan infrastruktur kota, alih-alih konsensus semata dan meski pemimpin wali kotanya berganti.
Untuk itu, lewat Bandung Sustainability Summit, ia pun mengajak akademisi, khususnya dari Institut Teknologi Bandung (ITB), untuk turun langsung ke lapangan mengamati kondisi nyata di berbagai wilayah kota. Hal tersebut, sejalan dengan program yang tengah ia lakukan juga.
"Saya ingin mengajak teman-teman dari ITB sebetulnya untuk menjadikan belah-belah kota Bandung ini sebagai living lab, living laboratory. Karena apa? Karena saya kan sekarang lagi keliling nih lewat program prakarsa utama, di mana saya berkantor di kelurahan setiap hari Senin sampai Jumat,” Farhan usai menghadiri Bandung Sustainability Summit, di Kampus Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha, Bandung, Jawa Barat, pada Kamis (6/11).
Advertisement
Melalui kegiatan itu, Farhan ingin mengidentifikasi persoalan di tiap permukiman yang memiliki karakteristik geografis yang khas. Kondisi yang bervariasi itu membuat setiap kawasan membutuhkan pendekatan berbeda.
"Nah solusi dari 1597 RW ini harus dijahit dalam sebuah bentuk kesinambungan yang berjalan baik. Apalagi keunikan kota Bandungan, secara altimeter aja, secara elevasi ya, itu bayangin aja, di daerah Punclut itu sampai 1100 meter dari permukaan laut. Sementara kalau kita ke cimincerang itu 680 mdpr. Jadi karakter hidrometeorologi juga berbeda. Nah ini yang membutuhkan penyelesaian yang khas di setiap wilayah, tetapi juga sustain di seluruh kota,” kata dia.
Sementara itu, Rektor ITB, Prof. Tatacipta Dirgantara, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai forum Bandung Sustainability Summit menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam membangun kota yang berkelanjutan.
"Bandung Sustainability Summit ini melanjutkan spirit Bandung. Dulu Bandung pernah jadi kota Asia Afrika, sekarang menghadirkan ide tentang keberlanjutan. Dan yang namanya keberlanjutan itu tidak bisa hanya akademisi saja atau pemerintah saja,” kata Tata.
Menurutnya, keberlanjutan harus menjadi kerja bersama antara akademisi, pemerintah, industri, masyarakat sipil, hingga media.
“Nah inilah forumnya sekarang, dan mudah-mudahan dari forum ini nanti muncul rencana aksi-rencana aksi yang tadi Pak Wali Kota sampaikan,” ujarnya.
Advertisement
Bandung Sustainability Summit (BSS) 2025 merupakan forum kolaboratif nasional yang digagas oleh Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (FTSL ITB), Pemerintah Kota Bandung, dan Suvarna Sustainability. Forum ini menjadi wadah strategis bagi pemerintah, akademisi, pelaku industri, lembaga keuangan, dan masyarakat untuk memperkuat praktik Environmental, Social, and Governance (ESG) serta mendorong implementasi pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Di penyelenggaraan pertamanya, BSS 2025 mengusung tema “Dari Kepatuhan Menuju Komitmen: Sinergi Pemerintah, Perguruan Tinggi, dan Korporasi untuk Masa Depan Infrastruktur Berkelanjutan.” Forum ini diharapkan menjadi ruang berkelanjutan yang mempertemukan ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan inovasi industri untuk mempercepat transisi menuju Net Zero Emission 2060.