Gubernur Banten Andra Soni menghadiri perayaan adat Seren Taun Guru Cucuk Kasepuhan Cisungsang di Imah Gede Kasepuhan Cisungsang, Cibeber, Kabupaten Lebak, pada Minggu lalu. Acara ini menjadi refleksi mendalam atas rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas limpahan hasil bumi. Tradisi kuno ini telah diwariskan secara turun-temurun, menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Dalam sambutannya, Andra Soni menekankan bahwa Seren Taun bukan hanya sekadar perayaan biasa. Lebih dari itu, ia merupakan warisan budaya yang memiliki makna filosofis mendalam bagi masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang di Lebak. Pemerintah Provinsi Banten sangat mengapresiasi upaya pelestarian kearifan lokal ini.
Perayaan sakral ini kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan masuknya Seren Taun Kasepuhan Cisungsang ke dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2025. Pengakuan ini datang dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, memperkuat posisi Seren Taun sebagai aset budaya nasional yang patut dibanggakan.
Advertisement
Advertisement
Makna dan Apresiasi Terhadap Seren Taun Cisungsang
Seren Taun Guru Cucuk Kasepuhan Cisungsang merupakan manifestasi rasa syukur masyarakat adat atas karunia hasil bumi. Gubernur Andra Soni menyatakan, "Kita melihat Seren Taun bukan sekadar sebuah perayaan adat, melainkan warisan budaya yang merefleksikan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil bumi yang diberikan-Nya." Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan dan hubungan harmonis dengan alam.
Pemerintah Provinsi Banten memberikan apresiasi tinggi kepada masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang. Mereka dinilai konsisten dalam menjaga dan melestarikan kearifan lokal yang telah berusia ratusan tahun ini. Komitmen ini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah komunitas mampu mempertahankan identitas budayanya di tengah modernisasi.
Keberadaan Seren Taun juga menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai luhur. Nilai-nilai tersebut meliputi gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap lingkungan. Tradisi ini secara tidak langsung turut berkontribusi pada pembangunan karakter masyarakat yang berpegang teguh pada adat istiadat.
Advertisement
Advertisement
Pengakuan Nasional dan Potensi Pariwisata Budaya
Tahun ini, Seren Taun Kasepuhan Cisungsang kembali masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2025. Ini adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Banten dan Indonesia. Gubernur Andra Soni menegaskan, "Hal ini menjadi bukti bahwa Seren Taun bukan hanya milik masyarakat Cisungsang, tetapi juga menjadi kebanggaan bangsa Indonesia."
Melalui KEN, terbuka ruang yang lebih luas untuk promosi pariwisata Banten, khususnya Kabupaten Lebak. Diharapkan, Seren Taun dapat semakin dikenal oleh wisatawan nasional maupun mancanegara. Potensi pariwisata budaya seperti Seren Taun memiliki kekuatan besar untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.
Pariwisata budaya tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas budaya di tengah arus globalisasi. Pemprov Banten berkomitmen untuk terus mendukung tradisi ini. Dukungan tersebut meliputi promosi, pembinaan ekonomi kreatif, serta peningkatan infrastruktur pendukung di wilayah Kasepuhan Cisungsang.
Advertisement
Advertisement
Sinergi Budaya, Pariwisata, dan Pendidikan di Kasepuhan Cisungsang
Gubernur Andra Soni juga menekankan pentingnya sinergi antara pariwisata dan pendidikan. Generasi muda Banten, khususnya anak-anak Cisungsang, harus dikenalkan sejak dini tentang nilai-nilai budaya, sejarah, dan tradisi. Tujuannya agar mereka tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga penerus yang menjaga kelestarian budaya leluhur.
Dinas Pendidikan diharapkan dapat bersinergi dengan Dinas Pariwisata dalam menghadirkan kurikulum dan program edukasi berbasis kearifan lokal. Ini bisa diwujudkan melalui muatan lokal, kunjungan budaya, atau kegiatan ekstrakurikuler. Sinergi ini akan memastikan bahwa nilai-nilai budaya tetap relevan bagi generasi mendatang.
Abah Usep Suyatma SR, Ketua Adat Guru Cucuk Kasepuhan Cisungsang, menyampaikan bahwa Kasepuhan Cisungsang telah eksis selama 671 tahun. Beliau adalah generasi keempat yang memimpin komunitas adat ini. Keberadaan masyarakat adat ini telah mendapatkan pengakuan secara hukum dan statistik yang jelas.
Advertisement
Pengakuan tersebut dibuktikan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pengakuan, Perlindungan, dan Pemberdayaan Masyarakat Adat Kasepuhan. Selain itu, ada SK Bupati Lebak Nomor 430/740-DLH/III/2022 tentang Penetapan Peta Wilayah dan Hutan Adat Kasepuhan Cisungsang. Wilayah adat ini mencakup:
- Luas wilayah adat: 6.177,38 hektar
- Hutan adat: 1.599 hektar
- Lahan sawah: 4.933 hektar
- Penggarap aktif: 9.097 orang
- Petani milenial: 150 orang
- Pembangunan irigasi: 2 (satu berjalan, satu direncanakan)
- Penanaman pohon: 4.500 pohon sebagai komitmen menjaga lingkungan
Abah Usep juga merinci ritual utama dalam Seren Taun, yaitu Jatnika Nibakeun Sri Ka Bumi, Jatnika Ngamitkeun Sri Ti Bumi, Prah Prahan (Cacah Jiwa), Rasul Pare di Leuit, dan Rasul Seren Taun. Ritual-ritual ini merupakan inti dari perayaan dan mencerminkan kekayaan budaya Kasepuhan Cisungsang.
Advertisement
Sumber: AntaraNews