Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mengambil langkah inovatif dengan mulai menyusun kurikulum muatan lokal (mulok) mendongeng. Inisiatif ini bertujuan ganda, yakni memperkuat pelestarian budaya daerah sekaligus menumbuhkan minat belajar serta kemampuan literasi pada anak-anak di wilayah tersebut.
Bupati Bangka Tengah, Algafry Rahman, di Koba pada Sabtu (04/10), menegaskan bahwa pengembangan kurikulum mulok harus menarik bagi peserta didik. Hal ini krusial untuk menanamkan kecintaan mendalam terhadap kekayaan budaya lokal sejak usia dini, memastikan warisan leluhur tetap hidup.
Langkah strategis ini diharapkan tidak hanya memperkenalkan anak-anak pada warisan budaya, tetapi juga menciptakan metode pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif. Dengan demikian, proses belajar mengajar dapat lebih efektif, berkesan, dan relevan bagi generasi muda Bangka Tengah dalam menghadapi tantangan masa depan.
Advertisement
Advertisement
Bupati Algafry Rahman menyoroti pentingnya kurikulum muatan lokal dalam menjaga kelestarian budaya daerah. Secara khusus, ia menekankan nilai-nilai budaya Melayu yang menjadi ciri khas masyarakat Bangka Belitung agar tidak tergerus oleh zaman.
Pengenalan budaya Melayu melalui mendongeng dianggap sebagai cara yang efektif untuk mewariskan nilai-nilai luhur. "Jika anak-anak mengenal budaya Melayu yang identik dengan nilai keramahtamahan, ini akan menjadi hal baik untuk diwariskan dan diteladani,” ujar Bupati Algafry.
Melalui cerita-cerita rakyat dan dongeng lokal, anak-anak akan diajak memahami akar budaya mereka. Proses ini diharapkan dapat membentuk karakter yang kuat, berlandaskan pada kearifan lokal yang telah turun-temurun.
Advertisement
Advertisement
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka Tengah, Pangihutan Sihombing, mengungkapkan harapannya terhadap kurikulum mendongeng ini. Ia meyakini bahwa kurikulum tersebut dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan literasi siswa di berbagai jenjang pendidikan, dari tingkat dasar hingga menengah.
Selain itu, mendongeng juga diharapkan mampu menumbuhkan potensi seni bercerita di kalangan anak-anak, mengembangkan imajinasi, dan kreativitas mereka. "Diharapkan mendongeng juga menjadi motivasi bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik,” tambah Sihombing, menekankan peran guru sebagai fasilitator.
Sihombing menjelaskan bahwa kurikulum mendongeng akan melengkapi enam kurikulum muatan lokal yang sudah ada di Bangka Tengah. Mulok tersebut meliputi pertanian, dambus, perikanan, bola tampah, dan bahasa daerah.
Advertisement
Semua kurikulum muatan lokal ini, termasuk mendongeng, dirancang dengan nilai kearifan lokal yang kuat. Tujuannya adalah untuk mencerminkan identitas daerah serta membentuk karakter siswa yang berbudaya dan berwawasan luas, sesuai dengan konteks lingkungan mereka.
Pengembangan ini menunjukkan komitmen Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah dalam menyediakan pendidikan yang relevan dan berakar pada identitas lokal. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan generasi muda yang cerdas, berbudaya, dan memiliki rasa cinta tanah air yang kuat, siap menghadapi masa depan.
Sumber: AntaraNews
Advertisement