Ratusan siswa di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dilaporkan mengalami gejala keracunan makanan massal. Kejadian ini terjadi setelah mereka menyantap hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa, 16 September.
Gejala seperti pusing, mual, dan muntah mulai dirasakan pada hari yang sama dan memuncak pada Rabu, 18 September, menyebabkan 657 siswa harus mendapatkan penanganan medis di puskesmas setempat. Anggota Komisi IV DPRD Garut, Yudha Puja Turnawan, mendesak pemerintah daerah untuk mengungkap tuntas penyebab insiden ini.
Dugaan awal mengarah pada kualitas makanan yang disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Al-Bayyinah, dengan siswa melaporkan makanan terasa basi. Durasi panjang antara waktu masak dan konsumsi menjadi sorotan utama dalam insiden Keracunan Makanan Garut ini.
Advertisement
Advertisement
Yudha Puja Turnawan dari DPRD Garut menegaskan pentingnya investigasi komprehensif terhadap insiden Keracunan Makanan Garut. Ia menyatakan bahwa banyak aspek yang perlu diperiksa dan diuji laboratorium, tidak hanya oleh Dinas Kesehatan. Peran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga krusial untuk mengetahui penyebab pasti keracunan ini.
Pemerintah daerah diminta untuk tidak hanya fokus pada bahan baku makanan, tetapi juga proses pengolahan, kondisi sanitasi fasilitas, dan kualitas air yang digunakan. Yudha menyoroti perlunya pemeriksaan terkait kepemilikan Sertifikat Layak Higiene Sanitasi (SLHS) oleh SPPG penyedia makanan.
"Kondisi sanitasi, higienis juga kan ini, SPPG yang bersangkutan sudah ada belum izin SLHS," kata Yudha, menekankan pentingnya standar kebersihan. Ia juga sempat mendatangi lokasi SPPG namun tidak berhasil menemui pihak penyedia MBG secara langsung.
Advertisement
Advertisement
Dari informasi yang dihimpun Yudha dari siswa yang dirawat di Puskesmas Kadungora, terungkap bahwa makanan MBG yang disantap terasa basi. Siswa melaporkan bahwa makanan tersebut dimasak pada pukul 1 dini hari dan baru dikonsumsi saat waktu Dzuhur.
"Karena terlalu lama durasinya, terlalu jedanya lama itu, dari masa ke distribusi, pada 16 September itu hari Selasa kan ya, itu dimasak jam 1 dini hari dimakan Dzuhur," ungkap Yudha. Jeda waktu yang panjang ini diduga kuat menjadi faktor pemicu Keracunan Makanan Garut.
Dinas Kesehatan Garut telah mengambil sampel makanan untuk uji laboratorium, namun Yudha mengkritisi bahwa sampel yang diambil hanya sisa bahan baku dari lemari pendingin. Ia khawatir hasil uji lab tersebut mungkin tidak menunjukkan adanya racun jika tidak diambil dari sampel makanan yang sudah jadi atau air.
Advertisement
Advertisement
Yudha menegaskan bahwa tidak hanya bahan baku makanan yang harus diuji, tetapi juga sumber air dan sanitasi. Penting untuk memastikan tidak ada bakteri seperti E. coli yang mencemari menu MBG, yang dapat menyebabkan diare, mual, dan pusing pada siswa.
Untuk mencegah terulangnya insiden Keracunan Makanan Garut di masa mendatang, DPRD Garut merekomendasikan beberapa langkah. Ini termasuk pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan air, serta evaluasi rutin proses produksi pangan di SPPG.
Rekomendasi lainnya meliputi penyediaan air bersih yang memenuhi standar kesehatan untuk pencucian bahan pangan, pelatihan keamanan pangan bagi penjamah makanan, dan pengetatan pengawasan suhu penyimpanan serta distribusi pangan. Setiap SPPG diharapkan sudah memiliki SLHS sebagai jaminan kualitas.
Advertisement
- Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan air secara komprehensif.
- Evaluasi rutin proses produksi pangan di SPPG agar sesuai standar kebersihan pangan.
- Penyediaan air bersih yang memenuhi standar kesehatan untuk proses pencucian bahan pangan.
- Pelatihan keamanan pangan siap saji bagi seluruh penjamah di SPPG.
- Pengetatan pengawasan suhu penyimpanan dan distribusi pangan.
Sumber: AntaraNews