Fakta Mengejutkan: 6 Jenazah Korban Runtuhnya Pondok Al Khoziny Sidoarjo Masih Diidentifikasi
Tim DVI Polda Jatim masih terus melakukan identifikasi terhadap enam jenazah korban runtuhnya Pondok Pesantren Al Khoziny Sidoarjo, sementara sampel DNA telah dikirim ke Jakarta.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur masih bekerja keras. Mereka mengidentifikasi enam jenazah korban runtuhnya Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo. Proses krusial ini dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya untuk memastikan identitas para korban.
Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Jatim, Kombes Pol M. Khusnan, menjelaskan bahwa identifikasi sudah berlangsung sejak Minggu pagi, 5 Oktober. Dari total 32 kantong jenazah yang diterima, enam di antaranya masih dalam tahap pemeriksaan post-mortem untuk dicocokkan dengan data antemortem.
Secara keseluruhan, pihak kepolisian menerima 37 kantong jenazah, termasuk lima korban yang sebelumnya telah terkonfirmasi meninggal dunia. Hingga saat ini, delapan korban telah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada pihak keluarga.
Proses Identifikasi Berlangsung 24 Jam Nonstop
Tim DVI Polda Jatim bekerja tanpa henti untuk memastikan proses identifikasi korban runtuhnya Pondok Al Khoziny berjalan cepat dan akurat. Dokter forensik dan seluruh anggota tim DVI bekerja secara bergantian dalam tiga shift untuk memaksimalkan waktu.
Kombes Khusnan menekankan pentingnya kecepatan dalam penanganan kasus ini. "Tim kami bekerja sepanjang waktu untuk memastikan proses identifikasi selesai dengan cepat," ujarnya. Upaya ini juga merupakan harapan besar dari keluarga korban yang menanti kepastian.
Sebagai bagian dari prosedur standar, sampel DNA dari seluruh jenazah dan bagian tubuh yang ditemukan telah diambil. Sampel-sampel ini kemudian dikirim ke Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri di Jakarta. Pengiriman dilakukan melalui jalur udara pada sore hari untuk mempercepat analisis.
"Semua sampel DNA telah diambil dan dikirim ke Jakarta," jelas Khusnan. Dia menambahkan, jika kemudian ditemukan bagian tubuh tambahan dengan hasil DNA yang cocok, akan digabungkan. Hal ini dilakukan karena bagian tersebut diyakini milik satu orang yang sama.
Kronologi Runtuhnya Pondok dan Jumlah Korban
Bencana runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Kabupaten Sidoarjo terjadi pada 29 September. Insiden tragis ini terjadi saat ratusan santri sedang melaksanakan salat berjamaah. Mereka berada di musala yang terletak di lantai dasar gedung tersebut.
Hingga saat ini, Direktur Operasi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Yudhi Bramantyo, melaporkan total 130 korban telah ditemukan. Dari jumlah tersebut, 104 orang berhasil selamat dan mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, 26 korban lainnya dinyatakan meninggal dunia dalam insiden tersebut.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengambil tindakan cepat merespons bencana ini. Pada Kamis (2 Oktober), mereka memutuskan untuk mengerahkan alat berat ke lokasi kejadian. Tujuannya adalah membantu proses evakuasi korban yang masih tertimbun reruntuhan.
Sebelum pengerahan alat berat, BNPB melakukan tiga kali asesmen lapangan secara menyeluruh. Asesmen ini berlangsung dari Rabu hingga Kamis, dengan fokus mendeteksi tanda-tanda kehidupan di antara korban yang terjebak. Berdasarkan hasil asesmen tersebut, Basarnas menyimpulkan tidak ada lagi tanda kehidupan.
Sumber: AntaraNews