Ayah dan anak ini belajar meretas secara otodidak dengan jumlah korbannya ada 100 orang lebih
Advertisement
Advertisement
Kedua pelaku berhasil meretas 48 handpone korban dengan menggondol uang Rp1,5 miliar.
Advertisement
kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Kombes Pol Dwi Subagio di Polda Jateng, Selasa (8/8).
merdeka.com
Advertisement
Ayah dan anak ini belajar meretas secara otodidak dengan jumlah korbannya ada 100 orang lebih. Pendidikan kedua pelaku juga tidak tinggi. "Kalau kita lihat pendidikan mereka tidak tinggi (belum sarjana). Tapi dugaannya mereka ini belajar dari orang lain," ungkapnya.
Total 48 handpone yang berhasil diretas pelaku. Para korbannya berbagai macam wilayah tidak hanya wilayah Jawa Tengah saja. "Tapi ada juga di wilayah Sulawesi, Sumatera dan Jawa Timur. Para pelaku berasal dari Tanjung Selatan Sumsel. Kami langsung lakukan penegakan hukum. Memang ada jaringan pencari dan pembuat nomor rekening," terang Dwi.
Advertisement
Dari hasil pemeriksaan, modus pelaku bekerja sama melakukan pengiriman APK melalui whatsapp. Kemudian, pelaku melakukan peretasan dan penipuan kepada korban dengan mengaku-ngaku dari pihak lain seperti kerabat, marketplace, provider hingga pihak bank. Setelah target menginstall APK, maka aktivitas target akan termonitor oleh pelaku. Salah satunya adalah notifikasi OTP login whatsapp, OTP login e-wallet atau lainya. Nantinya notifikasi OTP itu dimanfaatkan oleh pelaku untuk melakukan peretasan akun whatsapp target.
"Mereka main semacam group-group. Terkait di wilayah Jateng, ketika dia (pelaku) sudah terinfeksi dengan APK ini, maka pelaku akan bisa melihat di dalam data-data tersebut ada grup berapa banyak, nama orang siapa saja. Terus dia menyebar (APK) lagi, beruntun,"
jelasnya.
Advertisement
merdeka.com
Advertisement
"Handpone Kapolda tidak sampai bobol rekening, whatsapp saja. Laporan kepada masyarakat itu saja yang masuk," terangnya.
Penyidik saat ini tengah melakukan pengembangan terhadap kasus tersebut. Sebab, pihaknya mensinyalir adanya indikasi jaringan penipuan terhadap kelompok-kelompok tersebut. "Kami lagi menelusuri, dugaannya pelaku juga terlibat penipuan e-commerce. Mereka juga ini pelakunya. Mereka beralih ke APK. Mereka ini jaringan penipuan yang sekarang cenderung lebih besar karena meretas hp dan segala macamnya, termasuk membobol m-banking," tutupnya
Sebelumnya, sebanyak dua pelaku peretasan ponsel Kapolda Jawa Tengah (Jateng), Irjen Pol Ahmad Luthfi, ternyata berstatus ayah dan anak atau masih memiliki hubungan keluarga. Kedua pelaku peretas nomor ponsel Kapolda Jateng ini pun telah ditangkap di Ogan Kemiring Ilir (OKI), Sumatra Selatan, beberapa waktu lalu.
Advertisement