MR yang telah ditetapkan tersangka mengaku menyesali peristiwa itu terjadi. Namun, ia bercerita dirinya bersedia duel dengan korban karena kesal karena sering dikirimi korban pesan singkat melalui WhatsApp berisi tantangan berkelahi menggunakan senjata tajam.
Advertisement
"Dia (korban) bilang lagi gabut, ayo gladiator tapi pakai sajam. Sudah sering dia menantang saya, makanya saya ladeni."
Tersangka MR di Mapolresta Palembang, Rabu (9/8).
Advertisement
Advertisement
"Saya suruh teman merekam biar semua tahu saya pemberani dan meladeni tantangan," ujarnya.
Advertisement
"Itu (mengantar ke rumah sakit) di luar kesepakatan, cuma saya kasihan saja dia terluka," kata dia.
Diketahui, polisi awalnya menduga korban tewas akibat aksi tawuran dengan kelompok remaja lain. Namun hal mengejutkan justru didapat penyidik dari pemeriksaan pelaku. Korban ternyata tewas akibat duel dengan pelaku. Kronologisnya, keduanya saling tantang melalui pesan singkat untuk bertarung. Mereka pun sepakat bertemu di TKP dengan membawa celurit dan pisau. Keduanya diantar teman masing-masing dengan menggunakan sepeda motor.
Advertisement
Kemudian, pelaku dan teman-temannya melarikan diri. Sadar atas perbuatannya, pelaku menyerahkan diri didampingi keluarganya, Senin (7/8) malam.
Advertisement
"Dari hasil pemeriksaan, korban bukan tewas karena tawuran, tapi duel dengan tersangka," ungkap Harryo, Selasa (8/8).
Dia menilai hal ini akibat kenakalan remaja yang tidak dibentengi rasa takut berbuat pidana dan dampak yang ditimbulkan. Perlu penyadaran lebih lanjut bagi kalangan ini, apalagi tersangka masih duduk di bangku SMA. "Duel remaja ini didasari sebuah permasalahan tidak berarti. Inilah uniknya remaja di Palembang," ujarnya. Tersangka MR merekam tersebut sebagai bukti ia berani menerima tantangan korban. Bahkan, video itu disebar ke kelompok remaja lain sebagai bentuk pengakuan sosok hebat dan jantan.