DPRD Malang Gelar Jazz Parlement 2026, Galang Donasi Bencana Sumatera dan Jaring Aspirasi Rakyat

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Malang sukses menggelar Jazz Parlement 2026, sebuah acara musik yang sekaligus menjadi wadah DPRD Malang galang donasi bencana Sumatera serta berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
DPRD Malang Gelar Jazz Parlement 2026, Galang Donasi Bencana Sumatera dan Jaring Aspirasi Rakyat
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Malang sukses menggelar Jazz Parlement 2026, sebuah acara musik yang sekaligus menjadi wadah DPRD Malang galang donasi bencana Sumatera serta berinteraksi langsung dengan masyarakat. (AntaraNews)

Malang, Jawa Timur – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Malang bersama masyarakat setempat menggalang bantuan kemanusiaan bagi korban bencana alam yang melanda Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Penggalangan donasi ini dilakukan melalui gelaran “Jazz Parlement 2026” yang berlangsung pada Minggu malam, 1 Februari 2026, di halaman gedung DPRD setempat.

Ketua DPRD Kabupaten Malang, Darmadi, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bentuk kepedulian dan dukungan terhadap para korban yang membutuhkan uluran tangan. Acara ini dirancang untuk tidak hanya mengumpulkan dana, tetapi juga sebagai wadah interaksi antara wakil rakyat dan konstituennya.

Selain donasi langsung, bantuan juga dihimpun melalui lelang berbagai karya seni yang melibatkan pegiat seni lokal. Kegiatan ini juga dimeriahkan oleh penampilan musisi ternama, Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto, bersama Kiai Kanjeng, menarik perhatian banyak warga Kabupaten Malang.

Gelaran Jazz Parlement 2026 tidak hanya sekadar konser musik, melainkan sebuah platform inovatif yang memadukan hiburan dengan aksi sosial. Ketua DPRD Kabupaten Malang, Darmadi, mengungkapkan bahwa acara ini sengaja dibalut dengan lelang donasi untuk saudara-saudara di Sumatera dan Aceh yang sangat membutuhkan bantuan.

Menurut Darmadi, “Ketimbang acara yang biasa saja, mending dibalut dengan lelang donasi untuk saudara kita yang berada di Sumatera-Aceh. Mereka butuh banyak uluran tangan baik dari pemerintah dan masyarakat di Indonesia.” Lelang karya seni, mulai dari lukisan hingga batik tulis, menjadi salah satu sumber utama pengumpulan donasi, menunjukkan kreativitas dalam beramal.

Partisipasi musisi seperti Noe Letto dan Kiai Kanjeng turut menyemarakkan suasana, menarik antusiasme masyarakat untuk datang dan berkontribusi. Hingga Minggu malam, donasi yang terkumpul hampir mencapai Rp400 juta, dengan potensi penambahan karena penggalangan masih dibuka.

Lebih dari sekadar penggalangan dana, Jazz Parlement juga dimanfaatkan sebagai ruang bagi anggota dewan untuk berinteraksi langsung dengan seluruh warga Kabupaten Malang. Darmadi menyatakan bahwa melalui acara ini, para anggota dewan berupaya menjaring aspirasi dan memahami setiap persoalan yang ada di lingkungan masyarakat.

Acara ini diharapkan dapat memperkuat hubungan dan kedekatan antara wakil rakyat dengan masyarakat, bahkan menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik terhadap kinerja legislatif. “Kami siap dimarahi rakyat,” tegas Darmadi, menunjukkan keterbukaan anggota dewan.

Anggota DPRD Kabupaten Malang, Abdul Qodir, menambahkan bahwa bantuan yang terkumpul, baik dari donasi maupun lelang, akan disalurkan melalui lembaga pemerintah atau DPRD Malang dalam bentuk infrastruktur yang dibutuhkan. Ia juga memastikan bahwa event musik ini akan menjadi embrio dan akan diteruskan di tahun-tahun mendatang sebagai agenda rutin.

Pakar Komunikasi Universitas Airlangga (Unair), Dr. Suko Widodo, Drs., M.Si, menyoroti gelaran Jazz Parlement sebagai bentuk mengembalikan keakraban sosial yang mulai terkikis oleh kehadiran media sosial. Menurutnya, acara semacam ini merupakan strategi komunikasi kultural yang sangat relevan.

Dr. Suko Widodo menekankan bahwa bagi masyarakat Indonesia, interaksi tatap muka masih sangat dibutuhkan untuk membangun hubungan yang lebih erat dan personal. “Ini gaya strategi komunikasi kultural dan memang bagi masyarakat Indonesia tatap muka masih dibutuhkan,” tuturnya. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan langsung dan humanis masih efektif dalam menjembatani komunikasi antara pemerintah dan rakyat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi