Sembilan orang warga sipil tewas dalam insiden ledakan dalam proses pemusnahan amunisi di Garut, Jawa Barat, Senin (12/5). Warga mengenal daerah ini sebagai ‘daerah peledakan’.
Sekretaris Kecamatan Cibalong, Garut, Jawa Barat, Sahrul Akbar menceritakan,lokasi peledakan memang sering digunakan untuk tempat meledakan amunisi atau bahan peledak (handak) yang kedaluarsa. Namun ia tidak mengetahui secara pasti sejak kapan lokasi tersebut digunakan untuk tempat peledakan.
Karena seringnya digunakan untuk tempat meledakan, lokasi tersebut pun oleh warga disebut sebagai daerah peledakan. “Namanya daerah Peledakan, Desa Sagara, Kecamatan Cibalong,” jelasnya.
Dia menuturkan, lokasi tempat peledakan dengan pemukiman warga cukup jauh. Secara geografis, lokasinya lebih dekat dengan bibir Pantai Selatan Garut.
“Jarak dari lokasi kejadian ke pemukiman warga jauh, sekitar 5 kilometer. Karena memang lokasinya di pinggir pantai kurang lebih,” ungkapnya.
Untuk kejadian yang terjadi hari ini, diakuinya merupakan hari ketiga kegiatan peledakan. Namun meski begitu menurutnya memang tidak setiap hari dilakukan, selalu ada jeda dalam beberapa kegiatan peledakan.
“Tidak dilakukan tiap hari, jadi ada jeda. Kita dari kecamatan tidak setiap agenda itu tidak ikut ke sana,” ucapnya.
Terkait kronologis kejadian yang terjadi hari ini, Sahrul mengaku pihaknya tidak bisa menyampaikan hal tersebut karena menjadi ranahnya TNI. Walau begitu, ia menyebut bahwa Camat Cibalong saat ini berada di rumah sakit untuk memantau perkembangan.
“Informasi sementara korban. Warga Cibalong asli yang jadi korban belum teridentifikasi, keluarga masih pada kumpul di rumah sakit,” pungkasnya.
Untuk diketahui, ledakan terjadi Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, berbuah petaka. 13 orang meninggal dunia, Senin (12/5). Peristiwa tersebut terjadi saat pemusnahan amunisi tidak layak pakai.
Kepala Pusat Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana menjelaskan, awalnya pemusnahan berjalan lancar dan aman di dua lubang sumur yang sudah disiapkan.
Selain dua lubang sumur tersebut, TNI juga menyiapkan satu lubang lain. Lubang tersebut untuk pemusnahan detonator.
“Di luar dua sumur disiapkan satu lubang untuk menghancurkan detonator yang selesai digunakan dalam penghancuran dua sumur sebelumnya. Termasuk sisa detonator yang ada,” ujar Brigjen Wahyu dalam video yang diterima merdeka.com, Senin (12/5).
Dia mengatakan, ledakan terjadi di lubang tersebut. Saat itu, anggota TNI tengah menyusun detonator yang hendak dimusnahkan.
“Saat tim menyusun detonator dalam lubang, tiba-tiba terjadi ledakan yang mengakibatkan 13 orang meninggal,” kata Wahyu.
Dia menyebut, ada empat orang anggota TNI dan sembilan warga sipil yang menjadi korban tewas.
“Saat ini semua korban meninggal dievakuasi ke RSUD Pameungpeuk. Selain penanganan korban, upaya saat ini berkoordinasi aparat untuk amankan lokasi peledakan,” ucapnya.
Hingga saat in, pihak TNI belum menyimpulkan penyebab ledakan yang menewaskan 13 orang.
“Penyebab ledakan masih penyelidikannya lokasi jauh dari permukiman warga,” tutupnya.
Berikut identitas korban tewas dalam tragedi pemusnahan amunisi tak layak pakai di Garut:
1. AGUS BIN KASMIN, alamat Kp. Cimerak Kec. Cibalong
2. IPAN BIN OBAR, alamat Kp Cimerak Kec. Cibalong
3. ANWAR BIN INON,alamat Kp. Cidahon Kec. Pameungpeuk
4. ENDANG, alamat Singajaya
5. YUS IBING BIN INON, alamat Kp. Cidahon Kec. Pameungpeuk
6. IYUS RIJAL, alamat Kp. Cimerak Kec. Cibalong
7. TOTO, Alamat Kp. Cimerak Kec. Cibalong
8. DADANG, alamat Kp. Sakambangan Kec. cibalong
9. RUSTIAWAN, alamat Kp. Cimerak Kec. Cibalong
10. Kolonel CPL ANTONIUS HERMAWAN. ST. MM, Tim GUPUSMI 3 Jakarta
11. Mayor COL ANDA ROHANDA, Tim GUPUSMI 3 Jakarta
12. KOPDA ERI DWI PRIAMBODO, Tim GUPUSMI 3 Jakarta
13. PRATU APRIL SETIAWAN, Tim GUPUSMI 3 Jakarta