Seorang videografer, Amsal Christy Sitepu, mengungkap pengalaman tidak menerima pembayaran setelah menyelesaikan proyek pembuatan video profil desa.
Hal itu disampaikannya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi III DPR RI yang digelar secara daring, Senin (30/3/2026).
Dalam rapat tersebut, Amsal menjelaskan bahwa proyek yang dimaksud terjadi pada periode 2021 hingga 2022, melibatkan dua desa.
"Di tahun 2022 ada dua desa, sebenarnya dua desa yang di tahun 2022 ini, Pak. Karena di 2021 sudah kami kerjakan tapi dananya tidak cukup nih, baru tetap kami tambahin beberapa pekerjaan di 2022 agar pekerjaan ini tetap bisa direalisasikan karena sudah diambil," kata Amsal dalam rapat.
Advertisement
Proyek Selesai, Pembayaran Tak Kunjung Diterima
Meski pekerjaan telah rampung, Amsal mengaku tidak mendapatkan pembayaran dari salah satu desa karena keterbatasan anggaran. Bahkan, menurutnya, tidak ada proses serah terima hasil pekerjaan.
"Dan faktanya, Pak, ada desa yang sudah kami ambil videonya sudah selesai, itu tidak ada serah terimanya bahkan, maksudnya itu tidak dibayarkan karena anggarannya tidak cukup," tegasnya.
Kendati demikian, ia menyebut kondisi tersebut tidak pernah dipermasalahkan. Hal itu disebutnya sebagai bagian dari risiko pekerjaan, mengingat sistem pembayaran dilakukan setelah proyek selesai.
"Itu pun kami nggak pernah permasalahkan, Pak. Ada desa, karena memang itu menjadi risiko kami. Karena pembayaran dilakukan setelah pekerjaan selesai," sambungnya.
Advertisement
Nilai Proyek Termasuk Rendah
Dalam kesempatan yang sama, Amsal juga menyoroti nilai proyek yang menurutnya relatif rendah dibandingkan dengan biaya dan risiko kerja di lapangan.
"Karena jujur sebenarnya untuk harga Rp 30 juta ini, Pak, sangat murah, Pak. Ini enggak bisa contoh untuk ganti gear nggak bisa. Apalagi dalam pekerjaan itu ke desa-desa di Kabupaten Karo, jauh-jauh dan kemudian Pak, risiko kerjanya lebih tinggi," ungkapnya.
Ia menjelaskan, proses produksi kerap dilakukan di wilayah dengan medan yang cukup berat seperti hutan dan area perladangan. Bahkan, ia mengaku pernah mengalami insiden saat menggunakan peralatan kerja.
"Karena ini kan hutan, perladangan, bahkan ada drone kami yang jatuh disambar elang gitu, Pak. Jadi sebenarnya risiko kerjanya ini lebih tinggi gitu," pungkasnya.