Dibayar Rp150.000, Begini Cara Kerja Warga Buka Selongsong Amunisi Kedaluwarsa TNI AD di Garut
Kepada Dedi Mulyadi, Agus mengaku diupah sebesar Rp150 ribu ketika bekerja sebagai buruh pembuka selongsong amunisi.
Seorang warga bernama Agus Setiawan, warga di sekitar lokasi pemusnahan amunisi tidak layak pakai mengaku bahwa dirinya bersama rekannya yang menjadi korban bukanlah pemulung, melainkan buruh.
Hal tersebut terungkap ketika dia melakukan perbincangan dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat mendatangi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pameungpeuk.
Agus setiawan diketahui merupakan salah satu saksi mata pada saat kejadian ledakan amunisi tidak layak pakai di blok peledakan, Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, pada Senin (12/5).
Dia adalah kakak dari Rustiawan yang merupakan salah satu warga sipil yang menjadi korban meninggal dalam peristiwa ledakan yang menyebabkan 13 orang meninggal dunia.
Dalam perbincangan bersama Dedi Mulyadi, Agus mengatakan bahwa dirinya sudah lama bekerja sebagai buruh di lokasi peledakan amunisi tidak layak pakai. Dia bertugas sebagai pembuka selongsong amunisi milik Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Dia menjelaskan bahwa bersama rekan-rekannya dia membuka selongsong ketika amunisi tidak layak pakai tiba di sekitar lokasi pemusnahan dengan durasi kerja sekitar 12 hari.
“Datang lagi barang, ikut lagi kerja," jelas Agus.
Kepada Dedi Mulyadi juga Agus mengaku diupah sebesar Rp150.000 ketika bekerja sebagai buruh pembuka selongsong amunisi. Namun menurutnya memang ada yang diupah lebih besar, sekitar Rp200.000 untuk koordinator atau sesepuh.
Meski begitu, Agus menyebut bahwa dia bersama kawan-kawannya juga ambil pekerjaan sambilan sebagai pemulung sisa-sisa amunisi. Namun dia memastikan bahwa pengambilan sisa amunisi itu dilakukan setelah peledakan lalu kemudian menjualnya.
Dedi Mulyadi Jamin Biaya Hidup & Pendidikan Anak Korban Ledakan
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, selasa (13/5) mendatangi keluarga korban ledakan amunisi tidak layak pakai di Cibalong, Garut. Kedatangannya untuk menyampaikan belasungkawa dan juga memberikan bantuan untuk pemulasaraan jenazah dan lainnya.
Dalam kesempatan itu juga, Dedi mengatakan bahwa korban ledakan meninggalkan anak dan istri. Oleh karenanya, selaku gubernur dia menjamin kehidupan, khususnya bagi anak-anak korban yang belum menikah.
“Yang pertama belasungkawa, tanggung jawab sebagai kepala daerah. Yang meninggal itu meninggalkan anak dan meninggalkan istri, sehingga yang pertama untuk-anaknya (korban ledakan amunisi tidak layak pakai) yang belum menikah itu menjadi tanggung jawab gubernur,” kata Dedi.
Dedi mengatakan bahwa tanggung jawab yang diambil itu mulai dari Pendidikan hingga kehidupan sehari-harinya.
“Biarkan kami yang mengambil alih tanggung jawab itu. Sekolah sampai kuliah tanggung jawab saya,” ungkapnya.
Selain itu juga, Dedi mengatakan bahwa sebagai bentuk rasa empati, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga memberikan bantuan untuk pemulasaraan jenazah dan kegiatan-kegiatan ritual lainnya yang biasa dilakukan dalam sebuah keluarga ketika ada yang meninggal dunia.
“Nilainya per orang Rp50 juta,” katanya.