Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Di Rwanda, serat pohon pisang digunakan untuk pembalut

Di Rwanda, serat pohon pisang digunakan untuk pembalut Pembalut dari kulit pohon pisang. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Pembalut merupakan perangkat sekali pakai yang digunakan oleh wanita di saat menstruasi. Penggunaan pembalut sudah muncul dalam catatan tertulis sejak abad ke-10. Sepanjang sejarah, wanita menggunakan berbagai macam perlindungan menstruasi antara lain sejenis bantalan yang dijahit dan celemek menstruasi. Orang Inuit (Eskimo) memakai kulit kelinci sementara di Uganda yang dipakai adalah papirus. Cara yang cukup umum adalah dengan menggunakan potongan kain tua.

Di Rwanda, serabut pohon pisang juga dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembalut wanita. Inovasi ini dilakukan oleh Elizabeth Scharpf, alumni Universitas Harvard. Awalnya, Elizabeth mempelajari fenomena di lingkungan pekerja pabrik di Mozambik saat masih bekerja di Bank Dunia.

Melalui salah satu pemiliki pabrik, Elizabeth mendapati bahwa 20 persen pekerja wanita di pabrik tersebut tidak masuk kerja secara rutin hingga 30 hari dalam setahun akibat tidak mampu membeli pembalut saat menstruasi.

Elizabeth kemudian mendirikan Sustainable Health Enterprises (SHE) pada tahun 2009. Head of Business Operations SHE Rwanda, Yvonne Krywyj menjelaskan, Elizabeth yang memiliki latar belakang pendidikan teknologi lingkungan kemudian memutuskan mencari material lokal yang memiliki daya serap tinggi untuk dijadikan bahan dasar pembalut.

"Dicoba (bahan dasar dari) mangga, daun pisang juga serat pohon pisang, hanya itu yang saya ingat. Mereka mendapati serat pohon pisang adalah yang terbaik dan mereka mulai bekerja dengan 2 petani wanita untuk mengekstraksi serat pohon pisang. Serat itu juga dihasilkan dari batang pohon pisang, sehingga tidak mubazir dibakar sebagai sampah," tutur Yvonne kepada merdeka.com, Rabu (22/4).

Pisang merupakan salah satu jenis tanaman yang tumbuh subur di Rwanda dan menjadi sumber penghasilan warga setempat. SHE kemudian membangun sebuah pabrik di Rwanda, 2 jam perjalanan dari Ibu Kota Rwanda, Kigali. "Kami mempekerjakan 11 orang pekerja, sebagian besar perempuan. Kemudian kami memproduksi sekitar 500 pembalut sehari," tutur Yvonne.

Yvonne menjelaskan, harga pembalut berbahan dasar serat pisang yang ramah lingkungan tersebut akan dibanderol jauh lebih murah dibandingkan dengan harga pembalut sintetis. "Satu pembalut akan dihargai 100 Franc (Rwanda Franc), lebih murah dibandingkan harga pembalut termurah dengan merek internasional (impor). Karena kami menggunakan material lokal dan murah," ujar Yvonne.

Selain fokus terhadap masalah menstruasi di Rwanda, SHE juga berharap pembalut berbahan dasar serat pisang tersebut bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja dan meningkatkan taraf hidup masyarakat Rwanda.

(mdk/siw)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP