David Jacobs, petenis difabel yang mengharumkan nama Indonesia
Merdeka.com - Kadang, sebagian orang masih menganggap penderita cacat fisik merupakan aib. Bahkan, penderita cacat tidak mungkin dapat produktif layaknya orang normal.
Fakta itu seketika dibantah oleh para penyandang cacat fisik seperti David Jacobs. Meskipun tidak memiliki tangan kanan yang sempurna, dia mampu menorehkan prestasi luar biasa dan mampu mengharumkan nama bangsa di bidang olahraga tenis meja.
Dalam olimpiade penyandang difabel, Paralympic 2012 di London, Inggris, dia berhasil menyumbang medali perunggu bagi tim Indonesia.
Hobi bermain tenis meja bermula saat David berusia 10 tahun karena melihat kemahiran ketiga kakaknya Rano, Piere, dan Joe. Hobi itu ternyata mengantarkan dia menjuarai sejumlah lomba tenis meja tingkat pelajar.
David sebenarnya juga pernah merasakan rendah diri saat masih menjadi pelajar dan mahasiswa. Pengalaman yang selalu dia ingat adalah menunjukkan tangan kiri saat dipanggil guru untuk presensi.
"Saya tidak bisa angkat tangan saat diabsen, sehingga saya memakai tangan kiri. Saya dibilang tidak sopan dan dimarahi," ujar David ketika dihubungi di Jakarta, Jumat (7/6).
Tetapi, hal itu tidak berpengaruh pada hobinya. Melihat prestasi David yang begitu cemerlang, sang ayah kemudian memercayakan dia bergabung dengan tim nasional junior.
Tahun 1997, tim nasional memutuskan David harus menjalani pelatihan di Shi Cha Hai Sport, China, untuk persiapan menghadapi Pekan Olahraga Nasional.
David pun berlatih bersama rekan-rekannya yang memiliki fisik normal. "Awal saya terjun bukan di pertandingan para, tapi di normal," kata David.
Namun demikian, pelatihan itu ternyata membawa hasil yang tidak mengecewakan. "Di PON saya dapat perak," ujar dia.
Usai itu, David semakin intens menorehkan sejumlah prestasi di sejumlah kejuaraan baik tingkat nasional hingga regional. Pada 2010, David memutuskan untuk mundur dari tim nasional dan mempersiapkan diri mengikuti Paralympic.
Sebelum dapat mengikuti ajang bergengsi bagi penyandang difabel, David mengumpulkan berbagai informasi dan mendapati syarat dapat mengikuti Paralympic harus pernah mengikuti beberapa kejuaraan.
Sejak 2011, David mengikuti sejumlah kejuaraan tenis meja di beberapa negara dan terakhir di Taiwan. "Saat di Taiwan itulah, ternyata saya sudah masuk dalam peringkat 10 besar dunia. Saya bisa ikut Paralympic," ungkapnya.
Hasilnya, lagi-lagi tidak mengecewakan. David mampu menyumbang perunggu dalam ajang bergengsi bagi penyandang difabel seluruh dunia. (mdk/mtf)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya