Curah Hujan Rendah, Sungai Barito Surut Drastis, Transportasi Air di Kalteng Terganggu

Curah hujan yang minim di wilayah hulu menyebabkan Sungai Barito surut drastis, mengganggu aktivitas transportasi kapal dan tongkang di Kalimantan Tengah dan berpotensi berdampak lebih luas.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Curah Hujan Rendah, Sungai Barito Surut Drastis, Transportasi Air di Kalteng Terganggu
Curah hujan yang minim di wilayah hulu menyebabkan Sungai Barito surut drastis, mengganggu aktivitas transportasi kapal dan tongkang di Kalimantan Tengah dan berpotensi berdampak lebih luas. (AntaraNews)

Sungai Barito di Kalimantan Tengah mengalami penyurutan debit air yang signifikan sejak awal Januari 2026. Kondisi ini terutama terjadi di wilayah Kabupaten Murung Raya dan Barito Utara, mengakibatkan terganggunya jalur transportasi sungai yang vital. Penyurutan ini telah berlangsung selama sepekan terakhir, memengaruhi kelancaran pelayaran di salah satu sungai utama Kalimantan.

Penyebab utama fenomena Sungai Barito surut ini adalah rendahnya tingkat curah hujan di daerah hulu sungai. Menurut Kelompok Tenaga Teknis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Barito Utara, Sunardi, curah hujan jauh di bawah normal meski masih dalam musim hujan. Data BMKG menunjukkan angka curah hujan yang sangat minim di kedua kabupaten tersebut.

Akibat kondisi ini, kapal dan tongkang bertonase besar tidak dapat berlayar, bahkan beberapa di antaranya kandas di sejumlah titik. Kepala Dinas Perhubungan Barito Utara, Mihrab Buanapati, melalui petugas pelabuhan Syamsu Rizal, mengonfirmasi bahwa ketinggian debit air Sungai Barito terus menurun. Ini berdampak langsung pada distribusi logistik dan mobilitas warga di sepanjang aliran sungai.

Data dari BMKG Barito Utara menunjukkan bahwa curah hujan di Kabupaten Murung Raya hingga 20 Januari 2026 hanya mencapai 184 milimeter. Angka ini jauh di bawah rata-rata normal untuk periode yang sama, yang berkisar antara 218-381 milimeter. Kondisi cuaca yang tidak biasa ini menjadi faktor krusial penyebab Sungai Barito surut.

Kabupaten Barito Utara juga mengalami kondisi serupa dengan curah hujan sekitar 132,7 milimeter hingga 25 Januari 2026. Padahal, curah hujan normal pada bulan Januari di wilayah ini seharusnya mencapai 347-335 milimeter. Perbedaan signifikan ini menjelaskan mengapa debit air Sungai Barito terus menurun drastis.

Sunardi dari BMKG menjelaskan bahwa meskipun prakiraan untuk bulan Februari masih menunjukkan musim hujan kategori menengah, dampak dari curah hujan rendah sebelumnya sangat terasa. Penurunan debit air ini tidak hanya mengganggu transportasi tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terkait potensi lainnya. Namun, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diperkirakan masih kecil karena petani belum memulai pembukaan lahan.

Musim kemarau di kedua daerah tersebut diperkirakan baru akan tiba pada bulan Juli. Pada periode Juni hingga Agustus, warga biasanya mulai membuka lahan untuk menanam padi ladang. Oleh karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan meskipun risiko karhutla saat ini masih rendah akibat Sungai Barito surut.

Kondisi Sungai Barito surut telah menyebabkan gangguan serius pada sektor transportasi air. Syamsu Rizal, petugas UPTD Dermaga Muara Teweh, menyatakan bahwa debit air Sungai Barito terus turun sejak sepekan terakhir. Hal ini membuat kapal dan tongkang bertonase besar tidak dapat berlayar dengan aman.

Ketinggian debit air di skala tinggi air (STA) Muara Teweh pada Minggu (25/1) siang tercatat hanya 2,00 centimeter. Angka ini mengalami penurunan dari 2,10 centimeter pada Minggu pagi, menunjukkan kondisi yang tidak aman bagi pelayaran kapal besar. Sungai Barito yang membentang sepanjang 900 kilometer dari hulu di Murung Raya hingga Kalimantan Selatan kini menghadapi tantangan navigasi.

Banyak kapal tunda (tugboat) dan tongkang, baik yang bermuatan maupun kosong, terpaksa bersandar di berbagai lokasi. Beberapa bahkan kandas di kawasan Teluk Siwak, Kecamatan Montallat, menunggu debit air kembali normal. Kondisi ini menghambat distribusi barang dan logistik yang sangat bergantung pada jalur sungai.

Tidak hanya angkutan barang, kapal penumpang bis air yang melayani rute Muara Teweh - Banjarmasin setiap hari Kamis juga tidak dapat berlayar. Meskipun demikian, transportasi kecil seperti kapal cepat atau speedboat masih beroperasi normal untuk rute Muara Teweh - Buntok dan desa-desa sekitarnya, melayani kebutuhan mobilitas warga.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi