Pemerintah China menyampaikan kecaman keras terhadap serangan militer Israel yang menargetkan wilayah Lebanon. Beijing menegaskan bahwa kedaulatan suatu negara harus dihormati dan tidak boleh dilanggar oleh pihak manapun. Pernyataan ini disampaikan menyusul serangkaian serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Israel.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers di Beijing pada Kamis (9/4), secara eksplisit menyatakan keprihatinan mendalam. Ia menekankan pentingnya perlindungan terhadap warga sipil serta harta benda mereka di tengah situasi yang memanas. Serangan tersebut terjadi pada Rabu (8/4), menyasar daerah Dahiyeh di selatan Beirut.
Insiden ini merupakan bagian dari gelombang serangan terbesar yang terjadi sejak konflik antara Israel dan kelompok pejuang Hizbullah pecah pada 2 Maret lalu. Beijing menyerukan semua pihak terkait untuk menahan diri dan bekerja sama meredakan ketegangan. Situasi di kawasan tersebut memerlukan pendekatan diplomatik untuk mencari solusi damai.
Advertisement
Advertisement
Kementerian Luar Negeri China dengan tegas menyatakan bahwa kedaulatan dan keamanan Lebanon adalah hal yang mutlak dan tidak boleh diusik. Pernyataan ini menjadi penekanan utama dalam respons Beijing terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. Perlindungan terhadap warga sipil serta aset-aset mereka juga menjadi poin krusial yang disoroti oleh China.
Mao Ning mendesak semua pihak yang terlibat untuk menjaga ketenangan dan menunjukkan sikap menahan diri. Tujuannya adalah untuk segera meredakan situasi yang semakin memanas di kawasan tersebut. China berharap agar ketegangan tidak semakin meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.
Selain itu, China juga meminta pihak-pihak terkait untuk memanfaatkan momentum gencatan senjata sementara antara Iran dan Amerika Serikat. Kesepakatan ini diharapkan dapat menjadi peluang emas untuk menyelesaikan perselisihan melalui jalur politik dan diplomatik. Penyelesaian konflik secara damai menjadi prioritas utama bagi China.
Advertisement
Advertisement
Tentara Israel sebelumnya mengklaim telah melancarkan serangan terhadap lebih dari 100 lokasi dalam kurun waktu 10 menit. Target-target serangan tersebut tersebar di Beirut, Lembah Beqaa, dan wilayah Lebanon selatan. Serangan pada Rabu (8/4) ini dicatat sebagai "gelombang terbesar" sejak konflik dengan Hizbullah dimulai pada 2 Maret.
Dampak dari serangan Israel sangat signifikan, dengan sedikitnya 254 korban tewas dilaporkan, termasuk 92 orang di Beirut. Selain itu, 1.165 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan di seluruh wilayah Lebanon. Angka-angka ini menunjukkan skala kehancuran dan penderitaan yang ditimbulkan oleh konflik.
Lebanon News Agency (NNA) melaporkan bahwa jet-jet tempur Israel melakukan serangan udara di beberapa kota. Kota-kota tersebut termasuk Kafra, Jmaijmeh, Safad al-Battikh, Majdal Selm, Deir Antar, serta area di sekitar jembatan Qasmiyeh. Infrastruktur dan permukiman warga menjadi sasaran utama dalam operasi militer ini.
Advertisement
Advertisement
Serangan Israel ini terjadi setelah Iran dan Amerika Serikat pada Selasa (7/4) mengumumkan gencatan senjata dua pekan. Kesepakatan ini bertujuan untuk membuka jalan bagi penghentian agresi AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai sejak 28 Februari 2026. Namun, Israel tampaknya tidak menghentikan serangannya di Lebanon.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa penghentian serangan Israel di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan dengan Iran. Hal ini dikarenakan keterlibatan gerakan Hizbullah dalam konflik tersebut. Meskipun demikian, Trump menyebut telah meminta kepala otoritas Israel, Benjamin Netanyahu, untuk mengurangi intensitas serangan terhadap Lebanon.
Iran menganggap serangan yang terus berlanjut di Lebanon sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang telah disepakati dengan Washington. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, memperingatkan bahwa kelanjutan serangan Zionis Israel dapat membuat negosiasi gencatan senjata menjadi sia-sia. Ia menegaskan komitmen Iran terhadap Lebanon.
Advertisement
Pezeshkian melalui media sosial X pada Kamis (9/4) menyatakan, "Berlanjutnya serangan akan membuat negosiasi sia-sia; jari kami tetap berada di pelatuk, dan Iran tidak akan meninggalkan saudaranya di Lebanon." Kantor Berita Fars juga melaporkan bahwa Teheran telah menangguhkan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz sebagai respons.
Advertisement
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan peningkatan signifikan jumlah korban jiwa dan luka-luka akibat konflik yang berkelanjutan. Sejak 2 Maret, total korban tewas telah mencapai 1.739 orang, sementara korban luka-luka mencapai 5.873 orang. Angka ini mencerminkan dampak kemanusiaan yang parah dari agresi militer.
Selain korban jiwa, krisis pengungsian juga menjadi perhatian serius di Lebanon. Sebanyak 138.000 orang terpaksa mencari perlindungan di 678 lokasi penampungan kolektif. Fasilitas-fasilitas ini berjuang untuk menampung jumlah pengungsi yang terus bertambah.
Sebagian besar pengungsi, atau lebih dari 800.000 orang, tersebar di berbagai komunitas penampung atau lingkungan informal. Mereka seringkali menghadapi akses yang sangat terbatas terhadap layanan dasar seperti air bersih, sanitasi, dan perawatan kesehatan. Situasi ini memperparah kondisi kemanusiaan di negara tersebut.
Advertisement
Sumber: AntaraNews