Cerita 2 bocah blasteran Belanda jadi pemulung & pemanggang kemplang
Merdeka.com - Dua bocah ini, Febriyanti (15) dan Samsul Bahri atau akrab disapa Al (13), menginspirasi banyak orang karena kegigihannya untuk sekolah dan membantu orangtua. Kakak beradik keturunan Belanda ini menjadi pemanggang kemplang dan mencari barang rongsokan.
Raut muka letih terlihat dari wajah Febriyanti saat menyambut kedatangan merdeka.com di rumahnya di Jalan A Kohar, RT 13, RW 3, Nomor 059 C, Kelurahan Saung Naga, Baturaja Barat, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumsel, beberapa waktu yang lalu.
Sambil menyelah keringat yang bercucuran di wajahnya usai membantu ibunya memanggang kemplang di bagian dapur, Yanti, sapaan akrabnya, mempersilakan wartawan duduk di ruang tamu berukuran 4x6 meter itu.
"Silakan duduk kak, maaf berantakan," ujar Yanti sambil mencium tangan wartawan ini disambut Al yang melakukan hal serupa baru-baru ini.
Dalam rumah itu memang nampak sangat berantakan dan tak ubahnya seperti kapal pecah. Barang-barang tak tersusun rapi. Televisi 14 inci terpasang seadanya di atas meja kayu di pojok ruangan. Terlihat juga belasan kantong kemplang panggang yang siap jual bertumpuk di tengah ruang tamu.
Di depan rumah, terdapat sebuah gerobak kecil. Di dalamnya ada beberapa karung berisi barang rongsokan, seperti botol air mineral, kaleng, dan lainnya. Dari bagian dapur, terlihat Maslina (52), ibu Yanti sedang sibuk memanggang kemplang di tungku seadanya. Kepulan asap dan aroma panggangan sangat memenuhi rumah itu.
"Maaf dek tak bisa keluar, ini lagi manggang, tanggung," teriak Maslina dari tempat pemanggangan.
Setelah mengambil jemuran kemplang dari atas rumah, Usman Gumanti (57) duduk dan memperkenalkan satu per satu anaknya yang menjadi perbincangan banyak orang di Baturaja dan media sosial sepekan terakhir.
Usman menuturkan, Yanti merupakan anak ke empat dari lima bersaudara. Dia kini duduk di bangku kelas satu SMA swasta di kota itu. Yanti rela membantu ibunya memanggang kemplang hingga malam sepulang dari sekolah. Pekerjaannya itu sudah berlangsung sejak masih SD.
"Ya, beginilah, selain hari Minggu, Yanti bantu-bantu ibunya. Pulang sekolah tidur sebentar, habis itu panggang kemplang," ungkap Usman.
Sementara, anak bungsunya Al sejak kelas 3 SD sudah mencari nafkah tambahan dengan mencari barang bekas di seputaran Taman Kota Baturaja. Al berangkat pukul tiga sore dan pulang jam sepuluh malam.
"Kalau Al tiap hari begitu. Maunya kerja terus, malam-malam baru pulang," ujarnya.
Meski masih terbilang anak-anak, Usman mengaku tidak memaksa mereka membantu mencari uang. Ini merupakan kemauan dari anak-anaknya karena sadar dengan kondisi perekonomian keluarga.
"Tak pernah disuruh atau dipaksa. Kata mereka biar jadi orang sukses," kata dia.
Setiap hari memanggang kemplang dan mencari barang rongsokan, tak membuat prestasi mereka di sekolah anjlok. Bahkan, keduanya selalu menjadi juara kelas dari SD sampai sekarang.
"Alhamdulillah begitu. Karena mereka capek-capek kerja menyempatkan belajar tiap malam. Sebelum jam satu malam belum tidur kalo belum baca buku," tuturnya.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya