Cegah Penyakit, Kemenkes Susun Rekomendasi Aktivitas Fisik Berbasis Usia
Kementerian Kesehatan sedang menyusun Rekomendasi Aktivitas Fisik berbasis usia untuk meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia, merespons rendahnya tingkat aktivitas fisik warga.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah mempersiapkan panduan rekomendasi aktivitas fisik yang disesuaikan dengan usia masyarakat Indonesia. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi publik dalam menjaga kebugaran tubuh. Program ini akan diintegrasikan dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang sudah berjalan di fasilitas kesehatan.
Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat dan Primer, Maria Endang Sumiwi, menyatakan bahwa langkah ini merupakan respons terhadap data survei. Survei menunjukkan bahwa 37,4 persen penduduk Indonesia berusia di atas sepuluh tahun belum memenuhi standar aktivitas fisik yang memadai. Kemenkes bertekad mengubah pola pikir masyarakat dari pengobatan menjadi pencegahan kesehatan.
Rekomendasi ini akan menjadi bagian dari program edukasi yang lebih luas, khususnya saat masyarakat mengikuti CKG. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan aktivitas fisik yang kurang, resep aktivitas fisik personal akan diberikan. Hal ini diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk lebih aktif dan bugar dalam keseharian.
Pentingnya Rekomendasi Aktivitas Fisik untuk Kesehatan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan setidaknya 30 menit aktivitas fisik setiap hari untuk menjaga kesehatan optimal. Namun, data terkini di Indonesia menunjukkan kondisi yang memprihatinkan terkait tingkat kebugaran masyarakat. Hingga November 2025, sebanyak 95,6 persen atau sekitar 15,2 juta penduduk masih tergolong kurang aktif secara fisik. Angka ini menjadi dasar kuat bagi Kemenkes untuk segera merumuskan panduan baru.
Maria Endang Sumiwi menjelaskan bahwa program CKG seringkali mengidentifikasi tingkat aktivitas yang rendah pada individu. "Kami sedang menyiapkan program edukasi: ketika kami bertemu orang-orang saat CKG, bagaimana hasil mereka? Jika aktivitas fisik mereka kurang, kami membuat resep bagi mereka yang memiliki aktivitas fisik rendah,” ujarnya. Pendekatan ini menekankan pentingnya intervensi personal.
Peningkatan kesehatan tidak hanya berfokus pada pengobatan penyakit yang sudah ada, melainkan juga pada upaya preventif. Rekomendasi aktivitas fisik yang disesuaikan usia akan menjadi panduan yang konkret. Contohnya, anjuran jalan cepat 30 menit setiap pagi bagi kelompok usia tertentu. Ini adalah langkah nyata menuju gaya hidup yang lebih sehat.
Peran Cek Kesehatan Gratis (CKG) dalam Implementasi
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi platform utama dalam implementasi rekomendasi aktivitas fisik ini. Saat ini, CKG telah dilaksanakan oleh 10.300 pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) di seluruh Indonesia. Jangkauan yang luas ini memungkinkan Kemenkes untuk menjangkau masyarakat secara efektif. Ini merupakan upaya masif untuk mempromosikan langkah-langkah kesehatan preventif.
Kemenkes berencana memperluas jangkauan CKG pada tahun depan, tidak hanya terbatas pada Puskesmas. Program ini akan merambah ke klinik-klinik primer lainnya. Ekspansi ini sejalan dengan pergeseran prioritas sektor kesehatan yang kini lebih menekankan pada pencegahan daripada pengobatan. Masyarakat diharapkan semakin mudah mengakses layanan pemeriksaan kesehatan.
Indonesia bertekad untuk mengubah pola pikir masyarakat dari hanya mencari perawatan saat sakit menjadi fokus menjaga kesehatan jangka panjang. Tujuan utamanya adalah untuk mencapai kondisi tubuh yang bugar dan prima. Dengan demikian, rekomendasi aktivitas fisik yang terintegrasi dengan CKG akan menjadi pilar utama dalam mewujudkan masyarakat yang lebih sehat.
Indikator Kebugaran dan Pentingnya Aktivitas Fisik
Untuk menilai tingkat kebugaran seseorang, terdapat lima indikator utama yang digunakan oleh Kemenkes. Indikator tersebut meliputi komposisi tubuh, daya tahan kardiovaskular dan perut, kekuatan otot, fleksibilitas, serta daya tahan otot. Penilaian komprehensif ini membantu menentukan kondisi fisik seseorang secara akurat. Dengan demikian, rekomendasi aktivitas fisik dapat diberikan secara tepat sasaran.
Maria Endang Sumiwi menegaskan perbedaan penting antara sehat dan bugar. “Kami dapat menentukan apakah seseorang benar-benar bugar atau tidak. Sehat belum tentu bugar. Sehat berarti bebas dari penyakit, tetapi kebugaran juga ditentukan oleh apakah kita bisa naik turun tangga tanpa merasa lelah,” jelasnya. Pernyataan ini menyoroti bahwa bebas penyakit saja tidak cukup.
Kebugaran adalah kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan berlebihan. Melalui rekomendasi aktivitas fisik yang tepat, masyarakat diharapkan dapat mencapai tingkat kebugaran yang optimal. Ini bukan hanya tentang menghindari penyakit, tetapi juga tentang meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Upaya ini menjadi krusial untuk masa depan bangsa yang lebih produktif.
Sumber: AntaraNews