Musim hujan seringkali membawa berbagai penyakit yang berpotensi menjadi kritis jika tidak ditangani dengan tepat. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, SpA, Subsp IPT(K) menekankan pentingnya imunisasi. Imunisasi lengkap dan terjadwal adalah benteng utama pencegahan infeksi serius.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI tersebut menjelaskan bahwa imunisasi yang dipenuhi sesuai usia sangat efektif. Bahkan, tidak ada kata terlambat untuk mengejar imunisasi yang tertinggal. Langkah proaktif ini dapat melindungi anak dari komplikasi berbahaya.
Pencegahan penyakit musim hujan tidak hanya sebatas pengobatan saat sakit. Vaksinasi yang dianjurkan IDAI dapat dipenuhi di setiap jenjang usia. Imunisasi ganda (multiple injection) juga membantu memastikan semua vaksin diberikan tepat waktu.
Advertisement
Advertisement
Prof. Anggraini Alam dari IDAI menegaskan bahwa imunisasi yang lengkap sesuai jadwal adalah kunci. Jika ada imunisasi yang terlewat, penting untuk segera mengejarnya tanpa penundaan. Ini memastikan perlindungan optimal terhadap berbagai patogen penyebab penyakit.
Konsep imunisasi ganda (multiple injection) memungkinkan pemberian beberapa vaksin dalam satu kunjungan. Hal ini mempermudah orang tua dalam memenuhi jadwal imunisasi anak. Selain itu, booster imunisasi juga krusial, terutama menjelang atau selama musim penghujan.
Mengikuti anjuran vaksinasi dari IDAI merupakan langkah preventif yang sangat dianjurkan. Vaksinasi tahunan juga sebaiknya dikejar lebih awal untuk memberikan perlindungan maksimal. Ini adalah investasi kesehatan jangka panjang bagi anak-anak.
Advertisement
Advertisement
Masyarakat perlu sangat memperhatikan fase kritis dari penyakit yang sering muncul saat musim hujan. Salah satunya adalah demam berdarah dengue (DBD) yang ditandai dengan demam turun di bawah 38 derajat Celcius tanpa obat-obatan. Gejala ini seringkali menyesatkan dan memerlukan kewaspadaan tinggi.
Tanda bahaya pada DBD meliputi perut sakit, mual, muntah-muntah, dan lemas hingga tertidur. Perdarahan seperti mimisan atau gusi berdarah, serta perubahan kesadaran seperti mengigau atau kejang, adalah indikator serius. Kondisi-kondisi ini mengharuskan pasien segera dibawa ke rumah sakit untuk penanganan medis.
Flu juga memiliki fase kritis yang perlu diwaspadai, seperti demam tinggi, batuk parah, kejang, dan napas cepat dengan tarikan dinding dada. Bibir membiru atau kurang cairan karena jarang buang air kecil selama 5-6 jam juga merupakan tanda bahaya. Pada anak, tampak lemas saat flu juga menjadi sinyal untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Advertisement
Leptospirosis, penyakit lain di musim hujan, memiliki dua kondisi yakni fase akut dan fase imun yang perlu diwaspadai. Meskipun belum ada vaksin, penyakit ini dapat diobati dengan antibiotik karena disebabkan oleh bakteri. Diare juga berisiko tinggi saat musim hujan, terutama jika anak malas minum, buang air kecil sedikit, feses berdarah, demam tinggi, muntah hebat, atau kejang.
Advertisement
Penyakit seperti campak, yang sangat menular di musim hujan, berisiko tinggi mengalami komplikasi serius. Jika memasuki fase kritis, campak dapat menyebabkan infeksi telinga, paru-paru, bahkan otak. Ini menunjukkan bahwa campak bukanlah penyakit ringan yang bisa diabaikan.
Rubella juga berbahaya, terutama bagi ibu hamil, karena infeksi dapat menyebabkan cacat lahir pada bayi. Prof. Anggraini menekankan bahwa cacar air dan campak tidak boleh dianggap enteng. Keduanya dapat menimbulkan berbagai komplikasi, termasuk Reye Sindrom jika aspirin diberikan pada anak cacar air, yang merusak hati dan otak.
Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau flu Singapura, meskipun sering terlihat ringan pada kulit, juga memiliki potensi komplikasi serius. HFMD menyebabkan sariawan, dehidrasi karena anak malas minum, dan sangat menular melalui air liur. Masyarakat seringkali tidak menyangka bahwa gejala berat yang dialami adalah akibat HFMD.
Advertisement
Sumber: AntaraNews