Calon Pendeta Ajak Penyintas Longsor Tapanuli Utara Jaga Lingkungan, Sebut Bencana Peringatan Tuhan

Calon Pendeta HKBP Parsingkaman mengajak penyintas longsor Tapanuli Utara di Adiankoting untuk menjaga lingkungan. Ia menyebut bencana ini sebagai peringatan dari Tuhan agar manusia lebih peduli alam.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Calon Pendeta Ajak Penyintas Longsor Tapanuli Utara Jaga Lingkungan, Sebut Bencana Peringatan Tuhan
Pasca-bencana, penyintas Longsor Tapanuli Utara di Desa Pagaran Lambung I diajak untuk menjaga lingkungan sebagai bentuk peringatan ilahi dan upaya mencegah kejadian serupa di masa depan. (AntaraNews)

Calon Pendeta Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Parsingkaman, Renal Kristanto Lumban, menyerukan kepada seluruh jemaat di Desa Pagaran Lambung I, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara, untuk senantiasa menjaga lingkungan. Ajakan ini disampaikan dalam khotbahnya pada Minggu (25/1), menyusul peristiwa longsor yang melanda wilayah tersebut.

Lumban menegaskan bahwa bencana longsor yang terjadi bukan sekadar musibah alam biasa, melainkan sebuah peringatan dari Tuhan. Ia mengaitkan kejadian ini dengan tindakan manusia yang kurang peduli terhadap kelestarian alam, sehingga berpotensi memicu kerusakan lebih lanjut.

Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat setempat untuk lebih proaktif dalam merawat ekosistem sekitar dan menjaga hutan. Tindakan preventif ini dianggap krusial demi melindungi nyawa serta harta benda dari ancaman bencana serupa di masa mendatang.

Dalam khotbahnya, Renal Kristanto Lumban menekankan pentingnya kesadaran kolektif terhadap lingkungan. Ia secara gamblang menyatakan bahwa peristiwa longsor di Desa Pagaran Lambung I adalah refleksi dari kelalaian manusia dalam menjaga keseimbangan alam.

Lumban mengajak jemaat untuk merenungkan kembali hubungan antara manusia dan alam. Menurutnya, jika lingkungan tidak dijaga dengan baik, maka dampaknya akan sangat merugikan, mengancam keselamatan jiwa dan keberlangsungan tempat tinggal.

Ajakan ini tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga praktis, mendorong tindakan nyata dalam pelestarian hutan dan ekosistem. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat terhindar dari musibah serupa di masa depan.

Selain seruan menjaga lingkungan, Renal Kristanto Lumban juga mengajak jemaat untuk tetap teguh dan damai dalam menghadapi situasi sulit pasca-bencana. Ia berharap agar mereka dapat segera bangkit dan kembali menjalani kehidupan normal.

Antusiasme jemaat dalam mengikuti ibadah pada hari Minggu menunjukkan semangat kebersamaan dan ketahanan. Pengurus Gereja HKBP Parsingkaman, Pangihutan Hutagalung, menyebutkan bahwa gereja ini memiliki sekitar 160 kepala keluarga jemaat dan merupakan gereja tertua kedua di wilayah tersebut.

Sebelumnya, personel TNI dari Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 906/Sanalenggam telah bekerja keras membersihkan material longsor di sekitar Gereja HKBP. Upaya ini bertujuan membuka akses jalan menuju gereja, memungkinkan kendaraan roda dua dan empat dapat melintas kembali, mendukung proses pemulihan dan aktivitas keagamaan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi