Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) RI, Letjen TNI (Purn) Nugroho Sulistyo Budi, memberikan pernyataan penting. Ia menegaskan bahwa besarnya investasi finansial tidak serta-merta menjamin keamanan siber suatu negara. Pernyataan ini disampaikan dalam Rapat Kerja Daerah dan Komdiphoria 2025.
Acara tersebut berlangsung di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada hari Kamis, 26 September. Nugroho menyoroti bahwa banyak pihak masih mengabaikan pentingnya sistem keamanan siber. Pandangan ini seringkali menyebabkan kerentanan meskipun telah ada alokasi dana besar.
Menurutnya, investasi triliunan rupiah di sektor IT dan keamanan siber belum mampu membendung serangan. Hal ini terbukti dari kasus perbankan di Amerika Serikat dan Arab Saudi yang tetap menjadi target. Bahkan, perusahaan teknologi raksasa pun menghadapi tantangan serupa.
Advertisement
Advertisement
Investasi Fantastis, Ancaman Tetap Nyata
Nugroho Sulistyo Budi mencontohkan beberapa kasus yang menunjukkan bahwa investasi finansial fantastis tidak selalu berbanding lurus dengan keamanan siber. Perbankan di Amerika Serikat, misalnya, telah menginvestasikan triliunan rupiah untuk IT dan keamanannya. Namun, sektor ini masih sering menjadi korban serangan siber yang merugikan.
Situasi serupa juga terjadi di Arab Saudi, yang dikenal dengan investasi besar di berbagai sektor. Meskipun demikian, negara tersebut juga tidak luput dari ancaman dan serangan siber yang kompleks. Ini menunjukkan bahwa pendekatan keamanan siber tidak bisa hanya mengandalkan aspek finansial semata.
Bahkan, perusahaan teknologi global seperti Samsung Electronic mengalokasikan sekitar 260 juta dolar AS untuk keamanan informasi pada tahun 2024. Apple juga berinvestasi 500 miliar dolar AS di Amerika Serikat untuk empat tahun ke depan, termasuk membangun server AI yang kuat. Namun, pengeluaran besar ini tidak otomatis menghilangkan risiko keamanan siber sepenuhnya.
Advertisement
Advertisement
Tiga Pilar Utama Strategi Keamanan Siber Optimal
Kepala BSSN menekankan bahwa ada tiga pilar utama yang saling berkaitan untuk mewujudkan Strategi Keamanan Siber yang optimal di Indonesia. Ketiga pilar ini harus diperbaiki dan dikembangkan secara simultan, melampaui sekadar besarnya alokasi anggaran. Ini bukan hanya tentang berapa banyak uang yang dihabiskan, melainkan bagaimana sumber daya tersebut dimanfaatkan secara efektif.
Pilar pertama adalah ketersediaan teknologi maju, yang mencakup infrastruktur dan perangkat lunak keamanan terbaru serta adaptasi terhadap inovasi. Pilar kedua adalah tata kelola yang baik, melibatkan kebijakan, prosedur, dan regulasi yang efektif dalam mengelola risiko siber. Sementara itu, pilar ketiga adalah sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi sesuai bidang siber, yang mampu mengoperasikan dan mengelola sistem dengan baik.
Nugroho menjelaskan bahwa ketiga hal ini harus berjalan selaras dan saling mendukung untuk menciptakan ekosistem keamanan siber yang kuat. "Jika teknologi baik tetapi tata kelola tidak berjalan dengan baik dan tidak dikelola oleh SDM yang kompeten, hal ini akan menjadi masalah besar," ujarnya, menegaskan pentingnya integrasi. Keterkaitan ini menjadi kunci dalam membangun pertahanan siber yang tangguh dan responsif.
Advertisement
Ia juga menyoroti bahwa pada era sekarang ini, sistem keamanan siber seringkali dianggap tidak begitu penting sehingga diabaikan oleh beberapa pihak. Padahal, di tengah pesatnya digitalisasi, ancaman siber semakin canggih dan berpotensi menimbulkan kerugian besar. Oleh karena itu, ketiga pilar ini harus menjadi atensi serius bagi para penyelenggara sistem layanan digital di berbagai daerah, demi menjaga kedaulatan siber nasional.
Sumber: AntaraNews