BPK Fasilitasi Suku Moi Klabra Perkuat Warisan Budaya Lokal Melalui Program Banpem

Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XXIII memfasilitasi Suku Moi Klabra di Sorong untuk menjaga warisan budaya lokal melalui Banpem, memastikan identitas mereka lestari.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
BPK Fasilitasi Suku Moi Klabra Perkuat Warisan Budaya Lokal Melalui Program Banpem
Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XXIII memfasilitasi Suku Moi Klabra di Sorong untuk menjaga warisan budaya lokal melalui Banpem, memastikan identitas mereka lestari. (AntaraNews)

Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XXIII telah mengambil langkah konkret dalam upaya pelestarian budaya di Papua Barat Daya. Mereka memfasilitasi masyarakat adat Suku Moi Klabra di Kampung Klaflum, Distrik Konhir, Kabupaten Sorong. Inisiatif ini dilakukan melalui Program Bantuan Pemerintah (Banpem) Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan.

Tujuan utama dari program ini adalah untuk menjaga dan memperkuat warisan budaya lokal yang kaya. Langkah ini diharapkan dapat memastikan nilai-nilai budaya Suku Moi Klabra tetap hidup dan relevan. Selain itu, program ini bertujuan agar budaya tersebut dapat diwariskan secara utuh kepada generasi penerus di tengah gempuran modernisasi.

Kepala BPK Wilayah XXIII, Dr. Nahar Cahyandaru, menegaskan komitmen lembaganya dalam pelestarian ini. Ia menyatakan bahwa BPK hadir untuk memastikan budaya di wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya tetap lestari. Budaya diharapkan menjadi kekuatan sosial yang menggerakkan pembangunan daerah.

Dr. Nahar Cahyandaru menjelaskan bahwa Banpem Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan bukan sekadar bantuan dana. Program ini merupakan bentuk nyata komitmen negara dalam menjaga identitas dan kearifan lokal masyarakat adat. Kehadiran program ini diharapkan mampu memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi Suku Moi Klabra.

Melalui Banpem, BPK berupaya agar budaya lokal tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang. Ini adalah langkah strategis untuk memastikan bahwa nilai-nilai luhur dapat terus menjadi pedoman hidup. Warisan budaya Suku Moi Klabra menjadi fokus utama dalam upaya pelestarian ini.

Inisiatif ini juga mencerminkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat adat. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem budaya yang kuat dan berkelanjutan. Dengan demikian, kekayaan budaya dapat terus dijaga dan diperkenalkan kepada khalayak luas.

Berkaitan dengan upaya tersebut, BPK Wilayah XXIII baru-baru ini melaksanakan kegiatan focus group discussion (FGD). FGD ini bertujuan untuk sosialisasi nilai-nilai Budaya Suku Moi Klabra di Konhir. Acara penting tersebut diselenggarakan di Klaflum, Kabupaten Sorong.

Melalui kegiatan FGD ini, masyarakat Moi Klabra difasilitasi untuk mendiskusikan berbagai aspek adat mereka. Mereka juga didorong untuk mendokumentasikan serta menyosialisasikan nilai-nilai adat tersebut. Ini mencakup hukum adat, tradisi turun-temurun, hingga sistem sosial yang berlaku di tengah masyarakat.

Proses penting ini melibatkan berbagai pihak, termasuk tetua adat (ne fulus) yang memiliki pengetahuan mendalam. Organisasi pemuda setempat juga turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Kolaborasi dengan pemerintah setempat menjadi kunci dalam menjaga warisan budaya Suku Moi Klabra.

Kegiatan FGD juga menjadi platform untuk menerapkan lima nilai budaya penting Suku Moi Klabra. Nilai-nilai tersebut meliputi konsultasi adat, tanggung jawab generasi, pencatatan sejarah, keterbukaan, dan kepemilikan komunal terhadap budaya. Ini adalah fondasi kuat untuk pelestarian jangka panjang.

Kepala BPK Wilayah XXIII, Dr. Nahar Cahyandaru, menekankan pentingnya peran masyarakat adat dalam upaya pelestarian ini. Ia menyatakan, "Peran masyarakat adat sangat dibutuhkan." Menurutnya, melestarikan budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tugas bersama semua pihak.

Upaya ini diharapkan menjadi langkah krusial agar nilai-nilai budaya lokal tidak tergerus oleh waktu. Nilai-nilai ini harus dapat diwariskan kepada generasi muda sebagai identitas dan pedoman hidup yang kuat. Warisan budaya Suku Moi Klabra adalah cerminan jati diri bangsa.

Nahar Cahyandaru juga menyampaikan harapannya agar program ini terus menjadi ruang kolaboratif. Kemitraan antara pemerintah, masyarakat adat, dan pelaku budaya sangat esensial. Tujuannya adalah menjadikan kebudayaan sebagai modal sosial untuk mendukung pembangunan di Papua Barat Daya.

Dengan demikian, program Banpem dan FGD ini tidak hanya melestarikan tradisi. Ini juga membangun fondasi kuat bagi pembangunan berkelanjutan yang berakar pada kearifan lokal. Masa depan Warisan Budaya Suku Moi Klabra terlihat cerah dengan adanya dukungan ini.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi