Bocah 12 Tahun di Kalteng Sempat Disodomi Sebelum Dipenggal, Polisi Tangkap Pelaku

Selasa, 10 Desember 2019 19:15 Reporter : Saud Rosadi
Bocah 12 Tahun di Kalteng Sempat Disodomi Sebelum Dipenggal, Polisi Tangkap Pelaku ilustrasi garis polisi. ©2015 merdeka.com/darmadi sasongko

Merdeka.com - Ahmad (37), warga Katingan, Kalimantan Tengah, ditangkap polisi. Dia adalah pelaku sodomi dan pemenggal kepala bocah H (12). Jasad bocah H ditemukan dalam kondisi mengenaskan di bekas galian tambang masyarakat setempat, Jumat (6/12). Ahmad kini mendekam di penjara Polda Kalteng.

"Korban sebelum dibunuh disodomi pelaku," kata Kabid Humas Polda Kalimantan Tengah Kombes Pol Hendra Rochmawan dikonfirmasi merdeka.com, Selasa (10/12).

Hendra menerangkan, pelaku diduga kuat memiliki kelainan seksual, meski memiliki anak dan istri. Itu dibuktikan dari beberapa laporan terdahulu bahwa pelaku kerap melakukan pelecehan seksual terhadap anak kecil warga setempat.

"Terhadap korban (H), pelaku tidak merencanakan. Dia bertemu korban di areal kebun yang memang menjadi tempat bermain dan mencari buah asam," ujar Hendra.

"Begitu ketemu korban tengkuk korban dipukul dan itu spontan. Korban kemudian pingsan, dan di situ pelaku melakukan pencabulan itu. Dari hasil forensik diterangkan ada bekas pencabulan, ada robek 8 cm akibat benda tumpul. Begitu catatan hasil forensik," tambah Hendra.

Pelaku kemudian membawa ke galian bekas tambang, mirip kolam air itu. "Sempat disembunyikan di situ. Tidak puas, pelaku ada sadisnya juga. Untuk menghilangkan bukti, malah dipenggal sekalian," ungkap Hendra.

"Itu untuk mempersulit pengungkapan. Kepala korban kemudian dibawa jalan sekitar 100 meter dari lokasi pinggir air, dan ditanam di dekat sarang burung walet warga. Parang yang dibawa pelaku kemudian ditaruhnya di rumah dan dia kabur. Jadi jasad korban dibiarkan saja ditutupi semak belukar," terang Hendra lagi.

Pelaku Ahmad bekerja serabutan baik itu kuli bangunan, berkebun hingga mencari bijih emas. "Orangnya sehat, badan bagus. Cuma pendidikannya tidak tamat SD. Dia juga jawab pertanyaan penyidik dengan lugas," jelas Hendra.

"Ngakunya dia menyesal. Tapi rekam jejaknya, meski dia bilang sekali berbuat itu tapi dia bohong. Kan laporan dari warga sudah banyak tentang perbuatan dia di kampung. Jadi kita akan tindaklanjuti dengan tim ahli tentang psikologi dia," terang Hendra lagi.

Hendra merinci, peristiwa pembunuhan itu dilakukan pelaku pada hari Selasa (3/12), dan jenazah korban ditemukan 3 hari kemudian, Jumat (6/12). "Pelaku ditangkap hari Sabtu (7/12) di daerah hulu sungai. Dari lokasi penemuan korban enam jam ke hulu sungai," jelas Hendra.

Kronologi Penangkapan Ahmad

Awal kejadian dimulai saat korban pamit bersama dengan teman-temannya untuk mencari asam di hutan. Berselang 2 jam kemudian, teman korban yang awalnya bersama korban datang ke rumah korban.

"Orang tua korban ini bingung. Bukannya tadi janjian main dengan kamu (teman korban yang datang dan bertanya). Ditunggu sampai sore tidak ada. Keluarga korban mencari keesokan hari, mulai tanggal 4 Desember dan menemukan korban tanggal itu, dengan kondisi perut sudah kembung karena di air," ungkap Hendra lagi.

Polisi yang menerima kabar temuan korban dalam kondisi mengenaskan, bergegas menyelidiki. "Jasad korban dibawa ke Puskesmas. Waktu itu masih rancu. Kemudian ada dokter forensik datang ke Puskesmas," terang Hendra.

Di sela penemuan jasad korban, salah seorang warga kampung bernama Ahmad terlihat bergegas meninggalkan kampung. "Itu nyambung dengan kondisi hasil autopsi, ada bekas pencabulan. Ini yang lari ini (Ahmad), punya perilaku yang sama dengan kejadian yang dialami korban," sebut Hendra.

"Warga curiga, jangan-jangan dia (Ahmad) pelakunya. Pelaku pergi itu, banyak warga yang tahu, perginya pakai kapal klotok (sejenis perahu motor) ke arah hulu sungai. Maka dari itu Kepolisian melakukan pengejaran," tambah Hendra.

Pelaku Ahmad, kini meringkuk di penjara Polda Kalimantan Tengah. Dia dijerat pasal 340 KUHP dan UU Perlindungan Anak. "Kami di Kalteng, ada warga mengisukan kayau. Kayau itu, ritual penggal kepala. Orang Kalimantan itu, ada isu seperti itu," sebut Hendra lagi.

"Kita putus isu itu, tidak ada kaitannya kejadian itu dengan tradisi itu di Kalimantan. Mencari kepala orang itu tidak ada. Perbuatan pelaku, benar-benar murni kriminal. Percayakan kepada polisi untuk menangani ini. Karena sekali lagi, ini kriminal murni," tutup Hendra. [cob]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini