BNPT Nilai ASN Terlibat Terorisme Fenomena Baru, Antarkementerian Harus Koordinasi

Sabtu, 16 November 2019 15:29 Reporter : Tri Yuniwati Lestari
BNPT Nilai ASN Terlibat Terorisme Fenomena Baru, Antarkementerian Harus Koordinasi Ilustrasi Teroris. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Tim Densus 88 Anti Teror mengamankan empat pelaku terduga terorisme di Banten, pada Rabu(13/11) kemarin. Salah satu dari empat orang itu adalah karyawan BUMN.

Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Prof Irfan Idris, keterlibatan seorang karyawan perusahaan ternama dalam gerakan radikal merupakan perlu didalami secara serius oleh stakeholder terkait.

"Inikan fenomena baru terjaringnya ASN ke dalam sebuah aksi-aksi teror yang didahului radikal. Kita harus melakukan koordinasi secara ketat dengan kementerian-kementerian terkait. Indikasi itu ada, banyak pengaduan," ujar Irfan dalam diskusi Perspektif Indonesia, di kawasan Kebon Sirih, Jakarta, Sabtu (16/11).

Irfan mengatakan, membuktikan keterlibatan seorang dalam gerakan radikal tidak bisa hanya karena dugaan kecurigaan masyarakat. Negara, katanya, sudah mempunyai regulasi sendiri dalam mengatur ASN yang terpapar radikalisme

"Tidak bisa kita hanya dengan kecurigaan oknum, lantas segalanya mempengaruhi kita tetap mendengarkan suara-suara masyarakat dan masukan tentu kalau hanya curiga-curiga itukan tidak berdasar," ucap Irfan.

"Inilah tantangan besar kenapa radikal dan terorisme dianggap serius karena dia butuh strategi yang serius program yang serius dengan kebijakan yang tentunya luar biasa juga," sambungnya.

1 dari 1 halaman

Upaya BNPT Cegah Paham Radikal Sampai ke Kampus

BNPT, katanya, terus berupaya mencegah paham radikal tumbuh. Salah satunya dengan diskusi-diskusi atau pemaparan bahaya radikalisme.

"Kepala BNPT secara masif mendatangi menteri-menteri dari kementerian untuk memberikan materi nuansa kebangsaan, resonansi kebangsaan tentang bahaya radikalisme bagi calon ASN, termasuk di BUMN saya kira sudah sejak tahun lalu. Termasuk ke kampus-kampus," sambung Irfan.

Khusus untuk lingkungan kampus, dia berharap ada kerja sama yang baik melalui program monitoring dan pembinaan tentang radikalisme.

"Bahkan kalau perlu kita buka bentuk pusat deradikalisasi atau pusat wawasan modernisasi beragama di setiap kampus agar jangan selalu di alamatkan anarkis-anarkis itu kepada salah satu agama, karena tidak ada satupun agama yang mengajarkan aksi-aksi seperti itu," pungkasnya. [lia]

Baca juga:
Baku Tembak di Deli Serdang, 2 Terduga Teroris Tewas dan 1 Anggota Densus 88 Terluka
Teroris Level KW, Belajar Autodidak dan Alami Proses Radikalisasi Personal
Pengamat Nilai Aksi Teroris Sasar Polisi Berkolerasi dengan JAD
Pascabom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, 14 Terduga Teroris Ditangkap
Kapolda Sumut Sebut Modus Pelaku Teroris Tinggal di Kontrakan dan Tak Bersosialisasi
Curhat Menko Polhukam Mahfud MD, Pernyataannya Kerap Diadu Domba dengan Pejabat Lain

Topik berita Terkait:
  1. Terorisme
  2. Radikalisme
  3. PNS
  4. BNPT
  5. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini