Advertisement
Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Rustian, baru-baru ini menegaskan pentingnya pemahaman dan persiapan terhadap tiga fase kunci dalam manajemen bencana. Pernyataan ini disampaikan Rustian di Padang, Sumatera Barat, pada Jumat (02/1), menyoroti urgensi kesiapsiagaan di seluruh lapisan masyarakat dan pemerintahan.
Indonesia sebagai negara yang terletak di jalur Cincin Api Pasifik, memiliki kerentanan tinggi terhadap berbagai jenis bencana alam. Kondisi geografis ini menuntut semua pihak untuk selalu waspada dan siap menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa datang kapan saja.
Rustian menekankan bahwa bencana alam seringkali datang tanpa peringatan, sehingga dapat menimbulkan dampak yang sangat mematikan. Oleh karena itu, kesiapsiagaan yang komprehensif pada setiap fase mitigasi bencana adalah kunci untuk meminimalkan korban dan kerugian.
Advertisement
Advertisement
Rustian menguraikan bahwa kesiapsiagaan harus mencakup tiga fase utama: pra-bencana, saat bencana, dan pasca-bencana. Setiap fase memiliki peran vital dalam siklus mitigasi bencana yang efektif, membutuhkan koordinasi dan partisipasi aktif dari seluruh komponen masyarakat.
Dalam fase pra-bencana, upaya difokuskan pada pencegahan, peringatan dini, dan edukasi publik mengenai risiko bencana. Ini termasuk perencanaan evakuasi, pembangunan infrastruktur tahan bencana, serta pelatihan kesiapsiagaan bagi warga. Semua langkah ini bertujuan untuk mengurangi dampak yang mungkin terjadi.
Saat bencana terjadi, respons cepat dan terkoordinasi menjadi prioritas utama. Penyelamatan korban, penyediaan bantuan darurat, dan penanganan medis harus dilakukan secara efisien. Sementara itu, fase pasca-bencana melibatkan upaya rehabilitasi dan rekonstruksi untuk memulihkan kondisi masyarakat dan lingkungan yang terdampak. Pemerintah juga berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi para penyintas.
Advertisement
Advertisement
Sebagai contoh nyata tantangan yang dihadapi, Rustian menyoroti upaya pemulihan pasca-banjir bandang dan tanah longsor yang sedang berlangsung di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana ini telah menimbulkan dampak yang signifikan, termasuk hilangnya banyak nyawa.
Di Sumatera Barat, Rustian telah berkoordinasi langsung dengan Gubernur provinsi tersebut untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang diperlukan guna meminimalkan dampak bencana. Koordinasi awal ini sangat penting untuk memastikan respons yang cepat dan tepat sasaran di daerah terdampak.
Rustian mengungkapkan bahwa bencana di ketiga provinsi tersebut telah merenggut lebih dari 1.000 jiwa, dengan beberapa korban masih belum ditemukan. Di Sumatera Barat, pemerintah daerah dan keluarga korban telah sepakat untuk mengakhiri operasi pencarian dan penyelamatan.
Advertisement
Advertisement
BNPB juga memberikan apresiasi terhadap kinerja pemerintah provinsi dan daerah dalam menangani dampak bencana. Respons cepat dan efektif dari pemerintah lokal sangat krusial dalam situasi darurat untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa dan mengurangi penderitaan masyarakat.
Dari 15 kabupaten dan kota yang terdampak, 13 di antaranya telah menyatakan status darurat. Rustian menambahkan, 12 dari 13 wilayah tersebut kini telah berhasil keluar dari fase darurat, menunjukkan kemajuan signifikan dalam upaya pemulihan.
Data terbaru dari BNPB per Kamis, 1 Januari 2026, mencatat bahwa jumlah korban meninggal dunia akibat banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah mencapai 1.157 orang. Angka ini menjadi pengingat betapa pentingnya terus meningkatkan kapasitas mitigasi bencana di Indonesia.
Advertisement
Sumber: AntaraNews