BNPB sebut 2.113 orang tewas dan 1.309 hilang akibat bencana di Sulteng

Minggu, 21 Oktober 2018 03:03 Reporter : Nur Habibie
BNPB sebut 2.113 orang tewas dan 1.309 hilang akibat bencana di Sulteng Gempa di Palu. ©2018 AFP PHOTO/OLA GONDRONK

Merdeka.com - Penanganan darurat dampak gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah masih terus dilakukan. Percepatan pemulihan dampak bencana terus dintensifkan. Khususnya pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi. Seperti pelayanan medis, perbaikan infrastruktur dasar, dan normalisasi kehidupan masyarakat.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, masa tanggap darurat bencana masih diberlakukan hingga 26 Oktober 2018. Beberapa fasilitas publik seperti listrik dan komunikasi sebagian besar sudah pulih kembali di daerah terdampak bencana.

"Pemulihan BTS untuk komunikasi di Sulawesi Tengah dari total 3.519 BTS, mencapai 96,1 persen. Jaringan Telkomsel telah pulih 100 persen. Begitu juga dengan pasokan listrik. Tujuh gardu induk, 2.086 gardu distribusi dan 45 unit penyulang serta 70 dari 77 unit genset telah dioperasikan. Pelayanan listrik total mencapai 95 persen," kata Sutopo dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Sabtu (20/10).

"Beberapa daerah memang aliran listrik belum berfungsi di Kabupaten Donggala seperti di sebagian Kecamatan Sindue, Balaesang Tanjungdan Sirenja sehingga perlu dioperasikan genset dan pemasangan instalasi listrik di lokasi pengungsi," sambungnya.

Selain itu, 25 SPBU telah beroperasi di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Moutong, yang dibantu dengan 13 unit mobil tangki dengan dispenser, distribusi melalui 40 truk tangki BBM dengan mengerahkan 132 relawan operator SPBU.

Bukan hanya itu saja, kondisi perekonomian juga berangsur-angsur normal kembali. Sebanyak 25 pasar daerah, 3 pasar tradisional, 3 pasar swalayan, dan 17 perbangkan telah kembali beroperasi.

"Sekolah darurat telah dijalankan meski masih ada kekurangan tenda darurat dan sarana prasarana pendidikan dan belum semua siswa masuk sekolah," ujarnya.

Petugas gabungan bersama relawan juga sampe kini masih terus membersihkan puing-puing bangunan. Sebanyak 251 unit alat berat dikerahkan untuk membersihkan lingkungan dan lainnya, baik alat berat yang dibawah kendali TNI sebanyak 64 unit maupun di bawah kendali Kementerian PU PR sebanyak 187 unit.

Meskipun evakuasi korban sudah dihentikan secara resmi sejak 12 Oktober 2018, namun hampir setiap hari korban ditemukan oleh petugas dan relawan. Hingga saat ini, dampak bencana di Sulawesi Tengah tercatat 2.113 orang meninggal dunia, sebanyak 1.309 orang hilang, 4.612 orang luka-luka dan sebanyak 223.751 orang mengungsi di 122 titik.

"Sebaran 2.113 orang korban meninggal dunia adalah Kota Palu 1.703 orang, Donggala 171 orang, Sigi 223 orang, Parigi Moutong 15 orang, dan Pasangkayu 1 orang. Semua korban meninggal dunia telah dimakamkan, baik pemakaman massal maupun pemakanan keluarga," sebutnya.

Lalu, ia membantah terkait adanya pemberitaan soal dua orang warga Belanda yang meninggal akibat tertimpa reruntuhan Hotel Roa-Roa. Dengan cepat Tim Posko Kementerian Luar Negeri dan Basarnas menelusuri berita tersebut dan ternyata berita itu tidak benar.

"Dari 2.113 orang korban meninggal dunia, sudah termasuk 1 orang warga Korea Selatan yang meninggal dunia di reruntuhan Hotel Roa-Roa Kota Palu. Tim SAR gabungan yang dikoordinasikan oleh Basarnas hanya menemukan 1 jenasah warga negara Korea Selatan pada 4 Oktober 2018. Pencarian korban di Hotel Roa-Roa juga sudah dihentikan sejak 8 Oktober 2018 dan memang tidak ada korban lainnya," tegasnya.

Mendekati musim penghujan, kebutuhan huntara dan tenda yang layak untuk pengungsi menjadi kebutuhan mendesak. Begitu juga sarana prasana kebutuhan MCK, air bersih dan sanitasi dibangun di sekitar tempat pengungsian.

"Kebutuhan mendesak untuk pemenuhan kebutuhan pengungsi dan masyarakat terdampak masih diperlukan hingga saat ini. Kebutuhan mendesak antara lain beras, gula, makanan bayi, susu anak, susu ibu hamil, kantong plastic, tenda, selimut (bayi, anak-anak, dewasa), minyak kayu putih, sabun mandi, pasta gigi, minyak goring, seragam anak sekolah, buku dan peralatan sekolah, air bersih, MCK, penerangan di pengungsian, sanitasi, dan kebutuhan dasar lainnya," pungkasnya. [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini