Longsor besar melanda jalur nasional Trenggalek–Ponorogo di Km 16, tepatnya di Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, pada Selasa (3/3) petang. Peristiwa ini menyebabkan badan jalan tertutup total oleh material longsor, termasuk bongkahan batu berukuran besar. Proses pembersihan material longsor masih terus berlangsung hingga saat ini.
Koordinator Pos Basarnas Trenggalek, Bayu Prasetyo, menyatakan bahwa kondisi tanah di lokasi kejadian masih sangat labil dan berpotensi tinggi terjadi longsor susulan. Tim Basarnas telah melakukan asesmen mendalam untuk mengevaluasi risiko yang ada. Mereka bertindak sebagai pengawas keselamatan di lapangan.
Kondisi tanah yang menyerupai lumpur, minimnya vegetasi penahan, serta adanya aliran air baru yang meresap ke dalam tanah menjadi penyebab utama. Faktor-faktor ini memperparah tingkat kejenuhan tanah dan mengurangi daya dukungnya.
Advertisement
Advertisement
Hasil asesmen yang dilakukan oleh Basarnas menunjukkan bahwa tekstur tanah di lokasi longsor lebih menyerupai lumpur, sehingga sangat rentan terhadap pergerakan. Bayu Prasetyo menjelaskan bahwa timnya menemukan beberapa titik longsoran, dengan yang terbesar berupa batu dan longsoran baru di sebelah kanan. Kondisi ini mengindikasikan ketidakstabilan geologis yang serius.
Minimnya vegetasi penahan juga turut memperparah kondisi lereng di area tersebut. Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, sebagian besar area di atas tebing hanya ditumbuhi rumput dan semak belukar. Hal ini menyebabkan daya ikat tanah menjadi relatif lemah, sehingga mudah tergerus saat terjadi hujan deras.
Selain itu, tim Basarnas juga mengidentifikasi adanya jalur aliran air baru yang terbentuk di lereng. Aliran air ini berpotensi terisi saat curah hujan tinggi, namun ujungnya buntu. Akibatnya, air meresap ke dalam tanah, membuat kondisi tanah semakin jenuh dan kehilangan daya dukungnya secara signifikan.
Advertisement
Bayu menambahkan bahwa keberadaan lahan persawahan di atas bukit diduga kuat ikut memicu tingkat kejenuhan tanah. Air yang tertahan di area persawahan tidak langsung mengalir, melainkan terus meresap ke dalam tanah. Ini mempercepat proses kejenuhan dan membuat tanah kehilangan kekuatan untuk menahan beban di atasnya.
Advertisement
Kondisi tanah yang labil ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi longsor susulan, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Bayu Prasetyo menyoroti keberadaan batu besar yang masih tertanam di lokasi. Batu tersebut juga berpotensi bergerak dan menyebabkan longsor tambahan jika tanah di sekitarnya semakin jenuh.
Dalam operasi pembersihan material longsor, Basarnas memiliki peran krusial sebagai pengawas keselamatan atau safety officer. Mereka bertanggung jawab untuk memastikan bahwa seluruh personel yang bekerja di titik longsor menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap. Ini adalah langkah penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan kerja.
Tim Basarnas akan terus memberikan rekomendasi terkait kelanjutan atau penghentian sementara proses evakuasi material. Keputusan ini akan diambil berdasarkan kondisi cuaca dan peningkatan potensi longsor susulan di lapangan. Keamanan para pekerja menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan penanganan bencana.
Advertisement
Jika kondisi di lokasi dinilai membahayakan, pekerjaan pembersihan material longsor akan segera dihentikan sementara. Langkah ini merupakan bagian dari prosedur standar operasional Basarnas untuk melindungi nyawa dan keselamatan personel. Pengawasan ketat dari petugas gabungan akan terus dilakukan hingga situasi benar-benar aman.
Sumber: AntaraNews