'Asseloley', jadi salam penggemar Dangdut Koplo

Minggu, 1 Februari 2015 13:30 Reporter : Darmadi Sasongko
'Asseloley', jadi salam penggemar Dangdut Koplo Penyanyi dangdut tarling. ©2013 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Entah sejak kapan kata Asseloley digunakan oleh para penyanyi dangdut di atas panggung. Kata itu begitu lekat dengan musik dangdut jenis koplo. Bahkan sudah menjadi salam bagi para penggemarnya, Salam Asseloley!.

Kata Asseloley sendiri dipopulerkan lewat lagu-lagu dangdut yang didendangkan oleh pedangdut lokal Eny Sagita, asal Nganjuk, Jawa Timur. Dia populer dengan dengan julukan penyanyi Goyang Asololey.

"Asseloley icik-icik, pokoke munyer iki. Koyok diesel ae munyer rek...rek," kata Eny Sagita di dalam lagu 'Ngamen 1' di YouTube.

Kata Asseloley pun diulang-ulang berkali-kali di setiap lagu, begitu juga di lagu-lagunya yang lain. Asseloley seolah memberi energi pada penggemarnya untuk berjoget bersama.

Eny Sagita adalah satu dari sekian penyanyi di bawah OM Sagita. Tidak hanya Eny, nama Sagita pun melesat populer menyusul grup dangdut yang sudah terkenal di Jawa Timur, seperti Monata, Sera atau Palapa. Jadwal manggungnya pun semakin padat dan selalu dipenuhi penonton, selama menampilkan Eny Sagita.

Lagu-lagu yang didendangkan jenis koplo, tetapi memiliki sedikit warna berbeda, karena adanya unsur musik gamelan jaranan. Kendang kempul dan suling bahkan terompet khusus jaranan awalnya menjadi unsur dominan musiknya.

Seperti dangdut koplo yang lain, ketukan lagunya agak cepat, juga memiliki khas adanya pukulan tretek. Karena itu, sebagian menyebut dangdut Sagita dengan dangdut tretek atau tretekan, karena adanya pukulan tek tek tek sesuai irama lagunya.

Dari unsur musik mungkin musik-musik Sagita kurang stabil, dengan adanya ketukan-ketukan yang melebar. Namun itu justru yang menjadi ciri khas dan disukai penggemar dangdut Jawa Timur.

Selain itu, kekuatan lagu Sagita terletak pada syair yang keseluruhan berjenis balada. Isi liriknya potret persoalan yang apa adanya, menggelitik bahkan mengkritik pendengarnya.

Liriknya selalu tentang pengalaman hidup saat perjalanan ngamen, karena itu lagu Eny Sagita terkenal dengan judul Ngamen 1 sampai Ngamen 13. Lagu-lagu itu pun memang menjadi langganan para pengamen di bus dan angkutan.

"Dino iki mujur tenan. Aku ngamen ning njero bis-bisan. Penumpange longgar tenan. Supire gal-ugalan. Aku tibo jempalikan. Neng pojokan?" demikian salah satu potongan syairnya.

Namun setelah tenar, Eny Sagita yang sempat ke Jakarta merilis album hingga 'Ngamen 17'. Dia juga sempat terlibat saling tuntut dengan pencipta lagunya, Nur Bayan.

Sempat berkembang di masyarakat kalau kata Asseloley singkatan 'Assalamualaikum, Lonte Lebay!' sehingga biasa menjadi salam pembuka saat memulai menyanyi baik di kaset maupun di panggung.

Namun kata 'Lonte' bermakna negatif secara konotatif. Lonte secara terjemahan bebas dapat dimaknai perempuan binal, seksi dan erotis. Bahkan bisa diartikan sebagai profesi Lonte, perempuan penghibur.

Ada kemungkinan kata Lonte tersebut dikaitkan dengan panggung dangdut yang tidak lepas dari unsur erotisme saat bergoyang. Bahkan musik koplo boleh dikatakan pengiring goyangan erotis penyanyi dangdut.

Para pendidik sempat keberatan dengan istilah Asseloley yang marak diucapkan saat itu. Namun tidak ada yang bisa memastikan kalau Asseloley singkatan dari 'Assalamualaikum, Lonte Lebay!'

Tetapi juga muncul pendapat yang bentuknya sekadar untuk menenangkan, kalau Asseloley kepanjangan dari 'Asli Loe Lebay'. Kemudian juga di lagu Eny Sagita berjudul Prei Oplosan kata Asseloley berarti joget dangdut.

"Aku Ngamen Kawit Perawan. Tapi Ngamen Ora Ngawe Oplosan. Timbang Oplosan Mendingan Asseloley," lantunnya. [ren]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini