Presiden Prabowo Subianto memberikan instruksi khusus kepada jajaran kabinet untuk memetakan langkah mitigasi menyusul eskalasi konflik antara Iran dan Israel.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengungkapkan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah melindungi jalur logistik internasional agar tidak melumpuhkan ekonomi domestik.
Pemerintah menaruh perhatian besar pada potensi blokade di Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi distribusi minyak dunia.
AHY menegaskan perlunya prediksi akurat mengenai ketersediaan energi dan stabilitas harga di dalam negeri agar tidak terjadi efek domino pada sektor lainnya.
"Secara umum kita harus melakukan prediksi apa yang mungkin atau bakal terjadi, dampak-dampaknya seperti apa. Misal tadi ketika Selat Hormuz terjadi blokade, apakah akan sangat berpengaruh pada ketersediaan energi kita? Harganya bagaimana? Diversifikasi seperti apa yang sudah kita lakukan? Tentu Menteri Energi bisa menjelaskan itu atau sedang merumuskan paling tidak," ujar AHY di Jakarta, Rabu (4/3/2026) malam.
Advertisement
Selain sektor energi, AHY menekankan bahwa ketidakpastian global tidak boleh menghentikan proyek pembangunan fasilitas publik.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, hingga akses air bersih harus tetap berjalan sebagai penopang konektivitas antarwilayah di tengah bayang-bayang perang.
"Begitu pula dampaknya nanti kepada komoditas lainnya. Sektor pangan, kami sendiri yang saat ini mengawal pembangunan infrastruktur juga tetap harus punya langkah-langkah antisipatif," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa ekosistem investasi nasional harus tetap kuat demi menuntaskan berbagai pekerjaan rumah pemerintah di sektor pelayanan dasar.
"Bicara infrastruktur itu dari bicara jembatan, jalan, bendungan, air bersih, sekolah, rumah sakit, konektivitas, transportasi multimoda, dan lain sebagainya. Jadi semua harus menjadi perhatian kita," tambah putra sulung Presiden ke-6 RI tersebut.
Advertisement
Momentum krisis ini menjadi kian krusial karena bertepatan dengan persiapan Hari Raya Idul Fitri.
Pemerintah berkomitmen penuh untuk mengawasi rantai pasok guna mencegah lonjakan harga kebutuhan pokok yang biasanya terkatrol oleh tingginya permintaan musiman dan sentimen negatif pasar global.
"Apalagi sudah mendekati lebaran, kita harapkan bisa terjaga harga-harga kebutuhan pokok kita ya, dan tidak ada lonjakan yang terlalu memberatkan masyarakat. Karena pada akhirnya setiap saat yang kita pikirkan adalah bagaimana masyarakat yang kurang mampu ini tidak menjadi korban yang paling buruk dalam situasi yang tidak menentu ini," pungkas AHY.
Hingga saat ini, kementerian terkait terus merumuskan diversifikasi sumber energi dan pangan guna memastikan Indonesia memiliki benteng ekonomi yang tangguh menghadapi gejolak di Timur Tengah.