Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Myanmar. Gempa yang bersumber di Myanmar pada Jumat (28/3) siang waktu setempat itu getarannya dirasakan kuat dan menyebabkan kerusakan bangunan hingga ke Kota Bangkok, Thailand.
Sebuah video yang diunggah di media sosial tepat setelah gempa menunjukkan sebuah gedung apartemen yang sedang di bangun itu runtuh.
Dikutip dari Daily Mail, Jumat (28/3), polisi Bangkok mengonfirmasi bahwa sebuah bangunan tinggi yang sedang dibangun telah runtuh, jumlah korban dari bencana ini belum diketahui. Alarm berbunyi pada gedung-gedung sekitar saat gempa terjadi pukul 13.30 waktu setempat.
Penduduk dievakuasi menuruni tangga gedung-gedung tinggi dan hotel-hotel di pusat kota Bangkok. Penduduk tetap berada di jalan-jalan, mencari tempat berteduh dari terik matahari siang, beberapa menit setelah gempa.
Dikutip dari The Associated Press, pihak polisi mengatakan kejadian tersebut terjadi di dekat pasar Chatuchak yang populer di Bangkok.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan mengapa Bangkok yang sangat jauh bisa rusak karena gempa Myanmar.
Direktur Gempa bumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan, fenomena ini disebut efek Vibrasi Periode Panjang (Long Vibration Period), di mana gelombang gempa yang sumbernya jauh akan direspon oleh tanah lunak.
Daryono menjelaskan, endapan sedimen tanah lunak tebal di Bangkok dapat merespons gempa dari jauh hingga membentuk resonansi yang mengancam gedung-gedung tinggi.
Contoh serupa pada 1985, dikatakan Daryono, terjadi gempa dahsyat di subduksi Cocos 8,1 magnitudo di pantai Michoacan. Meski jarak pusat gempa ke Kota Meksiko sejauh 350 kilometer, kerusakan hebat terjadi di Kota Meksiko.
"Sebagian besar dari 9.500 korban meninggal terjadi di Meksiko yang dibangun dari rawa yang direklamasi," kata Daryono sebagaimana informasi dari grup diskusi jurnalis gempa bumi BMKG.
Daryono menuturkan, kemungkinan kedua rusaknya bangunan di Bangkok disebabkan oleh Efek direktivitas yaitu efek yang terjadi ketika energi gempa terfokus dalam satu arah.
"Efek ini dapat terjadi pada gempa bumi. Semakin tinggi direktivitas, semakin terkonsentrasi energi dalam satu arah," kata Daryono.
Daryono memastikan bahwa gempa bumi berkekuatan 7,6 magnitudo di wilayah Mandalay, Myanmar, tidak berdampak pada wilayah Indonesia.
Menurut Daryono, dari sistem monitoring nasional gempa terjadi pada pukul 13.20 WIB dengan episenter di koordinat 21,76° LU dan 95,83° BT, serta kedalaman 10 kilometer. Berdasarkan analisis BMKG, gempa ini tergolong dangkal dan dipicu aktivitas Sesar Besar Sagaing dengan mekanisme pergerakan mendatar (strike-slip).
Dampak gempa dirasakan kuat di Kota Mandalay, Myanmar, serta beberapa wilayah di Thailand. Laporan awal dari otoritas Bangkok menyebutkan bahwa 43 orang mengalami luka-luka, sementara satu orang meninggal akibat bangunan gedung yang roboh.
BMKG mencatat hingga pukul 15.28 WIB, ada tiga gempa susulan dengan magnitudo terbesar 6,6 dan terkecil 4,6. Namun, BMKG memastikan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami dan tidak menimbulkan dampak di Indonesia.
"Gempa bumi Myanmar 7,6 ini juga tidak mempengaruhi kegempaan di wilayah Indonesia," kata Daryono.
Advertisement