Ini tiga Local Hero di Datsun Risers Expedition 2 Lampung

Selasa, 15 November 2016 20:17 Reporter : Syakur Usman
Ini tiga Local Hero di Datsun Risers Expedition 2 Lampung Datsun local hero. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Datsun Risers Expedition (DRE) 2 di Lampung memang sudah berakhir Minggu (13/11) lalu. Tapi, yang berkesan dari ekspedisi alam dan budaya provinsi penghasil rempah-rempah lada, yang juga diikuti Merdeka.com adalah perkenalan para peserta dengan tokoh inspiratif setempat alias local hero.

Dalam DRE 2 Lampung ini, risers dikenalkan dengan tiga tokoh inspiratif. Local hero pertama adalah Iskandar Zulkarnain, pemilik sanggar budaya Kusumo Rajo di Desa Wana, Kecamatan Melinting, Lampung Timur. Lewat sanggar budayanya, Iskandar menjaga dan melestarikan warisan budaya Tari Melinting. Caranya, dengan mengajarkan kepada anak-anak tarian yang menjadi ciri khas marga Melinting di Lampung Timur ini. Iskandar semakin senang, lantaran Tari Melinting telah diakui hak ciptanya oleh PBB sebagai milik Keratuan Melinting Lampung Timur sejak 2012.

Eksistensi Tari Melinting juga menambah daya tarik Desa Wana, yang merupakan desa tradisional di Lampung Timur yang dikenal sebagai desa yang mempertahankan keaslian rumah adatnya berupa rumah panggung. Ada pula koleksi kain tapis khas Lampung yang berusia ratusan tahun.

"Ada sekitar 100 rumah panggung yang yang masih dijaga keasliannya sejak dulu di Desa Wana," ujar Iskandar yang dijumpai Merdeka.com di kampung halamannya.

Local hero kedua adalah Rudi Hartono, perintis rumah baca Pelangi di Desa Labuhan Ratu 9, Way Kambas, juga di Lampung Timur.

Datsun local hero ©2016 Merdeka.com

Menurut Rudi (28 tahun), rumah baca ini dibangun dari ide dia dan kawan-kawannya sejak awal 2015. Saat awal, rumah baca ini hanya memiliki 15 buku. Seiring berjalannya waktu, kini koleksinya buku di rumah baca ini mencapai 900 buku.

"Koleksi buku dari sumbangan kawan-kawan saya yang peduli ditambah 300 buku pinjaman dari perpustakaan daerah," ujar Rudy yang berprofesi sebagai buruh.

Berbekal rumah baca, Rudi berharap anak-anak di Desa Labuan Ratu 9 memiliki minat baca tinggi hingga haus terhadap ilmu. Menariknya, selain menyediakan buku-buku dan majalah anak-anak, setiap akhir pekan Rumah Baca Pelangi mengajarkan kepada anak-anak Bahasa Inggris. Gurunya adalah kawan Rudi, sebut saja Mba Tuti, mantan tenaga kerja wanita (TKW) di Singapura dan Taiwan.

"Motivasi saya, ingin anak-anak ini bisa bicara Bahasa Inggris. Setidaknya berani menyapa para turis, karena ini desa penyangga wisata Way Kambas. Intinya anak-anak bisa berkomunikasi dengan turis," ucap Tuti.

Datsun Indonesia pun mendukung Rumah Baca Pelangi ini, dengan memberikan sumbangan dana sekitar Rp 5 juta. Dana bantuan itu untuk keperluan pembelian buku dan peralatan penunjang rumah baca ini.

Para riser juga mendapat kesempatan untuk bertemu dan berbincang dengan Siti Rahayu, local hero ketiga. Siti Rahayu dikenal dengan produksi ‘sulam usus’ terbaik di Bandar Lampung dan memiliki visi untuk memberdayakan perempuan melalui seni sulam yang merupakan warisan dari nenek moyang suku Lampung Pepadun.

Christian Gandawinata, Head of Marketing Datsun Indonesia, mengatakan Datsun percaya bahwa cara terbaik untuk mendalami budaya khas di suatu daerah adalah dengan berguru pada local hero. "Seperti kepada Ibu Siti Rahayu ini. Beliau adalah sosok inspiratif yang teguh dan giat bekerja keras untuk mengejar mimpi melestarikan budaya daerahnya," pungkas dia. [ega]

Topik berita Terkait:
  1. Datsun
  2. Datsun GO
  3. Otomotif
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini