Bahtera rumah tangga Ayu bersama suaminya harus kandas di usia masih seumur jagung. Hanya enam bulan usia pernikahannya. Padahal harapannya menikah agar hidup lebih baik. Tetapi tak terwujud. Justru perlakuan kasar kerap diterima dari sang suami.Pasca bercerai dari sang suami, Ayu mengaku pintu rezekinya tertutup. Berbagai usaha tak pernah membuahkan hasil. Banyak faktor. Salah satunya dia merasa akibat belasan tato di sekujur tubuhnya. Wanita keturunan Brebes, Jawa Tengah ini terus merenung. Hatinya gundah. Banyak stigma negatif menerpa. Semua akibat tato.Dalam renungan, Ayu merasa malu. Usianya semakin dewasa. Akhirnya dia memutuskan hijrah. Mendekatkan diri kepada Tuhan. "Makin dewasa makin malu liat tato makin banyak, jadi coba perbaiki diri," cerita Ayu kepada merdeka.com, Jumat dua pekan lalu. Niat hijrahnya dimulai dengan memakai kerudung. Menutup semua aurat. Lambat laun, kerudungnya diganti jilbab. Seperti saat bertemu kami di klinik kecantikan dalam komplek Apartemen Habitat, Karawaci, Banten. Dia tengah mengikuti program hapus tato gratis digagas Gerak Bareng Community. Ayu memakai gamis hitam dan kerudung terjuntai hingga menutup sebagian tubuhnya. Tutur katanya terdengar bijaksana. Ayu tak malu mengungkap sedikit kisah hidup masa lalunya. Ayu mengaku mengenal dunia tato sejak dua tahun lulus SMA. Tak sempat merasakan kuliah. Setelah mendapatkan ijazah, Ayu memilih bekerja. Akhir September 2011 Ayu memutuskan menato punggung kanannya dengan gambar bunga mawar. Tak ada makna khusus dari gambar itu.Sensasi suara mesin tato bak candu. Tusukan jarum tato tak membuat Ayu kapok. Justru semakin ketagihan. Dari hasil kerjanya, Ayu menambah tato di bagian tubuhnya lain. Bila diuangkan, Ayu mengaku telah menghabiskan lebih kurang Rp 27 juta. "Dari situ kecanduan, karena sekali pakai tato itu nagih."Sisi pergaulan Ayu kala itu memang liar. Bebas. Hingga menjadi pemadat. Hampir semua jenis narkoba dicobanya. Hanya putau tak pernah disentuhnya. Dalam lingkungan pergaulannya 'haram' menggunakan putau. Sebab efek sampingnya dianggap paling berbahaya. Ayu telah menyesali masa lalunya itu. Memilih hijrah. Merasa lebih baik dengan membuka usaha online shop di bidang kuliner.
Cerita serupa juga datang dari Novi saat kami berada di lokasi tersebut. Wanita itu bercadar. Dia juga memiliki masa lalu kelam.Memiliki hobi gambar sejak masih kecil membuat Novi tertarik menato tubuhnya sejak usia 15 tahun. Nama dirinya di bagian punggung menjadi tato pertama. Lagi-lagi tato menjadi candu. Perempuan 19 tahun itu ketagihan. Dan menato tubuhnya dengan gambar-gambar kartun. Seperti pada jari-jemarinya."SMA baru bikin tato di punggung nama sendiri, terus kok enggak sakit. Ya sudah nambah terus sampai sebanyak ini," ungkap Novi malu-malu. Kehidupannya juga bebas.Seiring berjalannya waktu, dia mulai berpikir. Tak mau selamanya liar. Apalagi saat stigma negatif di masyarakat karena bertato membuatnya dikucilkan di lingkungan rumahnya. Narkoba bahkan sempat menjerat ketika usia masih belia. Beruntung dia akhirnya bisa berhijrah.Fenomena sosial media menjadi sala satu faktor hijrahnya Novi. Aktif di berbagai sosial media membuat Novi terinspirasi. Terutama soal unggahan tentang penghormatan wanita, pernikahan dan hijab. Novi ingin berubah. Begitu harapannya.Perubahan diharapkannya terwujud. Semua bermula ketika Novi diajak kekasihnya untuk ke majelis taklim. Saat itu dia dia datang menggunakan kerudung biasa, sementara jemaah lainnya menggunakan kerudung besar dan bercadar. Awalnya Novi merasa minder dan tak percaya diri. Dia khawatir keberadaannya diasingkan. Namun berbagai kekhawatiran itu sirna. Justru Novi menjalin komunikasi. Rekannya di majelis taklim menyambut hangat."Seminggu kemudian lihat orang pakai cadar kok enak. Selangkah lagi deh nih, step by step akhirnya pakai (cadar) pas awal bulan puasa," ungkap Novi.Cerita lainnya datang dari mantan tato artis. Sandi Widodo. Pria asal Serpong, Tanggerang Selatan, akrab disapa Aki. Pertama kali menato tubuhnya tahun 2006 silam. Kala itu dia menato tubuhnya lantaran ingin menirukan para idolanya.
Hidup di tengah keluarga religius membuatnya selalu mendapatkan pertentangan. Ayahnya kerap mengingatkan Sandi bahwa agama melarang manusia menato tubuhnya. Tak tahan, Sandi pun memilih meninggalkan rumah dan hidup di luar secara bebas. "Saya kemudian ketemu sama temen saya dan belajar tato. Waktu itu belajar tato dimarahin," cerita Sandi. Sandi mengaku sempat mencicipi kursi pendidikan tinggi di kampus swasta di Jakarta. Namun, jiwanya kala itu lebih senang seni dan musik. Akhirnya memutuskan untuk keluar dan memilih kursus desain grafis. Hingga pada tahun 2009 Sandi memutuskan menjadi tato artis. Setelah 1,5 tahun bekerja di studio tato di Jakarta, Sandi memutuskan kembali ke rumah orangtuanya dan membuat studio tato.Sekitar tahun 2012, dia mendapatkan tawaran bekerja di studio tato di Denpasar, Bali. Pergilah Sandi ke Pulau Dewata. Surga para wisatawan dari dalam dan luar negeri. Apalagi makin ke sini, tato tak lagi dianggap sebuah seni sakral. Justru menjadi gaya hidup."Tato itu sesuatu yang sakral, orang punya tato itu karena gambarnya punya makna. Tapi sekarang (tato) kaya enggak ada harganya lagi, nilai seninya sudah enggak ada sama sekali," ungkapnya kepada kami saat dihubungi.Selama bekerja di Bali, dia mulai merasakan hatinya hampa meski memiliki karier cemerlang. Materi pun berlimpah. Selama tinggal di Pulau Dewata, Sandi mengaku jarang mendengar suara azan. Maklum, muslim di Bali golongan minoritas. Padahal saat itu Sandi mengaku jarang melaksanakan ibadah sebagaimana umat muslim lainnya.Berbagai kegelisahannya itu membawa Sandi akhirnya kembali ke Serpong. Sepulangnya dari Bali, dia mulai mempelajari agamanya kembali. Berbagai kajian diikutinya. Sandi juga mulai menjalankan ibadah salat secara sembunyi. Sebab saat itu masih menjadi tato artis dan dia merasa malu bila teman-teman atau keluarganya tahu dirinya sudah mulai salat.Melaksanakan ibadah secara sembunyi-sembunyi dan tetap menjadi tato artis membuat dia merasa ada perasaan ganjal di hatinya. Dia menceritakan berbagai keresahannya kepada sang guru ngaji. "Rezeki saya selalu ada, tapi ini sesuatu yang dilarang agama, ini rezeki dari mana. Lalu saya dateng ke kajian tanya ke guru ngaji. Katanya itu istikraj, yaitu jebakan dari Allah, tapi dijauhkan dari berkahnya Allah," kata Sandi menirukan ucapan gurunya.Akhirnya di tahun 2014, Sandi memutuskan untuk meninggalkan dunia tato. Ditutuplah studio tato di rumahnya. Namun, jalan hijrahnya tak berjalan mulus. Tato di sekujur tubuhnya membuat dia merasa sulit mendapatkan pekerjaan. Bahkan pernah dalam beberapa bulan Sandi sempat tidak bekerja. Lalu dia mulai mencoba menjadi tukang ojek online hingga akhirnya dia kembali membuka studio sablon. Keahlian lainnya selain menato.
Bersyukur Sandi berhasil hijrah. Lalu menikah dengan seorang wanita dijodohkan guru mengajinya. Di usia pernikahannya baru 3 bulan, Sandi bersama istrinya mengubah studio tato di rumahnya menjadi penghapus tato. Kini dia memiliki dua buah mesin laser penghapus tato untuk digunakan secara cuma-cuma. Terutama kepada mereka telah berhijrah dan tak punya uang untuk menghapus tato dengan laser. Langkah ini bagi Sandi untuk menebus dosa-dosanya pernah merajah banyak orang. Dia sangat merasa bersalah sudah menato banyak orang. Kini, di lembaran barunya, Sandi memilih menjadi tukang sablon dan penghapus tato gratis. Namun, Sandi tak tergabung dalam Gerak Bareng Community.Kami sempat melihat langsung bagaimana proses penghapusan tato. Diselenggarakan Gerak Bareng Community. Terdengar surah Alquran dibacakan para peserta. Lantunan ayat suci berasal dari mulut Makmun. Kakek usia 67 tahun ini lancar membaca surat Ar-Rahman saat lengan kanannya ditembak sinar laser penghapus tato. Tak terlihat wajah kesakitan. Matanya hanya tertuju pada sebuah buku kumpulan ayat di tangan kirinya. Sudah 53 tahun kakek Makmun memiliki dua tato di kedua lengannya. Pada lengan kanan terdapat gambar sebuah jangkar perahu. Awalnya gambar itu terlihat jelas. Keriput di kulitnya membuat gambar menjadi pudar. Bahkan kakek Makmun mengira gambar di lengannya merupakan sepasang sayap burung."Ini gambar sayap atau apa yah, saya juga enggak tahu," kata Makmun kepada kami saat menunggu krim anastesi di lengannya kering.Sementara di lengan kirinya itu terdapat sisa gambar keris telah dihapus dengan cara tradisional. Makmun mengaku selama hidupnya merahasiakan keberadaan dua tato di tubuhnya dari ketujuh anaknya. Sebab dia merasa malu memiliki tato yang tak pernah diharapkannya itu. Saat Makmun membaca surat Ar-Rahman, lengan kanannya tengah ditembaki laser untuk menghilangkan tato. Sinar laser itu ditembaki langsung ke bagian tubuh Makmun yang bertato. Sinar itu diarahkan langsung dan mengikuti pola tato di lengan makmun.Suasana haru terasa jelas saat Makmun melantunkan ayat-ayat Alquran. Beberapa terapis dan peserta terapis tampak ikut membaca ayat dibaca Makmun. Sesekali di antara mereka mengoreksi bacaan Makmun. Raut wajahnya Makmun terlihat jelas bahwa dia ingin menghapus dua tato tak pernah diinginkannya itu.
Advertisement
Cerita bermula saat dirinya berusia 14 tahun. Saat remaja dia memiliki seorang teman bernama Suharto. Rekannya itu dikenal ahli membuat tato. Bahkan, kata dia, Harto memiliki tato di keningnya hasil buatan sendiri.Bujukan Harto membuatnya luluh. Saat itu, Harto berjanji bahwa tato hanya bersifat sementara karena hanya menggunakan arang gidir, salah satu bahan alami membuat tato. Paling lama bisa bertahan hanya dalam waktu dua minggu. Mendapatkan penjelasan itu, Makmun terbujuk. Pasrah menyerahkan lengan kanannya untuk digambar jangkar kapal lengkap dengan rantainya. "Sudah beres yang ini, terus dia bilang, 'masa Cuma satu, jelek. Satu lagi biar keren'," ujar Makmun menirukan bujukan Harto saat itu.Makmun pun kembali pasrah saat lengan kirinya kembali dirajah Harto dengan gambar sebilah keris. Sebab Makmun percaya gambar di tubuhnya itu bakal hilang dalam waktu dua minggu. Proses pembuatan tato itu tak lama, sekitar dua jam. Gambar di kedua lengannya itu tak langsung terlihat. Saat itu dia mengaku lega lantaran tato itu tak berwujud. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghapus tato di kedua lengannya itu. Namun upayanya tak pernah berhasil. Kedua orangtuanya sempat marah saat mengetahui dia memiliki tato. Dia akhirnya merasa tertipu rayuan Harto. Temannya itu pun menghilang entah ke mana."Nyesel, dibohongin. Katanya cuma seminggu tapi malah sampai sekarang," ungkapnya kesal.Rasa sesal itu sempat membuat dirinya hampir frustasi. Setelah lulus SMP dia melamar pekerjaan menjadi supir bus Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD). Saat membuat sim B1 dia diminta untuk dokter untuk melepaskan pakaiannya. Tato di lengannya terlihat dengan jelas. Dia hampir saja tak lolos seleksi lantaran dua tato tersebut. Namun, dokter memeriksanya meyakini Makmun bukanlah orang jahat dan meloloskan tahapan tersebut.
Puncak rasa malu tak terbendung kala dia berkesempatan menjalankan ibadah haji tahun 20014 silam. Tato bergambar keris itu telah dihapus dengan cara tradisional oleh seorang kenalan di daerah Senen, Jakarta Pusat. Namun satu tato bergambar jangkar masih jelas terlihat meski kulitnya tak lagi sekencang dulu. Untuk menutupi tato di lengan kanannya. Lalu dia memindahkan ihram bagian kanan. Sementara lengan kiri dibiarkan terbuka.Cara ini rupanya mendapatkan teguran dari pembimbingnya. Makmun pun menunjukkan tato di lengan kanannya. Dia mengaku malu melaksanakan ibadah haji dengan tato yang di tubuhnya. Namun sang pembimbing pun menunjukkan tato di lengan kirinya."Enggak apa-apa saya juga masih ada nih," kata dia menirukan ucapan pembimbing haji.Melihat itu, kepercayaan diri Makmun tumbuh. Namun, rasa malu mengalahkan dirinya. Untuk itu, dia kerap memilih waktu untuk tawaf setiap malam. Saat tak banyak orang melaksanakan ritual ibadah haji. Namun saat dirinya harus menjalankan ibadah di siang hari, dia selalu mendekati orang lebih tinggi darinya untuk menutupi tato di lengannya.Makmun mengaku selama hidupnya tak banyak orang tahu dia memiliki tato di tubuhnya. Pun dengan ketujuh anaknya. Istrinya bahkan baru mengetahui tato itu setelah menikah. Istrinya sempat kecewa melihat suaminya ternyata memiliki tanda buatan manusia. Karena itu, selama hidupnya, Makmun selalu menutupi kedua lengannya dengan tak pernah menggunakan kaos tanpa lengan termasuk saat ada di rumah. Dia khawatir bila anaknya tahu kalau ayahnya memiliki tato jadi malu. "Itu dia Engkong dari dulu malu. Makanya engkong enggak pernah buka baju (di depan orang) takut disangka preman," ungkapnya.Di usianya tak lagi muda ini, akhirnya dia memberanikan diri untuk meminta salah satu anaknya bekerja sebagai perawat di rumah sakit di Yogyakarta. Kepada Latif, anak bungsunya, dia memperlihatkan tato di lengan kanannya. Dia pun bertanya apakah bisa tato tersebut dihapus dari tubuhnya.Latif diketahui mendaftarkan ayahnya untuk ikut menjadi peserta hapus tato gratis diselenggarakan Gerak Bareng Community. Berkat upaya latif memohon kepada panitia penyelenggara untuk memberikan kesempatan kepada ayahnya menghapus tato dengan menggunakan laser secara cuma-cuma. Founder Gerak Bareng Community, Ahmad Zaki, akhirnya menerima permintaan anak bungsu Makmun. "Engkong ini termasuk peserta khusus yang datang jauh-jauh dari Jogja karena untuk saat ini kita baru buka di sekitaran Jabodetabek," terang Zaki kepada kami.Zaki mengatakan setoran hafalan Alquran merupakan salah satu cara agar peserta tak fokus dengan tembakan laser. Beragam reaksi dikeluarkan para peserta. Kebanyakan meringis hingga kaget saat tembakan pertama.