Lantunan ayat suci di tengah hapus tato

Lantunan ayat suci di tengah hapus tato. Ada pula peserta sampai menangis. Bukan karena sakit. Mereka menangis justru karena mengingat masa lalunya. Saat tubuhnya dirajah seniman tato. "Mereka teringat masa lalunya. Mereka merasa menyesal pernah menggambar tubuhnya itu."

Anisyah Al Faqir
Oleh Anisyah Al Faqir - Reporter
Lantunan ayat suci di tengah hapus tato
Gerakan hapus tato gratis. ©2017 Merdeka.com/anisyah

Delapan pria bertemu di lobi ITC Permata Hijau, Kebayoran baru, Jakarta. Berasal dari pelbagai daerah. Beragam usia. Semua memiliki tato di tubuhnya. Wajah mereka tampak sumringah. Wajar. Ini kali pertama mereka bertatap muka. Setelah sekian lama saling sapa lewat grup aplikasi Whatsapp. Mereka bukan sekedar bertemu. Ada hal penting segera dilakukannya. Terutama untuk mengembalikan citra hidupnya selama ini.Jam menunjukkan pukul 1 siang. Seorang pria berkaca mata terlebih dahulu tiba, mulai mengabsen nama mereka mereka satu per satu. Terkadang sambil menghubungi seseorang dari ujung telepon. Samar terdengar pria berkaca mata itu membicarakan teknis keberangkatan. Semua lengkap. Menepati janji untuk niat menghapus tato.Setengah jam kemudian, delapan pria bertato ini digiring masuk ke dalam mobil. Mereka dibawa menuju sebuah klinik kecantikan di komplek Apartemen Habitat bilangan Karawaci, Tangerang Selatan, Banten. Wajah mereka semakin ceria bercampur perasaan dag dig dug. Tak sabar menantikan proses telah dinantikan.Selama perjalanan, mereka saling mengoleskan krim anastesi pada bagian tato. Penggunaan krim ini dilakukan minimal 30 menit sampai 60 menit sebelum penghapusan menggunakan laser. Agar krim menyerap sempurna. Fungsinya mengurangi sakit akibat pancaran cahaya laser ditembakkan ke tubuh.

Para pria bertato ini tengah mengikuti program penghapusan gratis digagas Gerak Bareng Community. Syaratnya hanya harus hafal beberapa surah Alquran. Di bawah komando Ahmad Zaki sebagai Founder Gerak Bareng Community. Pria dan wanita diperbolehkan ikut. Jadwal mereka terpisah. Pada hari itu kami tengah ikut jadwal para ikhwan. Bahkan salah satu peserta hapus tato merupakan seorang kakek berusia 67 tahun. Dia bernama Makmun. "Kakek itu datang langsung dari Jogja," ujar Zaki saat ditemui merdeka.com, Selasa dua pekan lalu.Terik matahari masih begitu sengat. Perjalanan lumayan panjang. Akhirnya kami tiba di komplek Apartemen Habitat. Ditempuh selama lebih kurang 1,5 jam. Lokasi ini minim pepohonan rindang. Lingkungan apartemen pun tampak sepi. Hanya ada beberapa petugas keamanan berjaga. Tak banyak penghuni hilir mudik.Dalam area itu, rombongan diajak menuju sebuah klinik. Berukuran 4 x 10 meter. Terbagi menjadi empat area. Ada ruang tunggu dan meja kasir ketika masuk. Lalu sebuah ruang perawatan khusus perempuan. Di sisi berbeda disiapkan ruang khusus dokter dan kamar perawatan utama berada di tengah. Tempatnya nyaman. Pendingin ruangan dan aroma terapi membuat siapa saja bakal betah berlama-lama melakukan perawatan.Klinik kecantikan ini baru baru beroprasi lima bulan terakhir. Tembok ruangan dicat dengan warna-warna pastel cerah. Dua buah kasur di ruang perawatan utama dibungkus seprai warna pink. Tampak pula sebuah mesin laser diletakkan di tengah ruang utama. Termasuk beberapa mesin perawatan kecantikan lainnya.Sempitnya ruang tunggu membuat para peserta lebih memilih menunggu di depan klinik. Meski cuaca cukup terik. Mereka berkumpul di bawah sebuah pohon cukup rindang. Seorang dokter wanita lalu menghampiri mereka. Mengucapkan selamat datang sambil mengajak berbincang-bincang sekaligus meminta mereka kembali mengoleskan krim anastesi."Coba dipakai lagi krimnya. Kalau sudah baal (mati rasa) baru bisa yah," minta dokter itu kepada para peserta. Mereka lalu kembali melepas pakaiannya untuk dioleskan krim anastesi dan menutupnya pakai plastik krep.

Azan Ashar berkumandang. Para peserta bergegas menuju masjid terdekat. Menjalankan salat sebelum terapi. Sekaligus menunggu krim anastesi menyerap ke tubuh. Usai salat, peserta masuk ke ruang terapi utama. Bergantian.Dua kasur digeser ke sisi ruangan. Hanya ada dua kursi di ruang itu. Untuk peserta dan dokter. Mesin laser dihidupkan. Berada di antara kursi pasien dan dokter. Prosesi telah ditunggu akhirnya tiba. Seorang terapis menggunakan kaca mata khusus berwarna merah dan sarung tangan berbahan lateks siap menghapus tato peserta.Ada tiga pegawai klinik dalam ruangan. Satu orang bertugas untuk menghapus krim anastesi peserta dan memfoto tato sebelum diterapi. Satu orang lain bertugas mencatat nama dan bertanggungjawab atas pengaturan mesin laser sebelum ditembakkan ke peserta. Sisanya bertugas membantu berbagai keperluan lain diperlukan selama proses terapi. Tentu ada seorang dokter untuk mengawasi semuanya selama proses penghapusan tato.Sebelum laser itu ditembakkan ke tubuh pasien. Terapis meminta peserta untuk menyetorkan hafalan surat Ar-Rahman. Seperti dilakukan Kakek Mukmin. Dia terus membaca hafalan surah Alquran. Padahal tembakan laser mendarat pada tato di bagian lengannya. Mengikuti gambar.Sinar laser ditembakkan. Tinta tato di tubuh peserta bakal pecah di dalam sel. Tim dokter Gerak Bareng Community menggambarkan, tinta tato seperti balon di dalam kromofor. Di situ terdapat berbagai gugus jaringan seperti zat melanin, zat warna kulit, hemoglobin dan pigmen tato. Melalui tembakan laser, tinta itu berubah menjadi benda asing. Lalu, dimakan Fagosit, sebuah sel dalam tubuh berfungsi mematikan mikroorganisme asing."Dengan pengaturan panjang gelombang yang sesuai, frekuensi yang sesuai dan tenaga yang sesuai kita akan berusaha untuk memecah pigmen tato yang ditangkap sama sel-sel tubuh kita," ujar seorang anggota tim dokter.Tinta tato tersebut nantinya akan diproses secara alami oleh tubuh. Keluarnya tinta bisa lewat berbagai proses pembuangan. Mulai dari keringat, air seni bahkan kotoran. Jangan khawatir. Penghapusan tato dengan metode laser ini tak akan menyebabkan efek samping.Dalam menjalani terapi penghapusan tato tidak bisa dilakukan satu kali. Sebab, pada tahap pertama reaksi ditimbulkan hanyalah memecah balon berada di bawah lapisan kulit. Alasan lainnya, yakni jenis tinta tato dipakai peserta. Ini juga mempengaruhi banyaknya terapi diperlukan untuk menghapus tato di dalam tubuh."Ini tidak bisa dilakukan sekali treatmen karena kita enggak tahu berapa kedalamannya jarum si tukang tato di bawah kulit, berapa banyak tinta yang digunakan, jadi tidak bisa diprediksi," ungkapnya lagi.Sementara itu, Zaki mengatakan setoran hafalan surah Alquran merupakan salah satu cara agar peserta tak fokus dengan tembakan laser ke tubuhnya. Beragam reaksi dikeluarkan para peserta. Kebanyakan meringis hingga kaget saat tembakan pertama. Namun, ada pula di antara mereka tak merasakan apapun saat sinar laser ditembakkan. Saat itu biasanya dokter mendampingi, mengatur energi frekuensi laser agar peserta merasa nyaman.Ada pula peserta sampai menangis. Bukan karena sakit. Mereka menangis justru karena mengingat masa lalunya. Saat tubuhnya dirajah seniman tato. "Mereka teringat masa lalunya. Mereka merasa menyesal pernah menggambar tubuhnya itu," ungkap Zaki.Tak semua peserta hafal surat Ar-Rahman. Mereka diperbolehkan membaca Alquran lewat ponsel pintar miliknya atau buku. Zaki tidak masalah bila peserta tak hafal. Sebab, terapi dilakukan berulang kali. Maka pertemuan selanjutnya mereka diharapkan melanjutkan hafalan surah Alquran.

Setiap peserta hanya menjalani terapi 15 menit. Usai dilakukan terapi, biasanya dokter memberikan penjelasan tentang efek dialami peserta. Mulai dari rasa tak nyaman saat anastesi tak lagi berfungsi. Hingga larangan setelah ditembak laser."Jangan kena air selama 5 jam, kalau bisa mandinya besok saja. Nanti agak sedikit gremet-gremet gitu enggak apa-apa. Cukup dikasih salepnya saja," saran dokter kepada setiap peserta.Seluruh peserta akhirnya selesai menjalani terapi. Mereka terlihat saling berbincang di depan klinik. Hari semakin sore hari. Matahari tak lagi terlalu terik. Angin sepoi-sepoi pun membuat para peserta tampak akrab berbincang. Beberapa di antaranya langsung memilih pulang usai diterapi. Setelah salat magrib, para peserta kembali ke Jakarta diantar panitia ke ITC Permata Hijau tempat semula mereka berjumpa.

Rekomendasi