Menatap langit sebentar, lalu kembali melanjutkan obrolan. Djubair Oemar Djaya mengaku sangat mencintai langit Indonesia. Karena langit itu memberinya banyak hal, termasuk membuatnya tertantang terus berinovasi dengan merekayasa pesawat buatan sendiri (swayasa) di bengkel rumahnya.Di dunia perakitan pesawat swayasa, nama Djubair tidak terdengar baru. Bahkan dia sesumbar, dan mengukuhkan dirinya sendiri sebagai perekayasa pesawat pertama jenis buatan tangan itu di tanah air.Bahkan, pesawat swayasa pertamanya telah menjadi barang antik dan diabadikan sebagai salah satu koleksi museum transportasi di Taman Mini Indonesia (TMII). Pesawat swayasa buatannya itu terbukti mampu terbang bolak-balik antara Jakarta-Denpasar tanpa halangan.Ada yang bilang pesawat swayasa pertama di Indonesia dibuat pada zaman Belanda. Tapi hal itu dibantah oleh Djubair karena pesawat itu dibuat di hanggar dan sebelum terbang sudah dibom oleh Belanda. Oleh sebab itu dia mengklaim pesawat swayasa pertama adalah buatannya."Pesawat saya hasil rakitan dan sentuhan tangan manusia dan terdokumentasikan dengan jelas. Bandingkan dengan pesawat swayasa yang katanya pertama ada pada masa agresi. Itu dibuat di hanggar, sebelum diterbangkan sudah dibom Belanda," ujar Djubair.Pesawat buah tangan pertama Djubari dibuat pada 1981. Pesawat itu dia rakit menggunakan tangan dengan bahan dasar kayu serta fiber. Master cetak biru dibelinya langsung dari majalah dirgantara dari Amerika Serikat. Butuh kurang lebih sepuluh tahun untuk bisa merancangnya."Dalam pembuatannya, ada tiga komponen terpenting dalam pesawat, rangka, sayap, dan instrumen elektronik di dalam ruang penerbangan," ujarnya.Saban hari lima jam dibutuhkan buat mengerjakan pesawat bersama tiga asistennya. Buat si pemesan, kata Djubair, harus berperan aktif ikut mengetahui seluk beluk perakitan pesawat sejak pertama. Pembuatannya bisa memakan waktu tiga bulan dan paling lama sampai empat tahun."Si perakit (pemilik) mempunyai tanggung jawab penuh atas keselamatannya sendiri, seharusnya seperti itu," katanya. Apalagi selama ini aturan otoritas penerbangan terkait pesawat swayasa belum baku.Buat fulus mengembangkan pesawat swayasa bisa menghabiskan dari puluhan sampai miliaran rupiah. Semua tergantung modifikasi keinginan si pemilik. Namun demikian, pemesan pesawat jenis ini tidak sedikit. Buktinya banyak kalangan telah memesan pesawat dari bengkel sederhana ini. "Hobi tak bisa diukur dengan nominal," ujarnya. Namun Djubair tak memberikan detail harga pesawatnya secara gamblang. Namun demikian, proyek Djubair masih tetap berlanjut sampai sekarang. Salah satunya masuk sebagai Anggota Tim Peneliti dari IPB Bogor Tentang Penggunaan Kayu Indonesia sebagai rangka pesawat terbang 1992-1997 pimpinan Profesor Soerjono Surjokusumo.