Benci rokok karena perintah gereja

Rabu, 10 Januari 2018 07:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Desa Guaeria. ©2018 Merdeka.com/Anisyah

Merdeka.com - Deretan huruf 'Welcome to HalBar' berdiri kokoh di atas bukit Pulau Sauru, Desa Guaeria, Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara. Tingginya 12 meter. Memakai huruf timbul. Berwarna silver. Menjadi ikon bak tulisan 'HOLLYWOOD' di Pegunungan Santa Monica, California, Amerika.

Dari jarak 5 kilometer ucapan selamat datang itu sudah terlihat. Hasil karya pemerintah Maluku Utara. Menjadi penanda baru. Sekaligus menandakan Guaeria segera disulap menjadi destinasi wisata unggulan.

Pemilihan tulisan di Guaeria bukan tanpa alasan. Desa Guaeria merupakan gerbang utama memasuki kawasan Halmahera Barat (Halbar). Letaknya di barat daya ibukota Halbar, Jailolo. Dari atas bukit Guaeria pemandangan gugusan pulau di Maluku Utara terlihat menakjubkan.

Alasan lain karena di sana mempunyai keistimewaan. Tak cuma suguhan keindahan alam. Wilayah itu memiliki mempunyai aturan sekaligus menjadi ciri khas. Warga di sana dilarang merokok. Maka tak heran sebutan pulau tanpa asap rokok disandang desa ini.

Sejak tahun 2008, dewan Gereja Galfari Pentakosta menetapkan aturan larangan merokok dan mengonsumsi minuman keras bagi umatnya. Alasan utama faktor karena kesehatan. Sebab tak ada manfaat bagi kesehatan tubuh manusia. Untuk itu aturan itu dibuat. Aturan dari gereja cukup efektif. Apalagi seluruh warga di sana memeluk agama serupa.

Hadirnya aturan itu dirasakan betul tokoh masyarakat Desa Guaeria, Thomas Khirihio (75). Dirinya mengaku semula seorang perokok aktif. Sejak adanya larangan tersebut dia tak lagi. Termasuk meminum minuman keras.

Kondisinya kini berbalik. Dua hal kesukaannya itu ditinggalkan jauh. Bahkan sudah tak suka lagi. "Awalnya saya peminum dan pengisap (perokok) tapi begitu itu dilarang oleh pihak gereja saya tidak suka dan benci sampai saat ini," cerita Thomas ketika merdeka.com bertemu pada 30 Desember tahun lalu di Desa Guaeria.

Diakuinya mengubah kebiasaan merokok tidaklah mudah. Namun dewan gereja tak pernah bosan mengingatkan dan menganjurkan warga berhenti mengonsumsi rokok. Kini hampir 10 tahun larangan itu diberlakukan. Meski harus diakui belum 100 persen warga berhenti.

Bagi mereka masih kecanduan, biasanya memilih sembunyi-sembunyi. Biasanya mereka membakar rokok di tengah hutan. Bahkan sampai menyeberang ke luar pulau untuk bisa menikmati. Itu dilakukan agar tak dilihat anak-anak. Seperti diakui Joram (35) dan Alison (29).

"Torang (saya) kalau mau merokok harus sembunyi-sembunyi di rumah atau ke hutan dulu," ungkap Joram.

Meski tak ada aturan atau sanksi tertulis, namun mereka tak berani merokok secara terang-terangan. Joram mengaku baru merasa bebas merokok saat menangkap ikan di laut. Untuk mendapatkan rokok juga dia harus membeli di luar pulau. Biasanya mampir terlebih dahulu ke Jailolo atau pulau di mana tempatnya menangkap ikan.

Ada tiga tiga warung di Guaeria. Tak satu pun memajang bungkus rokok. Ada salah satu warung menjual rokok bahkan tak berani memajang di etalase dagangannya. Rokok itu dia simpan di tempat khusus. Baru akan memberinya bila ada orang bertanya diam-diam.

Desa Guaeria di Halmahera Barat 2018 Merdeka.com/Anisyah

Selain itu, biasanya warga paham bila ada perokok di desanya. Para pendatang. Sebab, tidak semuanya sudah mengenal Guaeria sebagai desa tanpa asap rokok. "Kalau ada yang merokok di sini pasti pendatang," kata Alfidrus (62), warga setempat lainnya.

Selain dikenal sebagai desa tanpa asap rokok, sekitar 500 jiwa warga Guaeria merupakan keturunan asli suku Papua. Padahal Guaeria merupakan desa berada di Maluku Utara. Kata Guaeria berarti kampung orang Irian. Mereka juga memiliki sejarah panjang.

Cerita bermula saat kakek ketua adat Guaeria Thomas datang ke Maluku tahun 1930. Dia bersama teman-temannya menyeberang dari Sorong ke Ternate menumpang kapal milik Belanda 'Van Noor Nederland'. Kedatangan kakek Thomas di tanah Maluku menjadi awal mula penduduk suku Irian bermigrasi ke Maluku Utara. Maka tak heran bila pulau itu juga dikenal Papua kecil di Halmahera.

Pertama kali sang kakek menginjakkan kakinya di Ternate, dia langsung jatuh cinta. Kabar keindahan alam Maluku pun dibawanya ke Irian bersama teman-temannya. Dia pun kembali ke Irian dengan menumpang kapal sama. Sekembalinya dari Ternate, kakek Thomas bersama rekan-rekannya membuat sebuah pertarungan. Mereka mengadakan pertarungan menyeberangi lautan menuju Maluku hanya menggunakan sampan. Hingga mereka terdampar di Guamadaha. Tepatnya di sisi selatan Pulau Sauru. Kehabisan perbekalan.

Mereka terpaksa tinggal selama beberapa waktu. Tanah subur dan hasil perikanan melimpah membuat kakek Thomas dan beberapa temannya memilih untuk tetap tinggal. Mereka akhirnya peradaban baru di Guaemadaha.

Pasca terjadinya tragedi 1965, semua orang Irian di seluruh Indonesia diminta kembali ke asalnya. Namun, Kakek Thomas menolak. Tak mau mengikuti instruksi. Dia dan keluarganya memilih untuk tinggal di Guaemadaha menjalani kehidupan meski ala kadar.

Selang beberapa tahun, sang kakek mulai sakit-sakitan. Kepada para anaknya dia meminta untuk kembali pulang ke Irian. Sebab dia tak ingin meninggal di kampung orang. "Tahun 68 Torang (saya) bikin perahu untuk satu keluarga lalu kita antar punya bapak ke Sorong untuk pulang ke Serui," kata Thomas kepada kami.

Benar saja, setahun kemudian sang kakek menghembuskan napas terakhir. Semenjak meninggalnya sang kakek, kehidupan keluarga sempat morat-marit. Apapun dimiliki terpaksa dijual untuk menyambung hidup di Serui. Hal ini pula membuat ayahnya Thomas berpikiran untuk kembali ke Guaemadaha. Sebab di sana mereka lahir dan dibesarkan. Tak sulit mendapatkan uang untuk makan.

Desa Guaeria di Halmahera Barat 2018 Merdeka.com/Anisyah

Tahun 1970, Thomas dan ayahnya kembali ke Guaemadaha. Tempat di mana dirinya lahir dan dibesarkan. Rupanya dia tak bisa jauh dari alam Maluku nan indah dan subur. Namun, hidup Thomas dan keluarga tak semulus sebelum kepergiannya ke Sorong. Sebuah bencana menimpa desa Guaemadaha. Gelombang air laut meratakan tempat tinggal mereka. Satu kampung rata dengan tanah tersapu tsunami.

Tak mau berputus asa, Thomas bersama warga lainnya memutuskan pindah ke sisi pulau lainnya. Mereka mencari tempat tinggal baru lebih aman dari ombak laut ketika pasang. Wilayah itulah kini mereka tinggal dan diberi nama Guaeria. "Jadi Guaeria itu artinya kampung orang Irian," ucap Thomas.

Kini Thomas satu-satunya saksi hidup terlibat dan memindahkan warga Desa Guaemadaha menjadi Guaeria. Sebab ayah Thomas dan teman-temannya telah tutup usia. Para imigran Papua ini menginspirasi Bupati Danny untuk menjadikan Desa Guaeria sebagai destinasi wisata. Apalagi semua warga di Guaeria bersuku asli Irian.

Tentu didukung dengan segala fasilitas. Pemerintah daerah juga berencana membuat rumah adat Honai-honai suku Dani di bukit Guaeria. Pembangunan itu nantinya akan difungsikan sebagai tempat singgah wisatawan di Bukit Guaeria. Terlebih bagi mereka yang ingin menikmati matahari terbenam di atas bukit. Lokasinya tak jauh dari tulisan penanda 'Welcome to HalBar'.

Berbeda dengan tempat wisata lainnya, jalan menuju Bukit Guaeria sengaja dibuat jalan setapak. Tak akan ada pembangunan infrastruktur untuk kendaraan bermotor. Danny juga ingin Guaeria menjadi desa tanpa kendaraan bermotor seperti saat ini. Warga hanya berjalan kaki di kampung. Dengan berjalan kaki warga bisa saling menyapa saat berpapasan dengan warga lainnya. Sehingga fokus Pemda Halbar pada penyediaan transportasi laut.

"Saya enggak mau buat jalan darat. Kita fokuskan saja dengan transportasi laut, ini yang akan jadi daya jual lainnya di desa Guaeria," ungkap Danny. Untuk aturan larangan merokok di Desa Guaeria, pihaknya juga berharap wisatawan menghormati prinsip tersebut.

[ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini