Operasi itu menjadi maha karya sang dokter.
37 tahun silam, Padmosantjojo mengambil keputusan besar untuk melakukan operasi pertama terhadap bayi kembar siam kelahiran Riau, Yuliana dan Yuliani. Momen itu jadi salah satu hal terpenting dalam hidupnya sebagai seorang dokter.
Advertisement
Profil
Padmosantjojo lahir di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pada 26 Februari 1938. Lulus dari SMA, ia menempuh pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Indonesia dan lulus tahun 1963. Pada tahun 1969, ia lulus pendidikan keahlian bedah saraf dari Universitas Groningen di Belanda.
Advertisement
Kelahiran Si Kembar
Pada 31 Juli 1987, Yuliana dan Yuliani, anak kembar dari pasangan
Tularji dan Hartini lahir di RS Tanjung Pinang, Riau.
Mereka lahir dengan kondisi kembar siam tempel kepala.
Mengutip berbagai sumber, saat itu pihak rumah sakit tidak memberi tahu kondisi bayi kepada sang ibu karena yang bersangkutan masih dalam tahap pemulihan usai melahirkan.
Perawatan bayi kembar siam itu diambil alih Padmosantjojo, dokter ahli bedah saraf di RS Cipto Mangunkusumo. Pada 21 Oktober 1987, ia memimpin 40 dokter lain untuk melakukan operasi pemisahan kepala bayi kembar siam.
Mengutip Instagram @mwv.mystic, operasi pemisahan kepala Ana dan Ani berlangsung selama 13 jam.
Advertisement
Tak Tarik Biaya Pasien
Menariknya, Padmosantjojo tidak menarik biaya sepeser pun kepada kedua orang tua sang bayi atas keberhasilan operasi pemisahan kepala yang ia lakukan bersama timnya. Padmo justru merogoh kocek sendiri melunasi biaya operasi di RS Cipto Mangunkusumo sebesar 42 juta.
Advertisement
Kebaikan Sang Dokter
Tak hanya melakukan operasi gratis, Padmo juga memboyong Ana dan Ani beserta kedua orang tuanya ke Jakarta. Ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga tersebut. Padmo ingin memastikan dua bayi masterpiece-nya itu tumbuh sehat.
Advertisement
Dokter Padmo membawa foto Ana dan Ani sebelum operasi pemisahan kepala dilakukan
Usai dipastikan kondisi Ana dan Ani sehat, kedua orang tuanya mengajak mereka pulang ke Riau. Meski demikian, komunikasi mereka dengan Padmo tetap terjalin intens.
Sesuai harapan Padmo, Ana dan Ani tumbuh sehat selayaknya bayi normal lain. Hubungan Padmo dengan keduanya bak paman dan keponakan. Ana dan Ani memanggil Padmo dengan sebutan pakde.
Kini, Ana tercatat sebagai ahli nutrisi lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB). Sementara Ani merupakan dokter lulusan Universitas Andalas.