Desa ini dikenal sebagai sentra beras organik
Desa Rowosari di Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember memiliki potensi pertanian yang dahsyat. Desa ini memiliki areal sawah, kebun durian, hingga perkebunan kopi.
Advertisement
Beras Organaik
Areal persawahan seluas 70 hektare di Desa Rowosari dapat menghasilkan beras organik 50-70 ton setiap 1 siklus produksi.
Pertanian organik ini digagas oleh Kelompok Tani Jaya II. Organisasi petani yang berdiri sejak tahun 1977 tersebut kini telah memiliki ratusan anggota.
Advertisement
Sentra Durian
Desa Rowosari juga salah satu sentra durian Sumberjambe yang terkenal. Durian ini terkenal karena rasa dan tekstur dagingnya. Durian Sumberjambe rata-rata memiliki rasa berbeda walaupun berasal dari kebun yang sama.
Advertisement
Air Terjun
Desa Rowosari juga memiliki tujuh air terjun yang terletak pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang sama. Rata-rata ketinggian air terjunnya yakni 50 meter.
Mengutip situs Politeknik Negeri Jember, tujuh air terjun pada tempat yang sama adalah nilai unik untuk pengembangan pariwisata. Air terjun tersebut juga merupakan sumber irigasi pertanian.
Tujuh air terjun di Desa Rowosari
berada di tengah-tengah kebun durian dengan pemandangan alam tebing curam yang menakjubkan.
Advertisement
Kebun Kopi
Desa Rowosari juga memiliki areal perkebunan kopi yang cukup luas.
Advertisement
Kesejahteraan Petani
Hingga tahun 2010, tingkat kesejahteraan warga di Desa Rowosari Jember masih terbilang rendah. Hal ini disebabkan karena mayoritas warga berprofesi sebagai buruh tani, sementara pemilik lahan hanya segelintir orang.
Seiring waktu, berkat berbagai pendampingan dari berbagai pihak, warga Desa Rowosari pun makin sejahtera karena hasil panennya berlimpah.
Salah satunya melalui kerja sama dengan mahasiswa Universitas Negeri Jember (Unej) yang menciptakan alat pembuatan pestisida organik ramah lingkungan.
Alat itu digunakan untuk memperbanyak nematoda entomopatogen dalam rangka membantu petani menciptakan pestisida organik yang aman dan ramah lingkungan.
"Menggunakan alat itu, setelah satu bulan penyemprotan hasil panennya menunjukkan bobot beras pada petak percobaan sebanyak 103 kilogram. Petak percobaan yang tidak diaplikasikan nematoda entomopatogen hanya berkisar 75 kilogram," ujar ketua tim pencipta alat pestisida organik, Deviana Fitria Astuti di Jember, Minggu (14/7/2024), dikutip dari Liputan6.com.
Advertisement