Depresi psikotik adalah subtipe dari depresi kronis. Kondisi ini merupakan gangguan mental parah yang ditandai dengan kombinasi gejala depresi mayor unipolar dan psikosis.
Beberapa orang yang mengalami depresi kronis biasanya akan mengalami halusinasi dan pemikiran delusi yang merupakan gejala psikosis.
Psikosis bisa berupa halusinasi (seperti mendengar suara-suara negatif), delusi (seperti perasaan tidak berharga yang intens, perasaan gagal, atau telah melakukan dosa) atau distorsi lain dengan kenyataan.
Depresi psikotik memengaruhi kira-kira satu dari setiap empat orang yang dirawat di rumah sakit karena depresi. Berikut penjelasan selengkapnya yang patut diketahui.
Advertisement
Mengenal Depresi Psikotik Lebih Jauh
Menurut National Institute of Mental Health, seseorang yang mengidap depresi psikotik umumnya kehilangan kontak dengan kenyataan.
Penderita psikosis mendengar "suara-suara" atau memiliki ide-ide yang aneh dan tidak logis. Misalnya, mereka berpikir bahwa ada orang lain yang dapat mendengar isi pikiran atau mencoba menyakiti mereka. Penderita depresi psikotik juga dapat berpikir bahwa mereka dirasuki setan atau dicari oleh polisi karena telah melakukan kejahatan yang sebenarnya tidak dilakukan.
Pasien depresi psikotik bisa marah tanpa alasan yang jelas. Mereka dapat menghabiskan banyak waktu menyendiri, tidur sepanjang siang hari dan tetap terjaga pada waktu malam. Seseorang dengan depresi psikotik biasanya juga mengabaikan penampilan, tidak mandi atau berganti pakaian.
Penderita depresi psikotik sulit diajak bicara, bahkan mereka bisa saja tidak mau berbicara sama sekali atau jikapun berbicara, mereka akan mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal. Pasien dengan penyakit mental lainnya, seperti skizofrenia, juga mengalami psikosis.
Bedanya, penderita depresi psikotik biasanya memiliki delusi atau halusinasi yang konsisten dengan tema tentang depresi (seperti ketidakberdayaan atau kegagalan), sedangkan gejala psikotik pada skizofrenia seringnya lebih aneh atau tidak masuk akal dan tidak memiliki hubungan yang jelas dengan keadaan suasana hati.
Orang dengan depresi psikotik juga mungkin merasa terhina atau malu dengan pemikirannya dan berusaha menyembunyikannya. Melakukan hal itu membuat depresi jenis ini sangat sulit untuk didiagnosis. Tetapi diagnosis adalah hal yang penting. Perawatannya berbeda dengan depresi nonpsikotik. Juga, memiliki satu episode depresi psikotik meningkatkan kemungkinan gangguan bipolar dengan episode berulang depresi psikotik, mania, dan bahkan bunuh diri.
Advertisement
Gejala dan Penyebab Depresi Psikotik
Dikutip dari Web MD, gejala umum depresi psikotik meliputi:
- Agitasi
- Kecemasan
- Sembelit
- Hipokondria
- Insomnia
- Gangguan intelektual
- Imobilitas fisik
- Delusi atau halusinasi
Biasanya, pengobatan untuk depresi psikotik diberikan di rumah sakit. Dengan begitu, pasien dipantau secara ketat oleh profesional kesehatan mental. Obat yang berbeda digunakan untuk menstabilkan suasana hati seseorang, biasanya termasuk kombinasi obat antidepresan dan antipsikotik.
Penyebab depresi psikotik sendiri hingga saat ini masih belum sepenuhnya dipahami. Diketahui bahwa tidak ada penyebab tunggal dari depresi dan kondisi ini memiliki banyak pemicu yang berbeda. Bagi beberapa pasien, peristiwa hidup yang penuh tekanan seperti kematian, perceraian, penyakit serius, atau kekhawatiran keuangan dapat menjadi penyebabnya.
Di beberapa lainnya, gen juga dapat berperan sebagai penyebab depresi karena depresi berat dapat terjadi dalam keluarga, meskipun belum diketahui juga mengapa beberapa orang mengembangkan psikosis sementara yang lainnya tidak. Banyak penderita depresi psikotik mengalami kesulitan di masa kanak-kanak, seperti peristiwa traumatis.
Advertisement
Perawatan Depresi Psikotik
Perawatan untuk depresi psikotik meliputi beberapa hal, di antaranya:
1. Obat-obatan
Kombinasi antipsikotik dan antidepresan dapat membantu meringankan gejala psikosis.
2. Terapi bicara
Terapi perilaku kognitif (CBT) atau terapi bicara one on one telah terbukti efektif dalam membantu beberapa orang dengan masalah depresi psikosis.
3. Dukungan sosial
Beri dukungan sosial pada penderita, seperti tetap memberikan akses ke pendidikan, pekerjaan atau akomodasi.
Pasien mungkin perlu tinggal di rumah sakit untuk sementara waktu saat mereka menerima perawatan. Terapi elektrokonvulsif (ECT) terkadang juga direkomendasikan jika pasien mengalami depresi berat dan perawatan lain, termasuk antidepresan, yang tidak berhasil.