Epilepsi adalah Gangguan Sistem Saraf, Ini Penjelasannya

Epilepsi adalah gangguan neurologis keempat yang paling umum di dunia. Epilepsi adalah kelainan otak yang menyebabkan kejang berulang tanpa sebab. Epilepsi adalah kondisi yang seringkali menetap alias terjadi seumur hidup, namun terkadang juga bisa membaik secara perlahan seiring berjalannya waktu. Ini penjelasannya.

Edelweis Lararenjana
Oleh Edelweis Lararenjana - Reporter
Epilepsi adalah Gangguan Sistem Saraf, Ini Penjelasannya
Ilustrasi dokter. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/wavebreakmedia

Epilepsi adalah gangguan neurologis keempat yang paling umum di dunia. Epilepsi adalah kelainan otak yang menyebabkan kejang berulang tanpa sebab. Kata "epilepsi" memiliki arti yang sama dengan "gangguan kejang" dan tidak menyatakan apapun tentang penyebab kejang seseorang atau tingkat keparahannya.

Kejang adalah semburan aktivitas listrik di otak yang untuk sementara memengaruhi cara kerjanya. Dan ini dapat menyebabkan berbagai gejala. Epilepsi dapat dimulai pada usia berapa pun, tetapi biasanya dimulai pada masa kanak-kanak atau pada orang di atas 60 tahun.

Epilepsi adalah kondisi yang seringkali menetap, alias terjadi seumur hidup, namun terkadang juga bisa membaik secara perlahan seiring berjalannya waktu. Berikut adalah penjelasan selengkapnya mengenai epilepsi yang patut untuk diketahui.

Mengenal Apa Itu Epilepsi

Mengutip WHO, epilepsi adalah penyakit kronis tidak menular pada otak yang mempengaruhi sekitar 50 juta orang di seluruh dunia. Kondisi ini ditandai dengan kejang berulang, yang merupakan episode singkat gerakan tak sadar yang melibatkan sebagian tubuh (khusus) atau seluruh tubuh (umum) dan terkadang disertai dengan hilangnya kesadaran dan kontrol fungsi usus atau kandung kemih.

Episode kejang adalah akibat pelepasan listrik yang berlebihan pada sekelompok sel otak. Bagian otak yang berbeda dapat menjadi tempat pembuangan tersebut. Kejang dapat bervariasi dari gangguan perhatian yang paling singkat atau sentakan otot hingga kejang yang parah dan berkepanjangan.

Kejang juga dapat bervariasi frekuensinya, dari kurang dari satu kali per tahun hingga beberapa kali per hari. Satu kejang tidak menandakan epilepsi (hingga 10% orang di seluruh dunia mengalami satu kali kejang selama hidup mereka). Epilepsi didefinisikan sebagai memiliki dua atau lebih kejang yang tidak beralasan.

Epilepsi adalah salah satu kondisi tertua yang diakui di dunia, dengan catatan tertulis sejak 4000 SM. Ketakutan, kesalahpahaman, diskriminasi, dan stigma sosial telah melingkupi epilepsi selama berabad-abad. Stigma ini berlanjut di banyak negara hingga saat ini dan dapat berdampak pada kualitas hidup penderita dan keluarganya.

Tanda dan Gejala Epilepsi

Karakteristik kejang bervariasi dan bergantung pada bagian otak mana gangguan tersebut pertama kali dimulai, dan seberapa jauh penyebarannya. Terjadi gejala sementara, seperti kehilangan kesadaran, gangguan gerak, sensasi (termasuk penglihatan, pendengaran dan pengecapan), suasana hati, atau fungsi kognitif lainnya.

Penderita epilepsi adalah cenderung memiliki lebih banyak masalah fisik (seperti patah tulang dan memar akibat cedera yang berhubungan dengan kejang), serta tingkat kondisi psikologis yang lebih tinggi, termasuk kecemasan dan depresi.

Demikian pula, risiko kematian dini pada penderita epilepsi hingga tiga kali lebih tinggi daripada populasi umum, dengan tingkat kematian dini tertinggi ditemukan di negara berpenghasilan rendah dan menengah dan di daerah pedesaan.

Sebagian besar penyebab kematian terkait epilepsi, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah, berpotensi dapat dicegah, seperti jatuh, tenggelam, luka bakar, dan kejang berkepanjangan.

Mengutip National Health Services UK, kejang dalam epilepsi dapat mempengaruhi penderitanya dengan cara yang berbeda, tergantung pada bagian otak mana yang terlibat. Gejala yang mungkin terjadi meliputi:

  • menyentak dan gemetar tak terkendali, disebut "fit"
  • kehilangan kesadaran dan menatap kosong ke angkasa
  • tubuh menjadi kaku
  • sensasi aneh, seperti perasaan "naik" di perut, bau atau rasa yang tidak biasa, dan perasaan kesemutan di lengan atau kaki
  • jatuh

Terkadang orang yang sedang mengalami serangan epilepsi menjadi pingsan dan tidak ingat apa yang terjadi.

Penyebab Epilepsi

Epilepsi adalah kondisi yang tidak memiliki penyebab yang dapat diidentifikasi pada sekitar separuh penderitanya. Di separuh lainnya, kondisi tersebut dapat ditelusuri ke berbagai faktor, termasuk:

Pengaruh genetik. Beberapa jenis epilepsi, yang dikategorikan berdasarkan jenis kejang yang dialami atau bagian otak yang terkena, diturunkan dalam keluarga. Dalam kasus ini, kemungkinan ada pengaruh genetik.

Para peneliti telah mengaitkan beberapa jenis epilepsi dengan gen tertentu, tetapi bagi kebanyakan orang, gen hanyalah sebagian dari penyebab epilepsi. Gen tertentu dapat membuat seseorang lebih sensitif terhadap kondisi lingkungan yang memicu kejang.

Trauma kepala. Trauma kepala akibat kecelakaan mobil atau cedera traumatis lainnya dapat menyebabkan epilepsi.

Kelainan otak. Kelainan di otak, termasuk tumor otak atau malformasi vaskular seperti malformasi arteriovenosa (AVMs) dan malformasi kavernosa, dapat menyebabkan epilepsi. Stroke adalah penyebab utama epilepsi pada orang dewasa yang lebih tua dari usia 35 tahun.

Infeksi. Meningitis, HIV, ensefalitis virus dan beberapa infeksi parasit dapat menyebabkan epilepsi.

Cedera sebelum melahirkan. Sebelum lahir, bayi sensitif terhadap kerusakan otak yang bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti infeksi pada ibu, gizi buruk, atau kekurangan oksigen. Kerusakan otak ini dapat mengakibatkan epilepsi atau cerebral palsy.

Gangguan perkembangan. Epilepsi terkadang dapat dikaitkan dengan gangguan perkembangan, seperti autisme.

Rekomendasi