Kampung Mandar terletak di wilayah pesisir Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dulu, mayoritas penduduk Kampung Mandar merupakan keturunan suku Bugis-Mandar yang berasal dari Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Seiring berjalannya waktu, Kampung Mandar juga mulai dihuni oleh suku Madura, Jawa, hingga etnis China.
Mayoritas masyarakat Kampung Mandar beragama Islam, namun di sisi lain mereka masih memegang erat tradisi warisan leluhur. Dikutip dari publikasi ilmiah Anastasia Yanuar Windiarni yang berjudul Makna Budaya Saulak pada Masyarakat Nelayan Bugis (2013), masyarakat Kampung Mandar menganggap para leluhur membantu kehidupan mereka, memberi limpahan rezeki dan perlindungan kepada anak cucunya. Salah satu tradisi warisan leluhur yang masih lestari hingga kini ialah Saulak.
Bagi masyarakat Kampung Mandar, Saulak memiliki makna kultural, sosial, dan ekonomi. Secara kultural, Saulak adalah bentuk penghormatan kepada arwah leluhur yang dinilai telah memberi perlindungan dan rezeki kepada anak cucunya. Dari sisi sosial, tradisi Saulak dapat mempererat tali persaudaraan.
Advertisement
Pelaksanaan Saulak
Tradisi Saulak dilakukan sebelum pasangan yang merupakan keturunan suku Mandar hendak melangsungkan pernikahan. Pemimpin upacara adat ini disebut Passili. Gelar Passili diperoleh secara turun-temurun.
Pada pelaksanaannya, keluarga calon mempelai akan membuat lingkan dan beberapa sesaji yang terdiri dari bunga tiga rupa, colok atau bambu yang dibalut kemiri dan minyak, tumpukan baju, serta tumpeng kecil dengan pisang yang diletakkan di nampan.
Ada beberapa jenis minyak yang digunakan untuk melengkapi sesaji dalam pelaksanaan tradisi Saulak. Dikutip dari laman Budaya Indonesia, minyak-minyak tersebut harus dibuat oleh perempuan yang sudah menopause.
Ritual adat Saulak dimulai dari calon pengantin perempuan. Saat keluarga mempelai sudah berkumpul membentuk formasi melingkar, mempelai perempuan diminta tidur telentang di tengah-tengahnya. Sebuah payung dibuka tepat di atas calon pengantin yang sudah telentang, serta sebuah tombak dipegang tepat di sebelah payung.
Passili kemudian membaca doa-doa dan memegang telur yang dilumuri minyak, lalu mengoleskannya ke beberapa bagian tubuh mempelai perempuan mulai dari dahi, belakang leher, tangan, perut dan kaki.
Tumpukan kain dan baju diletakkan di atas wajah sang pengantin, lalu dipegang secara bergantian oleh kerabat yang hadir dan duduk melingkar. Kegiatan ini dilakukan berulang sebanyak tiga kali putaran. Hal yang sama juga dilakukan pada bunga tiga rupa dan colok yang sudah dibakar.
Advertisement
Tumpeng Kecil
Tahap terakhir, tumpeng kecil dan pisang di nampan diletakkan di atas perut pengantin perempuan setelah diputar tiga kali. Passili kemudian mencoba mengangkat nampan, namun usaha ini bisa saja gagal.
Apabila hal itu terjadi, Passili meminta ayah kandung calon pengantin perempuan untuk menarik nampan dari atas perut putrinya. Jika usaha tersebut masih gagal, upaya mengambil nampan dari atas perut calon pengantin perempuan dilanjutkan dengan ibu kandung yang bersangkutan
Menurut keterangan Passili, ada beberapa syarat yang diajukan agar nampan bisa lepas dari atas perut calon mempelai seperti cincin atau benda-benda lain. Bahkan, ada cerita saat pelaksanaan Saulak, nampan baru berhasil diangkat dari atas perut mempelai dengan bantuan orang yang sedang lewat depan rumah, padahal mereka tidak saling kenal.
Selama pelaksanaan adat Saulak, akan ada seorang laki-laki yang memutar bagian bawah dua gelas hingga mengeluarkan bunyi-bunyian khas sebagai syarat agar upacara berjalan lancar. Setelah Saulak selesai dilakukan pada calon pengantin perempuan, prosesi dilanjutkan pada calon pengantin laki-laki dengan tahapan yang sama.
Saulak merupakan salah satu tradisi leluhur yang masih dilestarikan oleh keturunan Bugis-Mandar yang mendiami Kampung Mandar di Kabupaten Banyuwangi. Saat ini, ada sekitar 500 kepala keluarga Suku Mandar yang menyebar di wilayah Kabupaten Banyuwangi, mereka mayoritas tinggal di kawasan pesisir.