Kabar duka datang dari tokoh besar Indonesia, Arief Budiman atau Soe Hok Djin meninggal dunia pada Kamis (23/4). Soe Hok Djin merupakan kakak kandung dari aktivis Soe Hok Gie.
Bersama dengan adiknya, Arief Budiman juga dikenal sebagai seorang aktivis Indonesia angkatan '66. Selain dikenal sebagai sosok aktivis, Arief Budiman juga dikenal sebagai seorang sosiolog.
Arief pernah mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia, juga dikenal dengan pola pikir yang kritis. Mengenang kepergiannya, berikut beberapa fakta seputar Arief Budiman yang juga seorang tokoh besar.
Advertisement
Tokoh Besar di Bidang Pendidikan
Arief Budiman diketahui pernah mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia Fakultas Psikologi. Dirinya menyelesaikan studi di UI pada tahun 1968. Sebelumnya, dirinya pernah memperdalam ilmu tentang pendidikan di College d'Europe, Brugge, Belgia pada tahun 1964.
Setelah selesai dari UI, pada tahun 1972 dirinya melanjutkan studi di Paris. Gelar Ph.D diraihnya pada tahun 1980 dari universitas Harvard jurusan sosiologi. Kemudian Arief Budiman mengajar di UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana) dari tahun 1985-1995.
Advertisement
Aktivis Politik Pencetus Golput
Pada pemilihan umum 1973, Arief Budiman dan kawan-kawan mencetuskan Golput sebagai tandingan Golkar. Hal tersebut didasari pada konflik di mana Golkar dirasa telah membelokkan cita-cita Orde Baru tentang pemerintahan demokratis.
Sebelumnya pada tahun 1963, Arief Budiman turut ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan (MANIKEBU). Ia menentang aktivitas LEKRA yang terlalu memenjara kreativitas seniman.
Advertisement
Pernah Terjun di Dunia Jurnalis dan Sastra
Riwayat hidup seorang Arif Budiman sangat mengagumkan. Dirinya sempat tercatat masuk sebagai anggota Badan Sensor Film, redaksi Majalah Horison, juga anggota Dewan Kesenian Jakarta.
Dalam dunia sastra, Arief Budiman dianggap sebagai tokoh Metode Ganzheit dan tokoh besar dalam perdebatan sastra konstekstual.