Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengunjungi Desa Jatisari di Pasuruan, Banyak Pohon Alpukat di Pekarangan Rumah Warga

Mengunjungi Desa Jatisari di Pasuruan, Banyak Pohon Alpukat di Pekarangan Rumah Warga Ilustrasi alpukat. ©2019 Merdeka.com/Pixabay

Merdeka.com - Desa Jatisari di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur punya keunikan tersendiri. Pohon alpukat dan durian berjajar di pekarangan rumah warga yang terletak di desa setinggi 600 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu.

Dikutip dari liputan6.com, pohon alpukat tumbuh di kiri-kanan jalan, di pekarangan rumah dan kebun milik penduduk. Di halaman depan rumah, bibit tanaman tinggi protein ini tertata rapi di polybag-polybag.

Alpukat Melimpah

013 tantri setyorini

©2019 Merdeka.com/Pixabay

Warga Desa Jatisari membudidayakan setidaknya lima jenis alpukat, yakni alpukat Arjuna, Pameling, Aligator, Florida dan Markus. Dua jenis lain yang sedang dikembangkan yakni Arjuna Mentega dan Columbus. Hasil dari perkebunan alpukat di desa ini sangat melimpah.

Satu pohon mampu menghasilkan alpukat hingga 1,5 kuintal. Satu buah alpukat bisa mencapai berat 1 kg sampai 1,5 kilogram. Bahkan pada puncak masa panen antara bulan Februari sampai April, alpukat yang dihasilkan bisa lebih dari 200 ton.

Budidaya Meluas

alpukat pameling

©2020 Merdeka.com

Hasil panen biasanya dikirim ke Pasar Purwodadi, Pasuruan dan ke Pasar Lawang, Kabupaten Malang. Para pengepul juga sering datang untuk mengambil langsung. Mereka membelinya dengan sistem borongan alias menebas.

M Ilyas, seorang petani alpukat di Dusun Andongbang, Desa Jatisari, Pasuruan, menceritakan bahwasanya budidaya buah alpukat semakin meluas. Ada 10 ribu bibita baru yang disebar kepada warga.

“Banyak yang mulai menanam bibit di kebun dan halaman rumah mereka,” terang Ilyas pertengahan April 2019 lalu.

Desa Agro Alpukat

budidaya alpukat di pasuruan

©2020 Merdeka.com/liputan6.com

Kebun milik Ilyas menjadi salah satu pusat pembibitan alpukat di desa ini. Ilyas menanam ribuan bibit di kebun miliknya.

Ia juga menawarkan pendampingan kepada masyarakat yang ingin belajar membudidayakan alpukat. Desa Jatisari diharapkan bisa menjadi desa agro alpukat.

Selain itu, kebun milik Ilyas juga terbuka bagi pengunjung umum. Wisawatan yang ingin menikmati segarnya udara di lereng Gunung Arjuna sembari berkebun alpukat bisa datang ke sini. Jika ingin menginap, rumah-rumah penduduk juga terbuka lebar melayani jasa penginapan bagi wisatawan.

Selain wisata kebun alpukat, warga desa juga mengolah alpukat menjadi berbagai produk olahan. Mulai dari es krim hingga pudding alpukat.

Pernah Dipandang Sebelah Mata

budidaya alpukat di pasuruan

©2020 Merdeka.com/liputan6.com

Keinginan warga desa menjadikan desa mereka sebagai pusat wisata alpukat muncul sekitar tahun 2018. Sebelumnya, buah itu kerap dipandang sebelah mata. Lantaran harga jual yang sering tidak menguntungkan. Pada musim masa panen harga alpukat bisa sangat murah.

Tak jarang para petani membiarkan alpukat tetap di pohon meski sudah masuk masa petik. Di masa panen dahulu, satu pohon shanya menghasilkan sekitar 50 kilogram alpukat. Paling mahal hasil dari satu pohon alpukat itu dihargai Rp500 ribu oleh pengepul.

Sedangkan sekarang ini, produktivitas alpukat lebih melimpah. Serta diimbangi dengan harga jual yang naik daripada tahun-tahun sebelumnya.

Para warga desa telah belajar membudidayakan alpukat dari ahli pertanian. Mereka mengubah pola tanam. Sekarang ini dari tiga cabang, akan diambil satu untuk disetek dan dijadikan bibit. Bibit itu kemudian bisa ditanam sendiri atau juga dijual ke luar daerah.

Kelebihan Alpukat

ilustrasi alpukat

©Pexels

Abdul Rosyid, petani alpukat di Dusun Penjalinan, Desa Jatisari menjelaskan bahwasanya pohon alpukat memiliki banyak kelebihan. Misalnya tidak mengenal usia pohon. Selain itu, perawatannya juga tidak rumit.

Meski sudah berusia tua, pohon akan tetap berbuah. Oleh karena itu, meskipun telah melewati masa panen, buahnya tetap ada.

Warga desa Jatisari berharap pohon alpukat ini tidak hanya bisa dimanfaatkan buahnya. Misalnya dengan dijadikannya desa tersebut sebagai agrowisata. Banyaknya wisatawan yang berkunjung diharapkan memberi dampak langsung bagi masyarakat setempat.

(mdk/rka)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP