Dalang Harus Perempuan, Begini Sejarah Kentrung Bate Dulu untuk Dakwah Islam Kini Jadi Hiburan Warga Tuban

Pertunjukan kesenian ini biasanya digelar pada hari-hari besar

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Dalang Harus Perempuan, Begini Sejarah Kentrung Bate Dulu untuk Dakwah Islam Kini Jadi Hiburan Warga Tuban
Kesenian Kentrung Bate Tuban (© 2024 merdeka.com/Kemdikbur RI dan Omah Kreatif Arturah)
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kentrung Bate adalah seni pertunjukan yang lahir di Desa Bate, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Kesenian ini lahir dari sejarah panjang. Dulunya bertujuan untuk media penyebaran Islam.

Mengenal Kentrung

Kata Kentrung berasal dari  kata “ngre’ken” yang berarti “menghitung” dan ngantung yang artinya “berangan-angan”. Secara harfiah, kata Kentrung berarti mengatur atau menghitung jalannya peristiwa dengan berangan-angan.

Mengutip situs Kemendikbud RI, kentrung adalah seni bercerita yang menggunakan instrumen Rebana dan Kentrung. Fungsi dalang dalam kesenian kentrung yakni menceritakan tokoh-tokoh tanpa menggunakan boneka atau wayang. Oleh karena itu,  dalang harus pandai mengutak-atik cerita yang disajikan agar penonton bisa memahaminya.

Sejarah

Sejarah
Dok. Istimewa

Mengutip Instagram tuban_bercerita, Kentrung Bate dipopulerkan oleh Kiai Basiman, salah satu tokoh agama di Desa Bate pada masa kolonialisme Belanda sekitar tahun 1930-an.

Mengutip situs eprints.uny.ac.id, pemain Kentrung Bate pertama adalah Basiman yang mengajarkan kepada adiknya, Dasilah. Pemain Kentrung Bate saat itu yakni Basiman, Dasilah, dan Sukilah.

Setelah Basiman meninggal sekitar tahun 1900, kelompok Kentrung Bate vakum. Setahun kemudian, pemain kentrung asal Bojonegoro bernama Somo Wage menikah dengan penduduk Desa Bate bernama Tasmi yang merupakan saudaranya Sukilah. Berkat pernikahan ini, Kentrung Bate kembali eksis. Kelompok Kentrung Bate generasi kedua terdiri dari Somo Wage, Tasmi, dan Sukilah.

Tujuan

Kesenian Kentrung Bate awalnya diciptakan untuk menyebarkan agama Islam. Selain itu, kesenian ini juga digunakan untuk menyindir kolonialisme penjajah yang selalu bertindak sewenang-wenang. Seiring berjalannya waktu, kesenian Kentrung Bate menjadi hiburan bagi masyarakat.

Keunikan

Keunikan
Dok. Istimewa

Keunikan Kentrung Bate yakni dalangnya harus perempuan. Kelompok Kentrung Bate biasanya terdiri dari tiga hingga empat orang. Semua pemain berperan menjadi panjak (pemain musik), tetapi ada satu orang yang berperan ganda yakni sebagai panjak dan dalang (pencerita).

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Alat musik yang digunakan dalam pertunjukan ini berupa tabuh timplung (kentheng) dan rebana. Pertunjukan kesenian Kentrung Bate ini kental dengan nuansa islami khas Bumi Wali Tuban.

Pertunjukan

Kesenian Kentrung Bate biasanya ditampilkan dalam acara-acara besar. Seperti pernikahan, peringatan hari kemerdekaan, hingga acara adat desa. Adapun tema pementasan Kentrung Bate bervariasi. Mayoritas mengangkat tentang hikayat, sirah nabawiyah, kisah rasul, para wali, sahabat, dan tokoh Islam tersohor. Banyak pelajaran tasawuf yang bisa dipetik seperti kesempurnaan hidup, purwaning dumadi, dan sangkan paraning dumadi.

Sejak tahun 2016, Kentrung Bate telah teregistrasi dengan nomor 2016006733 pada Domain Seni Pertunjukan.

Rekomendasi