Ahmad Fikri Arify Zaman (24), pemuda kelahiran Kediri, Jawa Timur, memulai bisnisnya pada usia 15 tahun. Ia bahkan pernah tidak naik kelas karena terlalu fokus membangun bisnis.
Advertisement
Setelah bisnis jual beli motor bekasnya sepi pembeli, Fikri kenal dengan seseorang yang belakangan ia ketahui menjalankan bisnis MLM. Ia menggadaikan laptop barunya usai terpesona dengan iming-iming agen MLM. Ia bahkan sempat tidak naik kelas gara-gara sibuk mencari rekanan bisnis.
Awalnya dijanjikan sukses, Fikri justru harus mengganti uang jutaan rupiah kepada rekan-rekan yang direkrutnya.
Tak lama setelah tertipu bisnis MLM, Fikri kembali tertipu bisnis money game lokal. Hal ini membuat dia menanggung utang hingga ratusan juta rupiah.
"Seminggu setelah saya kolaps, orang tua cerai dan saya diputuskan pacar," ujar Fikri, dikutip dari YouTube PecahTelur.
Advertisement
Fikri mulai bangkit setelah mengenal seseorang yang memiliki produk berupa olahan jamur. Ia menjual aneka camilan jamur secara online.
"Akhirnya usia 19 tahun saya sudah enggak punya hutang," ujar Fikri, dikutip dari YouTube PecahTelur.
Seiring waktu, Fikri kembali tertipu hingga Rp350 juta saat diajak temannya memulai bisnis konveksi. Pengalaman tertipu beberapa kali membuat Fikri kini lebih hati-hati memilih partner bisnis.
Advertisement
Usai tertipu Rp350 juta, Fikri lebih rajin ibadah. Ia melakukan ibadah wajib maupun sunah. Ia juga gemar membantu setiap orang yang kesulitan di sekitarnya.
Tak hanya beribadah, Fikri juga bekerja sebagai kurir pada bisnis kakaknya. Mengetahui bisnis sang kakak menguntungkan, Fikri menyampaikan niatnya ingin membangun bisnis sendiri.
Sang kakak mendukung penuh bahkan siap menyuntikkan modal untuk usaha baru Fikri.
"Saya pengen punya pabrik dikasih (oleh Tuhan), pengen punya gudang dikasih (oleh Tuhan)," terang pria yang menikah di usia muda ini, dikutip dari YouTube PecahTelur.
Bisnis Fikri terbilang sangat maju sebelum menikah. Namun, mendekati hari pernikahan, bisnisnya justru merugi. Karyawan bidang pemasaran yang awalnya berjumlah 45 orang, tersisa 15 orang. Penjualan produk yang ia pasarkan secara online juga menurun drastis, bahkan sampai minus.
Advertisement
Sebelum berhasil menikahi sang istri, Fikri pernah ditolak tujuh perempuan. Mereka menolak menikah dengan Fikri karena yang bersangkutan memiliki utang cukup banyak.
Advertisement