Usaha Kain Perca di Semarang Berhasil Tembus Pasar Belanda, Ini Rahasia di Baliknya
Merdeka.com - Lyna Windiarti telah merintis usaha kerajinan berbahan kain perca sejak tahun 2019. Awalnya, ia merupakan penjahit pakaian wanita. Saat itu ia rajin mengumpulkan sisa kain perca hingga suatu hari muncul ide untuk mengolahnya kembali.
“Percanya saya simpan, saya kumpulkan, akhirnya saya olah lagi menjadi produk seperti home decor atau home textile, yaitu sarung bantal, taplak meja, bed cover, sama cover sofa. Itu awal mula saya usaha kerajinan perca,” kata Lyna.
Kini, pasar kerajinan percanya menembus hingga ke negeri Belanda. Hal ini tak lepas dari peran Pemprov Jateng yang melakukan pendampingan. Berikut selengkapnya:
Diberi Pelatihan

©jatengprov.go.id
Pada waktu awal usaha, Lyna hanya menjual hasil kerajinan kain percanya pada lingkup pertemanan. Ia kemudian mendapat pembinaan dari Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jateng. Sejak saat itu usahanya makin berkembang dan maju.
Pelatihan yang diperoleh Lyna cukup beragam. Mulai dari pelatihan HAKI, pelatihan manajemen, kemudian pelatihan public speaking. Dari sana usaha miliknya mulai merambah pasar nasional hingga mancanegara.
“Pada awalnya Instagramnya kruang bagus dan kurang rapi. Kini makin rapi dan follower-nya tambah banyak. Orderan mulai banyak. Saya juga memanfaatkan fasilitas seperti pameran gitu. Penjualannya sekarang sudah ke Pulau Sumatra, Kalimantan, dan juga ada yang dibawa ke Belanda,” kata Lyna, mengutip dari Jatengprov.go.id pada Kamis (13/10).
Harapan ke Depan

©jatengprov.go.id
Selain itu, pelatihan yang diberikan menjadikan Lyna mempunyai kemampuan public speaking yang bagus. Kemampuan itu sangat mendukung proses kurasi yang dijalani untuk menilai kualitas produknya. Ke depan, ia berharap usahanya bisa menjadi lapangan kerja bagi masyarakat.
“Semoga bisa menjadi lapangan pekerjaan. Untuk harga produk mulai dari Rp75 ribu sampai Rp3,5 juta,” kata Lyna.
Komitmen Ganjar Pranowo

©jatengprov.go.id
Dalam kesempatan lain, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menyatakan berkomitmen untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi khususnya sektor UMKM. Tak hanya bantuan dana dengan bekerja sama dengan Bank Jateng, Ganjar juga mengajak seluruh bupati dan wali kota untuk menjadi offtaker produk-produk UMKM. Jika ada kegiatan, belanja bisa dilakukan pada pelaku usaha kecil di daerahnya masing-masing.
“Sudah ada aturannya, 40 persen dari APBD digunakan untuk pengembangan UMKM. Maka kalau ada acara, belilah di UMKM. Apakah itu makanan kecil, baju, ATK, atau yang lainnya,” kata Ganjar.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya